Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁴⁰UFB


__ADS_3

Seorang gadis cantik ber-sunglass hitam baru saja menurunkan kaki jenjangnya di lobby hotel yang cukup terkenal tersebut. Lokasinya berada di sebuah tempat wisata yang cukup populer di kalangan pelancong dalam dan luar negeri.


Kaki jenjangnya yang terbalut white sneaker Dior tampak berjalan santai menuju seorang lelaki yang tengah menunggu kedatangannya.


"Lo telat."


Sudut bibir gadis itu terangkat mendengar sapaan tersebut. "Jalannya jelek, mobil gue nggak bisa ngebut."


"Oh, itu sih sudah resiko," ujar lawan bicaranya sambil menyesap sebatang nikotin.


"No smoking. Nggak lihat?" telunjuk gadis cantik itu bergerak, mengarah pada sebuah stiker yang memberikan informasi jika di area tersebut dilarang merokok.


"Bacot. Mau gue ngerokok juga mereka nggak bakal ngusir gue. Mereka 'kan masih butuh duit," kekehnya. "Jadi, apa tugas gue? Nggak mungkin lo ngasih tugas sepele, lo aja rela datang jauh-jauh kesini?"


"Smart," puji gadis cantik tersebut sambil menurunkan slim bag Louis Vuitton miliknya. "Ada kerjaan buat lo. Tapi, lo harus ingat satu hal."


"Apa?"


"Tangan gue harus selalu bersih, sudah seharusnya dan seterusnya akan selalu begitu."


Lelaki itu tertawa kecil menderanya. Ia paham maksud dari ucapan lawan bicaranya. "Oke, gue ngerti maksud lo." Ia lantas menghirup batang nikotin nya lagi. "Jadi, apa kerjaan buat gue?"


Gadis cantik itu menyunggingkan senyum tipis. "Gampang kok."


"Gampang?"


Gadis itu mengangguk. "Yang sulit, lo harus bisa kerja rapih. Jangan sampai Kakak tiri dan kembaran gue tahu kalau gue yang udah nyuruh lo. Lo juga harus extra hati-hati, jangan sampai mereka berhasil nangkap lo."


"Oke."


"Jadi, tugas lo...." gadis cantik itu sengaja menggantungkan kalimatnya, lantas memberikan kode agar lawan bicaranya mendekat. "Gue mau, Lo buat cewek di foto ini nggak balik," ujarnya sambil menyodorkan sebuah foto yang mencetak gambar seorang gadis muda yang begitu familiar di mata.



"Kalau dia tetep bisa balik, gue mau dia balik dalam kondisi yang paling mengenaskan."


...🫐🫐...


"The subduction zone uplifted rocks. Shif of Ancient magcmcatic zone and fore arc evolution."


"Apaan tuh artinya, Sen?"


"Pengangkatan bantuan zona subduksi. Pergeseran zona magmatik purba, dan evolusi muka busur."


"Owh, gitu." Gadis dengan rambut sebahu itu manggut-manggut, tanda jika ia sudah paham.


Di samping, Nara ikut angkat bicara. "Jadi tempat pertama yang kita observasi itu situs geologi ya, Sen?"


"Iya. Nanti kita harus bisa dengerin penuturan pemandu. Tulis hal-hal yang sekiranya penting. Jangan lupa ambil dokumentasi," kata Arsen, mengingatkan pada para anggota regunya.


Rombongan darmawisata memang sudah tiba di tujuan pertama, yaitu sebuah situs geologi. Situs geologi sendiri merupakan tujuan observasi mereka untuk jadwal pertama.


"Situs geologi yang paling terkemuka dan menjadi unggulan di Ciletuh Pelabuhan ratu UNESCO Global Geopark adalah adanya komplek bebatuan tertua di Jawa Barat."


Para anggota darmawisata mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang dituturkan oleh pemandu mereka selama melakukan observasi. Tidak terkecuali Arsen, Nara, Cacha, serta teman-teman satu regu mereka.


