
Satu Minggu telah berlalu semenjak kecelakaan naas yang menimpa Nara serta ayahnya. Satu Minggu pula Utama dan Sussanne mendekam di penjara. Selama kurun waktu tersebut, baik Utama maupun Sussanne sudah meminta anak-anak mereka untuk datang menjenguk. Pesan itu dititipkan pada kuasa hukum masing-masing. Namun, baik Arga, Alex, maupun Alexa, tidak ada yang berniat untuk memenuhi panggilan tersebut.
"Lo masih belum kenyang tidur hm?" ucapan lirih itu datang dari laki-laki berseragam SMA Angkasa yang duduk di sebelah kanan hospital bed.
Sorot mata hitamnya terlihat lelah saat menatap sang kekasih yang masih terbaring tidak berdaya. Bahkan satu Minggu ini tidak ada perkembangan yang signifikan. Semua masih sama seperti hari pertama ia dinyatakan koma.
"Kalau lo masih ngantuk dan butuh tidur, silahkan. Gue nggak akan maksa. Tapi, tolong jangan lupa untuk bangun."
Tidak apa jika harus menunggu berhari-hari lamanya, asalkan ada jaminan bahwa kekasihnya itu akan bangun suatu saat nanti. Ia ingin sebuah keajaiban yang mengantarkan pada wujud dari sebuah harapan.
Harapan dapat kembali melihat kekasihnya bangun, dan bercengkrama seperti biasa. Walaupun sudah ada kepahitan lain yang menunggu. Kekasihnya tak perlu ragu, ada banyak orang yang sayang kepadanya. Mereka semua siap untuk bahu-membahu meringankan kesedihannya.
Setelah hampir satu Minggu absen sekolah, akhirnya Arga kembali menjejakkan kaki di SMA Angkasa. Hal pertama yang ia temukan adalah tatapan iba dari beberapa siswa. Ada pula yang terang-terangan menggosipkan kehidupan keluarganya. Namun, Arga memilih acuh tak acuh. Langkah dibuat tak peduli kanan kiri, yang penting ia segera sampai di kelas.
Ternyata sebelum kedatangannya, Alexander sudah terlebih dulu mengantarkan Alexa. Sudah hampir lima hari gadis itu tinggal di tempat usahanya. Kendati demikian, Arga menarik diri semenjak kehadirannya. Ia tahu perkataan Orion ada benarnya jika Alexander dan Alexa tidak sepenuhnya bersalah. Namun, Arga kecewa pada gadis itu, karena ia yang telah merencanakan penculikan kekasihnya. Jika ia bersama anak-anak lain telat sebentar saja, entah bagaimana jadinya.
Walaupun begitu, tak menutup kemungkinan jika suatu saat Nanti Arga akan bisa memaafkan nya. Mengingat mereka tetaplah saudara sedarah, walaupun lahir dari ayah yang berbeda.
"Wah, masih punya muka lo sekolah di sini?"
Satu sindiran berhasil menarik perhatian Arga ketika hendak berbelok di tikungan lorong koridor. Kelas IPA dan IPS bersebrangan. Jadi, ia harus belok dan melewati lorong kelas IPA jika tidak mau memutar.
"Ck. Lihat gayanya, padahal bokap sama nyokap nya masuk penjara, tapi dia masih bisa tuh sekolah pakai sneaker Fila dari Korea."
Arga ingin menutup telinga. Namun, gadis yang sedang dihina oleh temannya sendiri itu tidak melakukan perlawanan apapun. Padahal ia bisa melawan jika mau.
Masalah apa yang gadis itu kenakan untuk ke sekolah, gadis itu tidak punya pilihan lain. Karena hanya ada beberapa barang yang bisa ia gunakan, sedangkan yang lain digelandang ke kantor polisi.
"Outfit masih kayak biasa, minus gelang Cartier, anting-anting Tiffany&Co, sama smartphone terbaru yang katanya bakal lo pakai hari ini."
__ADS_1
"Mungkin smartphone barunya disita, Dec."
"Oops, iya. Bokap sama nyokap nya 'kan koruptor plus punya segudang kejahatan lainnya."
"...."
