
Sengatan mata hari yang sudah beranjak menuju arah barat, agaknya mampu membuat tubuh yang beraktivitas di bawah teriknya bermandikan keringat. Kondisi itu juga yang tengah dialami oleh para pandawa SPHINIX yang tengah berjibaku di bawah teriknya mentari. Mereka harus mendirikan tenda untuk istirahat malam nanti. Mereka juga telah membuat jadwal dadakan untuk keamanan, karena memang tugas mereka adalah sebagai keamanan.
"Panas banget, Bosque."
Laki-laki berwajah dominan Europe itu berkelakar. Tubuhnya sudah bermandikan keringat semenjak bertugas memindahkan barang-barang peserta darmawisata. "Sumpah, Indonesia panas banget, kira-kira kapan turun salju, ya?" gumamnya seraya berkacak pinggang.
"Kalo di Indo turun salju, berarti kiamat udah dekat!" timpal Libra yang sedang sibuk mendirikan tenda.
"Elah, bawa-bawa kiamat lo. Ngeri tau nggak!"
"Lah, omongan gue emang valid. Iklim Indo itu tropis, kalau turun salju berarti udah ada yang salah sama alam semesta. So, sebentar lagi...."
"Udah, udah. Panas-panas gini lo malah bawa-bawa kiamat. Jadi ingat dosa, belum sempet tobat gue," potong Iki sambil mengibaskan tangan di depan Libra.
Libra mengedipkan bahunya acuh. Toh, tak ada gunanya juga meladeni Iki yang otaknya agak geser. Lebih baik ia menghampiri Eden yang terlihat kewalahan meng-handle para siswi. Laki-laki bertubuh tinggi semampai itu sejak tadi dikeroyok para siswi. Sedangkan sang leader sendiri sedang sibuk berdiskusi dengan salah seorang guru yang bertanggungjawab soal keamanan.
Pada hari pertama, jadwal kegiatan memang hanya mencakup tentang pemberian pengarahan setelah setiap siswa maupun siswi selesai mendapatkan tempat untuk beristirahat. Setelah diberikan pengarahan, para siswa-siswi diberi waktu untuk beristirahat. Karena kegiatan baru akan benar-benar dijalankan pada esok hari.
"Nar."
"Iya, kenapa Cha?"
"Anak-anak dari tadi pasti pada ngomongin lo."
"Bicarain aku?" bingung empunya nama. "Maksudnya gimana?"
"Itu, soal hubungan lo sama kak Aega. Si Rene juga bacot mulu dari tadi. Dia pasti ember tuh ke ketua gengnya," seloroh Cacha.
"Rene? Mereka nggak ada menyinggung apapun. lagipula mereka mau bicara soal apa lagi? bukannya mereka lihat sendiri gimana sikap kak Arga."
Cacha tertawa kecil mendengarnya. "Wih, sombong nih ceritanya?" godanya.
"Bukan gitu maksud aku!" seru Nara. "Maksudnya, mereka juga udah tahu sendiri gimana jahatnya kak Arga sama aku. Jauh sebelum Kak Arga bersikap perhatian kayak tadi."
Cacha berdecak seraya melipat tangan di depan dada. "Jahat apanya? Kak Arga itu yang udah nolongin lo pas di-bully sama kakak kelas. Kak Arga juga yang udah nolongin lo pas pingsan di lapangan. Kurang baik apalagi, cinta?"
Nara tersenyum canggung. "Iya, aku tahu kok."
"Ya iyalah, Lo tahu. Masa tempe," tukas Cacha. "Punya pacar cogan modelan Kak Arga kayak dapat hokky seumur hidup. Dingin, datar, plus kaku sih, tapi ..... kalau udah sweet nggak tanggung-tanggung," tutur Cacha, berpendapat. "Tapi Nar, gue penasaran sama satu hal deh."
"Penasaran soal apa?"
"Soal lo sama Kak Arga."
"Penasaran kenapa?" tanya Nara. Saat ini mereka sudah berada di kamar mereka.
Nara dan Cacha kebagian satu kamar, bersama dua siswi lainnya yang saat ini sedang berada di luar.
"Sebenarnya gue masih penasaran, sama alasan yang mendasari keputusan Kak Arga ngajakin lo pacaran. Kalau denger dari cerita lo, Kak Arga itu jadiin lo pacar semata-mata karena tanggungjawab. Menurut pengamatan jeli gue sih, nggak gitu."
"Maksud kamu?"
"Gini, Nar. Tanggungjawab itu kayak beban, beban itu berat. Nah, kalau dari sudut pandang lo, kalian pacaran karena Kak Arga diberi tanggung jawab sama almarhum Seno buat jaga lo.