"Di komplek Suaka Margasatwa Cikepuh terdapat komplek bebatuan tertua di Jawa Barat, dulunya berasal dari bagian lapisan terluar mantel bumi yang berada di lempeng Samudra, yaitu batuan ofiolit, seperti periodotit, gabro, anortosit, dan lava basal. Serta ada juga batuan sedimen laut dalam, seperti chert. Begitu, adik-adik. Nanti adik-adik bisa melihatnya di papan informasi."


Pemandu mereka adalah seorang pria dewasa yang ramah dan cakap dalam menjelaskan. Hampir semua objek dijelaskan dengan begitu detail, jadi para peserta darmawisata mudah menangkap materi yang dimaksud.


"Batuan ofit, ofit apaan sih, Nar?" bisik Cacha kepada sahabatnya yang tengah sibuk mendengarkan penjelasan pemandu mereka.


"Batuan ofiolit, seperti periodotit, gabro, anortosit, dan lava basal," jawab Nara, tepat. "Kamu nggak dengerin, ya?"


Gadis yang ditanya itu terkekeh kecil. "Dengerin kok, cuma loading aja otak gue nangkep materinya. Belibet banget gitu."


"Dasar."


Cacha tertawa kecil sambil merangkul bahu sahabatnya. Setelah mendengarkan penjelasan pemandu, mereka akan mengunjungi sebuah tempat yang membentuk tapal kuda. Fenomena bentang alam berbentuk tapal kuda ini merupakan situs geologi yang sangat langka dan terkemuka, sehingga masuk kedalam jajaran warisan geologi yang perlu dilindungi.


Bentang alam ini berbentuk tapal kuda yang merupakan mega amfiteater alam terbuka kearah Teluk Ciletuh. Lanskap dengan dimensi sekitar 15 x 9 km tersebut terbentuk karena proses geologi pada zaman Pilstosen yang menyebabkan longsor laut. Bukti dari proses terjadinya struktur ini adalah adanya lebih dari 9 air terjun di sepanjang dinding amfiteater seperti Curug Awang, Curug Cimarinjung, Curug Sodong, Puncak manik, dan bukit-bukit berbentuk segitiga di beberapa tebing amfiteater.

__ADS_1




Jika ingin melihat keindahan mega amfiteater tersebut, bisa dilihat melalui tempat bernama bukit Panenjoan. Bukit Panenjoan menyajikan pemandangan alam yang memanjakan mata wisatawan. Pasalnya dari tempat ini,  para pengunjung bisa melihat keindahan alam dan seluruh bentang alam Geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu yang terdiri dari tebing, laut, pantai, hutan, hingga hamparan persawahan nan hijau yang disebut sebagai mega amfiteater alam menakjubkan, dari Geopark Ciletuh yang berbentuk seperti huruf "U" atau membentuk tapal kuda.


Kini para rombongan darmawisata juga sudah sampai di salah satu objek observasi para peserta darmawisata.


"Woah, air terjunnya bagus banget!" kagum Cacha. "Sejuk banget airnya, jadi pengen nyebur."


"Cha, gak usah aneh-aneh deh," lerai Nara.


Cacha menggeleng kepala seraya menoleh. "Hehe, canda."


"Jangan banyak bercanda, Cha. Katanya kita harus jaga ucapan kalau disini," Imbuh gadis bernama Cala, salah satu anggota satu regu dengan mereka.


"Masa sih? Mitos tuh, nggak percaya gue," sanggah Cacha.


"Terserah deh, mau percaya atau enggak, itu hak kamu," ujar Cala sambil mengedipkan bahunya acuh.


"Cha, nggak boleh gitu. Kita memang harus jaga ucapan sama perilaku. Ini tempat orang, kita nggak tahu apa aja yang bisa terjadi kalau kita sembrono." Nara ikut menengahi. Terkadang Cacha memang perlu diwanti-wanti. Apalagi ini tempat orang.


"Iya deh, iya."


"Kalian jangan main terlalu jauh, bentar lagi kita otw," ucap seorang laki-laki berkacamata yang berdiri di samping Arsen.


"Memangnya kita mau pergi kemana? orang kita gak mau kemana-mana kok," sahut Cacha.


"Iya. Maksudnya, takut ada yang ketinggalan gitu kalau kita berpencar."


