Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
³⁰UFB


__ADS_3

Langit gelap gulita yang di taburi bintang-bintang tampak jelas memberikan keindahan yang hakiki. Lukisan alam yang diciptakan sang Maha Kuasa dengan begitu indah dan teliti. Di bawah taburan bintang-bintang tersebut, seorang pemuda tengah duduk di atas jembatan kayu. Ditemani gitar kesayangannya, plus dengan semilir angin malam dan bunyi-bunyian yang tercipta dari gesekan ranting pohon. Tempat ini adalah spot yang selalu berhasil memberinya ketenangan.


Tempat ini terletak di belakang markas geng SPHINIX. Tempat yang sama saat ia membawa gadisnya. Bedanya, kala itu ia tengah diselimuti emosi yang membumbung tinggi. Bedanya, ia emosi karena rasa marah, sedangkan sang gadis emosional karena telah disakiti jiwa dan raga.


Sambil diiringi petikan senar gitar, ia menatap pemandangan indah yang tersaji jauh di atas tempatnya duduk. Di ketinggian yang tak terjangkau oleh manusia. Manik legamnya bergulir, mencari bintang dengan sinar paling terang. Bintang yang selalu ia analogikan sebagai keberadaan orang terkasihnya yang sudah kembali ke pangkuan Ilahi Rabbi.


Mereka yang telah meninggalkan bumi, tak pernah sepenuhnya pergi. Kenangan mereka akan selalu terpatri di hati. Begitu pula dengan orang-orang yang Arganta Natadisastra sayangi. Mereka tidak pergi, apalagi menghilang. Mereka hanya berpindah ke tempat yang lebih abadi ketimbang bumi.


Walaupun merasa sepi, Arga tak pernah sepenuhnya sendiri. Ia sering pergi ke tempat peristirahatan sang ibu, guna menghibur diri sendiri. Karena hanya dengan cara itu ia merasa dekat dengan wanita yang menempati tempat spesial di hati.


Jemari lentik yang tengah memetik senar itu terhenti ketika melihat sebuah bintang yang cahayanya bersinar begitu cantik. Memang tidak terlalu terang seperti yang lain, namun tampak berbeda dan menarik. Saat melihatnya lebih seksama, Arga mengingat satu nama. Nama yang sekelebat muncul di kepala. Nama yang belakangan terngiang-ngiang dalam benak. Aleanska Nara.


Dengan segera ia menyimpan gitar di pangkuan. Merogoh saku celananya, mencari benda pipih yang disimpan di dalam sana. Ketemu. Benda yang tadinya mati itu langsung dihidupkan, Arga memang sempat kehilangan benda itu siang tadi, namun Iki mengatakan jika benda itu sempat tertinggal di cafe yang siang tadi ia kunjungi. Alexa lah yang menemukan dan mengembalikannya lewat seorang supir.


Tangganya dengan cepat berselancar di atas layar touchscreen, membuka aplikasi pesan singkat, dan ia menemukan apa yang dicari. Satu nama yang disematkan paling atas dengan nama kontak 'Mine'.


Ketika berhasil membuka room chat diantara mereka, Arga tampak menautkan kening melihat beberapa fitur canggih yang terdapat di sana. Ia harus apa? mengirim pesan singkat via teks? via voice note? menghubungi via telepon? atau menghubungi via video call?


"Telepon?" pikirnya.


Arga sempat bergulat dengan pikirannya sendiri untuk beberapa saat. Namun, pada akhirnya ia malah mengirimkan short message service atau SMS. SMS pertama berhasil dikirim dengan lancar, walaupun isinya hanya sekelumit teks yang disingkat-singkat. Ia pun memilih untuk diam sejenak, menunggu pesan balasan. Akan tetapi, setelah beberapa saat menunggu, belum tanda-tanda balasan pula


Seolah belum kehabisan kesabaran, Arga kembali typing setelah lima menit berlalu. Menuliskan sekelumit pesan singkat, namun kali ini dikirimkan via whatsapp.


Bsk gw jmpt, jgn lp!!


Sayangnya pesan tersebut sudah terkirim, namun hanya ada centang satu. Itu berarti si penerima pesan sedang tidak menggunakan data internet, alias tidak sedang online.