Tapi makin kesini, Kak Arga makin kelihatan nggak keberatan sama status kalian. Apa mungkin, dia ngajak lo pacaran bukan karena tanggungjawab doang. Tapi....."
Kalimat Cacha tidak sampai selesai diucapkan karena suara pintu yang diketuk dari luar terdengar.
"Itu kayaknya Cindy sama Clavita palingan. Tadi mereka pamit mau ambil selimut tambahan 'kan?" Pikir Cacha positif. "Gue buka dulu," putus Cacha. "Perasaan itu pintu juga gak dikunci."
Cacha beranjak, berjalan ke arah pintu yang masih diketuk dari luar.
"Sabar napa, gue buka pintu juga jalan pake kaki bukan terbang pake sayap!" sembur Cacha ketika ia berhasil meraih handle pintu. "K-akak?!"
__ADS_1
Cacha pikir dua teman sekamarnya yang mengetuk pintu. Ternyata oh ternyata, sosok jangkung yang sudah ia idolakan sejak lama. Saking kagetnya mendapati sosok jangkung tersebut, suara yang tadi sangat melengking kini terasa tertahan di tenggorokan.
"K-akak ada perlu apa, ya? Kok bisa nyasar kesini?" tanya Cacha sambil membenahi tatanan rambutnya yang entah berantah bagaimana wujudnya. Namun yang pasti, di depan pujaan hati ia harus terlihat cantik.
"Gue utusan Arga, dia titip pesan."
'Beuuhh... suara deep nya, ngena banget ke hati.' Cacha memuji di dalam hati.
"Siapa Cha? Cindy sama Clavita?" tanya Nara, yang baru muncul dibelakang Cacha. ia bisa langsung mengenali siapa yang datang saat melihatnya. "Eh, Kak Orion. Ada apa, Kak?"
"Gue bawan pesan dari Arga," ujar si empunya nama, to the point. "Lo ditunggu sama Arga di parkiran. Jangan pake lama, jangan lupa bawa jaket."
"Hah?" bingung Nara.
Lelaki tampan berwajah datar itu menatap dua lawan bicaranya datar. "Gue, bawa pesan Arga," ulangnya. "Lo ditunggu diparkiran, jangan pake lama. Jangan lupa bawa jaket. Aega nungguin lo di sana."
Dengan sangat baik hatinya, Orion mengulang ucapannya. Padahal ia paling anti. Di mata Cacha, justru sikapnya itu sangatlah berarti.
"Kak Arga panggil aku?"
"Hm."
"Kenapa ya, Kak?"
Bukannya menjawab, Orion malam memilih untuk mundur selangkah lantas berujar lagi. "Gue cuma bertugas menyampaikan pesan itu, bukan ranah gue jawab pertanyaan lo. Gue pergi," tukasnya sebelum berlalu meninggalkan Nara dan Cacha yang masih termenung.
"Gila, ganteng banget! Suara deep nya itu, kayak suara oppa Seo jun Han, The Secret of Angel!" Antusias Cacha ketika berhasil lepas dari kebisuan. "Oh my God, crazy. Mimpi apa gue semalem, Nar."
Nara yang melihatnya tingkat sang sahabat hanya bisa geleng-geleng kepala. Di sisi lain, pikirannya sudah bercabang menjadi dua semenjak mendengar pesan yang dibawa oleh Orion.
Arga menunggunya di parkiran. Sebenarnya apa yang hendak laki-laki itu tunjukkan?
...🫐🫐...
"Lambat."
"Kak!"
Ia menoleh kala indra pendengarannya menangkap suara gadis yang ia tunggu-tunggu.
"Lama. Lo nggak dengar perintah gue, ya!" semburnya ketika sang gadis sudah ada dalam jangkauan mata.
"Maaf, Kak. Tadi ada sedikit hambatan, jadi aku telat."
Arga tak menggubris. Ia lantas menyalakan mesin motor CBR250RR nya. "Naik."
"Kita mau kemana Kak?" alih-alih mengiyakan, Nara terlebih dahulu menyuarakan pertanyaan.
"Naik aja. Jangan banyak tanya!"
Nara mengerucutkan bibir seraya berjalan kian dekat. "Iya. Galak banget sih," gerutunya
"Lo barusan bilang apa?" tanya Arga dengan mata memicing.
"Eh, enggak. Aku nggak bila apa-apa," dalih Nara yang sudah berhasil duduk di jok penumpang bagian belakang. "Kakak belum jawab pertanyaan aku, kita sebenarnya mau kemana kak?"
"Jalan." Arga menjawab saat kendaraan yang mereka naikin sudah melaju.
"Iya. Jalan kemana maksudnya?"