"Iye, iye. Sekelompok sama holang pinter itu memang sudah, otaknya rasional semua sih," celetuk Cacha yang merasa jadi paling bodoh di antara mereka.


"Udah, mending kita ambil foto buat dokumentasi. Jangan terlalu banyak bicara yang tidak perlu." Selaku ketua regu, Arsen ambil jalan tengah. Jika diam saja, mereka malah kebanyakan bicara hanya karena meladeni satu orang, yaitu Cacha.


"Oh, iya. Kelompok kita belum ambil foto 'kan?" Cala berucap seraya menatap teman-temannya.


"Belum. Kalau gitu kita ambil foto dulu, takut nanti nggak keburu," usul Nara. Ia kemudian menarik Cacha yang masih bergumam tak jelas.


Arjuna mengangguk. "Mau pakai kamera atau handphone? terserah kalian. Gue bawa dua-duanya kok."


"Handphone aja dulu, nanti baru pake kamera," usul Nara. Mereka memang harus menyertakan bukti berupa beberapa lembar dokumentasi foto, mulai dari foto objek observasi sampai foto selfi untuk menunjukkan kerja sama serta kekompakan regu mereka.


"Ya udah sini, selfi sama gue dulu. Gue alihnya kalau jadi Mbak selfie." Cacha inisiatif menyalakan kamera handphone terlebih dahulu, lantas berdiri di tengah teman-temannya. "Cis dulu, guys. Gaya bebas, jangan kaku," instruksinya.


Walaupun terdengar cerewet, namun instruksi Cacha tetap diiyakan oleh yang lain.


"Bagus nih hasilnya," puji Arjun yang baru saja memeriksa hasil foto Cacha.


"Ya iyalah, 'kan gue yang instrukturnya," sombong Cacha.


"Kameranya yang bagus kali, bukan karena instrukturnya," dalih Arjun, cari gara-gara.


"Tinggal bilang bagus apa susahnya sih? harus banget pake embel-embel kurang sedap," ketus Cacha. Bibirnya mengerucut sebal karena respon Arjun.


"Gak usah di maju-majuin gitu bibirnya, mau gue cip*k?" seloroh Arjun, seduktif.


"Dih, apaan coba! otak lo kotor amat, istighfar Ju!"


"Makin jutek, makin cantik." Bukannya diam, Arjun malam makin gencar menggoda Cacha.


Cacha sampai bergidik ngeri mendengarnya. "fotbar dulu yuk," ajak Arjun pada akhirnya. Tangannya sudah gercep merangkul bahu Cacha. "Itung-itung kenangan."


"Apaan sih. Siapa juga yang mau fhoto sama lo!" ketus Cacha.


"Foto doang nggak mau? Dulu kita sayang-sayangan loh, masa sekarang mau ketus-ketusan terus?"


"Diem Lo Jul!" kesal Cacha seraya menjauhi laki-laki yang tengah tertawa tersenyum.


Cacha dan Julian memang sempat berpacaran saat kelas satu SMA. Mereka kenal saat masa MOPDB tau masa orientasi peserta didik baru. Itupun tidak lama, karena Cacha minta putus dengan dalih bosan. Padahal ia bukan bosan, tetapi tertekan. Pasalnya pada waktu bersama, ada kakak kelas yang juga mengincar Arjun.


"Kalian nggak mau fotbar juga?" tanya Cala sembari menatap Nara dan Arsen bergantian.

__ADS_1


"Kita?" ulang Nara.


Cala mengangguk. "Ayo foto dulu gih. Hitung-hitung buat kenangan. Kalian 'kan best friend."


Nara tersenyum tipis sembari mengangguk. "Ya udah. Ayo, Sen. Kita ambil satu foto buat kenang-kenangan."


Arsen tersenyum kecil. Ide Cala boleh juga. Jiga dipikir-pikir, selama ini ia memang tidak punya foto bersama Nara.


Mereka berdua pun berdiri bersisian dengan background air terjun. Satu gambar diambil kala mereka berdua bergaya ala kadarnya. Tampak kaku untuk ukuran sepasang sahabat. Sampai akhirnya Arsen inisiatif mendekap bahu Nara, supaya mereka tidak terlihat kaku ketika difoto.