Bosan menunggu, Arga akhirnya menyimpan benda itu lagi ke dalam saku. Toh, besok tanpa pesan singkat, ataupun telpon, ia tetap akan datang menjemput gadis itu untuk berangkat sekolah bersama.


🫐🫐


"Ngapain lo di sini!"


Namun naas, rencana yang semalam sudah Arga siapkan matang-matang harus sirna karena kehadiran satu sosok yang membuat mood nya memburuk seketika. Sosok yang tengah duduk di samping motor CBR250RR miliknya itu langsung tersenyum cerah menyambut kemunculan Arga


"Aku mau berangkat sekolah sama kamu."


"Lo punya supir pribadi," ujar Arga datar.


Pagi-pagi begini sudah ada pengganggu yang merusak suasana damai di markas.


"Aku suruh libur, soalnya kucing American short hair aku mau melahirkan. Dia ganti pekerjaan, jagain kucing aku."


Arga tidak merespon kalimat paling tidak bermutu yang baru saja ia dengar. Ia lebih memilih mengeluarkan kunci motor, lantas menyalakan mesin motor CBR250RR miliknya. Dipanaskan sebelum digunakan untuk berkendara.


"Ta, aku ikut kamu, ya?" pinta Alexa. Ya, gadis itu memang Alexandria Natadisastra.


Arga masih memilih bungkam, menyibukkan diri dengan motornya.

__ADS_1


"Ta, kamu 'kan tahu kalau aku maunya berangkat sama kamu. Lagipula apa salahnya sih berangkat sekolah sama adik sendiri?"


Arga tersenyum remeh mendengarnya. "Adik?" ia lantas berbalik, menatap sang lawan bicara. "Kita memang lahir dari bokap yang sama, tapi bukan berarti gue terima Lo sebagai adik gue."


"Ta, aku janji bakal...."


Kalimat Alexa tidak selesai terucap, karena sudah didahului oleh suara lantang milik seseorang.


"Eh, Mak lampir. Pagi-pagi udah stay di sini aja."


"Apaan sih lo, nggak usah sok kenal sama gue," sewot Alexa seraya mengibaskan rambut.


"Eh cewek barbar, siapa juga yang nggak kenal lo berkat titel Natadisastra di belakang nama lo."


Alexa mendengus sebal mendengar ucapan Iki. "Jag bicara lo. Jangan sampai gue beli bibir lo yang nggak tahu attitude itu!"


Iki kicep mendengar ucapan Alexa. "Kayak iya bisa beli bibir gue," ujar Iki kemudian. "Lo 'kan nggak punya apa-apa, kalau bukan duit bokap nya Arga."


Alexa menggeram marah. Apa yang Iki katakan tidak sepenuhnya salah. Toh, ia memang hanya punya uang dari ayahnya.


"Ta, mending lo sarapan dulu. Genta masak nasi goreng sama telor mata sapi," ucap Iki kemudian. "Menghadapi cewek kayak dia butuh tenang extra," tambahnya.


Alexa yang mendengar itu hanya mencibir seraya melipat kedua tangan di dada.


"Anak-anak yang lain udah sarapan?"


Iki mengangguk. "Udah, Libra malah otw porsi kedua."


"Elah, sensitif kali telinga," komentar Iki. Ia lantas menoleh lagi pada Alexa. "Lo ngapain sih sebenarnya? pagi-pagi udah di sini. Maaf nih, gue nggak nawarin lo sarapan, karena menu sarapan kita nggak bakal cocok sama lidah lo."


Alexa berdecak. "Terserah. And the, nggak usah kepo kenapa gue udah ada di sini sejak pagi."


"Keheula poho nanti dulu, lupa), gitu maksud lo?".


Alexa benar-benar diuji kesabarannya oleh Iki. Laki-laki itu bisa saja membuat moodnya berantakan. Padahal ia sudah semangat sekali datang ke sini pagi-pagi sekali untuk berjumpa dengan Arga.


"Ta, aku ikut kamu ke sekolah," pinta Alexa gencar. Arga yang baru saja selesai sarapan sudah bersiap untuk berangkat sekolah.


"Nggak usah manja," respon Arga.