"Kenapa lo diem aja? biasanya aja lo memperbudak gue, 'kan?" desak siswi bernama Decha tersenyum. Sahabat dekat Alexandria Natadisastra, tapi dulu. Sekarang ia sudah menunjukkan tabiat aslinya. "Lo nggak tiba-tiba bisu, 'kan?"
Padahal sebelum penangkapan kedua orang tuanya, Alexa baru mengirimkan satu set Kylie make up terbaru. Sebelumnya, Alexa juga memberikan satu hand bag Dior keluaran terbaru, masing-masing satu untuk Decha maupun Putri.
Tapi, lihatlah sekarang tingkah mereka berdua yang entah sejak kapan sudah membangun koloni baru. Koloni yang tentunya punya ratu baru, dan tak mungkin punya tempat lagi untuk menerima keberadaan Alexa.
"Minggir, gue nggak ada urusan sama lo."
"Wah, masih bisa berlagak sombong?" sindir Decha. Ia memang punya mulut paling tidak bisa dikondisikan.
"Kelas kita terlalu elit buat lo yang ekonomi nya sulit," sindir salah seorang teman baru Decha.
Bukannya gentar, Alexa malah tersenyum miring seraya melipat kedua tangan di depan dada. "Lo berdua lupa gue Adik siapa?"
"Lo...."
"Lo pikir gue takut sama ancaman nggak bermutu kayak gini?" potong Alexa. "Jangan lupa, gue bukan nona muda yang nggak dibekali apa-apa. Lo tahu 'kan kakak-kakak gue siapa? dua leader dari geng motor paling berkuasa. Cuma gertakan kayak gini, kalian pikir bisa buat gue takut?"
Decha tampak menelan saliva, kikuk. Ia tidak tahu jika Alexa yang ditindas akan merespon seperti ini.
"Banyak bicara lo!" seru Decha kesal. Ia pun merebut satu cup cola di tangan salah satu temannya, kemudian dilemparkan ke arah Alexa.
__ADS_1
Alexa menutup mata, ia sama sekali tidak berniat untuk menghindar. Tak apa jika seragam sekolah satu-satunya basah dan kotor. Supaya mereka puas. Toh, mungkin ini juga salah satu balasan untuk kesombongannya selama ini. Namun, sampai berselang beberapa detik kemudian, cairan berwarna gelap itu tak sampai juga ke tubuhnya. Ketika membuka mata, ia menemukan punggung tegap berdiri di hadapannya. Menjadi tameng bagi tubuh kecilnya.
"Kalian bosen sekolah di Angkasa?" suara bariton itu terdengar begitu dingin saat bicara pada Decha dan kawan-kawannya.
"E-nggak, Kak."
"Kalau kalian masih mau sekolah di Angkasa, jangan ganggu Adik Alexander," ujarnya memperingati. "Berani macem-macem sama dia, berarti siap berhadapan sama gue."
Arga sebenarnya tidak mau ikut campur. Namun, ia kembali teringat perkataan Orion. Jika selama sebelas tahun ke belakang Alexander saja bisa tanpa henti mencari adiknya yang sudah dinyatakan meninggal, yaitu Nara. Kenapa barang sejenak ia tidak bisa menekan rasa benci dan berbalik arah untuk memberikan kesempatan bagi adik-adiknya?
Arga tahu bukan cuma dirinya yang tersiksa, juga terluka. Tapi, Alexander dan Alexanderia juga. Mereka sama-sama korban dari keegoisan para orang dewasa.
"Masuk," titah Arga.
Alexa mendongkrak, menatap seragam lelaki itu yang kotor karena melindunginya. "Seragam Kakak...."
"Gue bilang masuk," ujar Arga, memperingati sekali lagi.
Alexa langsung mengangguk patuh. Sebelum benar-benar masuk ke dalam kelas, ia masih sempat menoleh ke arah Arga. Lelaki itu masih stay cool di tempatnya berdiri.
"Terima kasih Kak Arga," ucapnya tulus. "Dan maaf untuk semua kesalahan yang udah aku perbuat. Aku akan coba menebusnya satu per satu."
...🫐🫐...
...TBC...
...Semoga suka 🖤...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
__ADS_1
...Tanggerang 26-12-22...