"Kemana aja. Lo nggak usah banyak tanya."
Nara mengangguk lirih dibalik punggung tegap milik Arga. Sepertinya mood lelaki tampan itu sedang buruk. Lebih baik ia riam, ketimbang mengusik singa tidur.
__ADS_1
Arga mengendarai motor CBR250RR miliknya dengan kecepatan sedang, sehingga Nara bisa menikmati pemandangan yang ada di sekitar. Mulai dari lukisan sinar jingga yang menawan jiwa dan raga, rimbunnya pepohonan, hingga jalanan berliku yang membawa mereka ke sebuah bibir pantai. Kendaraan ber-cc tinggi itu berhenti di sana. Tepat dimana lukisan indah sang Maha Kuasa tercetak dengan jelas.
"Ini bagus banget, Kak." Nara terpukau, matanya tak lepas dari keindahan yang tercipta di batas khatulistiwa. "Kakak tahu tempat ini dari mana?"
Lelaki tampan yang baru saja membuka helm itu berbalik, menatap lawan bicaranya. Ia tak langsung menjawab, melainkan menatap kekasihnya lekat.
Ia dapat menangkap binar yang tercetak jelas di manik gadisnya. Sudut bibirnya tertarik walaupun tipis. Ternyata inisiatifnya membawa gadisnya ketempat ini merupakan ide brilian. Jarak penginapan ke Pantai terdekat sekitar 696 meter. Tidak terlalu jauh, ketika mereka tiba di sana, mereka langsung di suguhi oleh keindahan ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa.
"Suka?"
"Iya."
"Suka sama?" pancing Arga.
"Pantainya," jawab Nara seadanya, tanpa menatap Arga.
"Dasar." Arga mendengus mendengarnya. Bukan jawaban itu yang mau ia dengar.
"Kakak kenapa?" Nara kebingungan saat lelaki tampan disampingnya tiba-tiba membuang muka. Padahal tidak ada yang salah dari jawabnya. "Kakak marah?"
"Enggak."
"Kok ketus gitu jawabnya?" tanya Nara penuh selidik seraya menatap Arga lekat-lekat.
"Lo sekarang udah berani natap gue secara langsung, ya?" sindir Arga.
"Aku berani kok. Kenapa juga harus takut sama Kakak, Kakak 'kan manusia. Sama-sama makan nasi."
Mendengar jawaban tersebut, alih-alih marah, Arga malah tertawa. Tawa kecil yang begitu mahal. "Dasar."
Tangan Arga juga tak tinggal diam, mulai mengacak surai kecoklatan milik kekasihnya. Ia kemudian meraih satu tangan Nara untuk digenggam. Mereka berjalan bersama dibawah langit jingga yang mempesona, sesekali mendekati gulungan ombak yang menyapu pasir hitam di pantai tersebut.
Pantai Palangpang adalah lokasi yang Arga pilih untuk menghabiskan waktu senja bersama Nara. Ditemani oleh deru ombak, dua tangan saling bertautan walaupun tak banyak kata yang ikut serta. Namun, semua itu cukup bagi Nara maupun Arga.
Ada sekelumit rasa yang sulit dijabarkan oleh kata-kata telah bersemi di dalam jiwa. Baik Nara maupun Arga sadar akan keberadaannya. Oleh karena itu, tanpa kata pun mereka seolah-olah sudah saling mengerti.
Suasana pantai sore itu cukup hening, hanya ada deru suara ombak dan nyanyian burung-burung yang hendak kembali ke sarang. Membuat keduanya begitu larut menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang Maha Esa.
"Apa arti senja menurut lo?" tanya Arga tiba-tiba.
"Senja, menurut aku ....dia adalah definisi tahu cara pamit dengan indah. Dia akan pergi, tetapi sempat membuat keindahan yang memukau hati. Walaupun akan pergi tanpa janji untuk kembali, tetapi senja selalu setia untuk kembali. Setia datang lagi, sekalipun kedatangan tidak dinanti-nanti, " ujar Nara, berpendapat. "Itu menurut aku, kalau menurut Kakak sendiri gimana?"
Nara balik bertanya seraya menatap laki-laki rupawan di hadapannya.
"Senja selalu membawa orang-orang penting dalam hidup gue terasa lebih dekat."
"Terasa lebih dekat?"
Arga menarik pandangan. Kini seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Nara.
"Mereka terasa dekat dan mudah gue gapai," tambahnya seraya mengeratkan genggaman tangan di antara mereka. "Berkat senja juga gue rasa kita semakin dekat."
🫐🫐
TBC
Semoga suka 😘 Jangan lupa like & komentar untuk mendukung author 🫂
Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇
__ADS_1
Tanggerang 30-11-22