Nara juga sampai membeku seketika saat Arsen berinisiatif demikian. Namun, belum sempat satu foto diambil, tubuh Arsen tiba-tiba menjauh dengan sendirinya.


"Kakak!"


Ternyata, ada dalang dibalik Arsen yang menjauh tiba-tiba. Lebih tepatnya Nara dan Arsen yang dipisahkan secara paksa.


"Apa?" sahut si pelaku. "Bisa 'kan foto tanpa rangkulan?"


Nara terdiam. Netranya masih terkunci pada sosok rupawan yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Siapa lagi jika bukan Arganta Natadisastra.


"Bisa?" Arga bertanya lagi, kali ini ke arah Arjuna yang memegang kamera.


"B-isa, Kak," jawab Arjuna dengan suara kecil.


"Good," respon Arga seraya meraih pergelangan tangan sang kekasih. "Nggak usah kegatelan. Foto bertiga, berempat, atau berlima, terserah. Tapi jangan berdua, apalagi sama dia."


Nara masih terpaku. Kedatangan Arga yang begitu tiba-tiba membuang isi Kepala bekerja begitu lambat. Dan apa barusan? apa seorang Arganta Natadisastra sedang memperlihatkan kecemburuannya?


"Ngerti?"


Nara mengangguk dua kali. "Iya, ngerti."


"Bagus." Setelah berkata demikian, Arga menepuk pucuk kepala Nara dua kali. Ada seringai kecil tergambar di sudut-sudut bibirnya. "Udah punya pacar nggak boleh nakal," imbuhnya sebelum beranjak pergi begitu saja.


Meninggalkan Nara dan teman-teman satu regunya yang dibuat melongo oleh tingkah most wanted SMA Angkasa tersebut.


"Buset, Nar. Kak Arga Lo kasih pelet apaan? gila, posesif amat. Terdeteksi bucin tingkat akut itu," seloroh Arjun sembari mengelus dada. Jantung nya tengah berpacu cepat di dalam sana, hanya karena ditatap tajam oleh Arganta Natadisastra. "Ternyata kalau The leader of SPHINIX cemburu, serem juga," tambahnya.


"Another level sih itu mah," sahut Cala.


"Kek keajaiban dunia, woi!" seru Arjun yang kini baru bisa cengengesan lagi.


"Keajaiban dunia gundul mu! udah jelas-jelas namanya posesif kelas wahid," sahut Cacha, ikut nimbrung. "Padahal Nara sama Arsen itu bestie, kayak gue sama Nara. Tapi, apa boleh dikata, Kak Arga sudah cemburu buta."


"Sorry nih, gue nyela." Julian buka suara dengan sopan. "Nggak ada pertemanan yang real pertemanan di antara cewek sama cowok tulen."


"Setuju!" sahut satu anggota laki-laki lagi regu mereka. "Gue pernah di posisi itu soalnya."


"Tuh, kan." Arjun kian menjadi-jadi saat opininya mendapat dukungan.


"Ada!" bantah Cacha. "Buktinya Nara sama Arsen tuh. Mereka bestie, anti baper-baper club."


Walaupun sempat disanggah oleh Cacha, ucapan Arjun nyatanya mampu menganggu pikiran Arsen. Sedangkan Nara, gadis itu hanya tersenyum canggung menghadapi obrolan teman-temannya. Pasalnya karena kehadiran Arga, pacarnya itu, teman-temannya jadi heboh begini. Coba saja Arga itu tidak moodyan, posesif, dan bertindak seenaknya sendiri, pasti tidak akan jadi begini.


Nara bahkan sampai tidak sadar jika Arsen saat ini sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


'Memang salah jika rasa itu ada di antara kita?'


...🫐🫐...


...TBC...


...Sumber : Google & Buku 'Geopark Ciletuh-Pelabuhanratu 2017'...


...Semoga suka 😘...


...Jangan lupa like, vote, komentar, dan follow Author 🙏🏻...


...Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇...


__ADS_1


...Tanggerang 02-12-22...


__ADS_2