"Ta, please! kali ini aja."


Arga masih menyibukkan diri dengan menaiki motor CBR250RR miliknya.


"Huh pemaksaan, udah tau Arfa punya cewek, mana mau dia nganterin lo," komentar Iki yang sudah duduk di motornya sendiri.


"Apaan sih lo?" Kesal Alexa sambil menghentak-hentakkan kakinya, kesal. Orang paling resek di geng SPHINIX menurut Alexa bukanlah Arga, melainkan teman-temannya. Apalagi Aries Iki. Si cerewet.


"Lo mau tetep disini? Gue mau pergi."

__ADS_1


Alexa langsung menoleh saat mendengar suara Arga. Laki-laki itu ternyata sekarang sudah menggunakan helm full face miliknya.


"Ikuttt!" seru Alexa seraya buru-buru mendekati Arga.


Dari dalam markas SPHINIX, ada beberapa anak yang tengah sarapan nasi goreng plus telor mata sapi buatan Genta sambil menyaksikan pertunjukan yang diciptakan oleh sepasang kakak-beradik tersebut.


"Punya adek rasa pacar kek Alexa gitu, enak kali ya?" celetuk salah satu di antara mereka. "Udah cantik, tajir melintir, most wanted, body aduhai, bucin gile lagi."


"Tapi eh tapi, itu nggak berlaku buat Arga. Lihat aja, mereka nggak akan sama sekali," sahut yang lain.


"Kalau gue jadi Arga,  gue juga bakal lakuin hal yang sama," celetuk Libra yang baru saja beranjak.


"He'em, gue juga," timpal Iki. "Masih banyak stok cewek di bumi yang lebih better dari Alexa," lanjut Iki sambil mengunyah nasi gorengnya.


"Alexa juga kayak mengidap sister complex. Ditambah lagi fakta bahwa Alexa itu anak dari wanita yang udah merenggut kehidupan ibunya Arga," gumam Iki kecil sambil mengunyah.


"Hah, lo bilang apa barusan, Ki?"


Iki menggelengkan brutal. "Bukan apa-apa, Njing. Ngawur gue, gara-gara semalam nonton Naruto di-nerf di Boruto Next Generation," dalih Iki.


"Lo bo'ong, ya?"


"Enggak, anj*r. Serah deh kalau nggak percaya, gue mau otw ke sekolah." berhasil menandaskan sarapannya, Iki langsung bergegas menyusul Libra yang sudah berlalu.


'Gile, bibir gue bacot banget anj*r!' batin Iki, merutuki kebodohannya.


🫐🫐


Kedatangan Arga dan Alexa berhasil menciptakan kehebohan tersendiri pagi itu. Banyak yang memuji mereka sebagai sibling goals saking un-real nya mereka berdua. Alexa yang datang dibonceng Arga tentu menjadi buah bibir kembali, karena sudah cukup lama mereka tidak terlihat bersama. Yang ada hanya Arga yang belakangan dekat dengan Nara.


Kedatangan Arga bersama Alexa juga tidak luput dari pandangan seorang pria paruh baya yang tengah menyapu dedaunan kering dekat area parkiran. Dari balik topi khas nelayan lurus yang dikenakan, ia memperhatikan dengan seksama. Keduanya berlalu begitu saja setelah tiba di area sekolah. Bahkan pemuda yang kedapatan mengantar-jemput putrinya beberapa kali itu, sama sekali tidak sadar ada yang tertinggal.


Pria paruh baya yang tengah menyapu itu lantas beralih, menatap gerbang SMA Angkasa yang masih terbuka. Dalam hati ia berdoa agar putrinya dapat melewati gerbang tersebut sebelum ditutup.


Namun, sayang sekali. Harapannya tidak menjadi kenyataan, karena sampai detik-detik terakhir, putrinya tak kunjung muncul di depan sana.


"Ayah dan anak benar-benar memiliki kepribadian yang sama," gumam Andra. "Apa dia juga ingin menghancurkan hidup putriku?"


...****...


...TBC...


Semoga suka 😘


Jangan lupa komentarnya 🥰🥰


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇


__ADS_1


Tanggerang 24-11-22


__ADS_2