
Pagi yang indah dengan hiasan lukisan fajar pertama di ufuk timur, ditambah dengan hiasan sedikit kabut asap di pagi hari. Hamparan rumput hijau yang juga dihiasi danau kecil yang tampak alami itu menyediakan pemandangan yang segar untuk penglihatan. Ketika sang fajar baru saja muncul, para peserta darmawisata sudah mulai beraktivitas. Bahkan tak sedikit dari mereka yang sibuk menonton para 'Guardian angel' yang tengah berkumpul di dekat area parkiran.
Anak-anak SPHINIX yang dadakan mereka juluki sebagai 'Guardian angel', memang tampak memiliki magnet tersendiri keberadaannya. Seperti saat ini, di pagi hari yang cerah ini mereka tampak berkumpul. Sekumpulan lelaki pentolan SMA Angkasa itu tengah menyerukan slogan dan panji-panji kebanggaan mereka. Tak peduli jika hari masih cukup pagi dan dingin, semangat tetap membara, membakar gelora jiwa-jiwa dan raga.
"SPHINIX?"
"SATU NYALI, SATU JATI DIRI, HARGA MATI?!"
"SPHINIX?"
"SATU NYALI, SATU JATI DIRI, HARGA MATI?!"
"KAMI PARA SPHINIX BERJANJI?!"
"MENJAGA NAMA BAIK ORGANISASI. SATU IDEOLOGI. TIDAK MENGIKUTSERTAKAN MASALAH PRIBADI. SOLIDARITAS TANPA BATAS. PANTANG BERKHIANAT. MENGERAT BUKAN MENGIKAT. DATANG UNTUK MENYERANG, PULANG UNTUK MENANG."
Kegiatan segerombolan lelaki pentolan sekolah itu tentu menarik banyak perhatian. Tidak terkecuali bagi dua gadis berkaos motif tie dye atau jumputan dengan bawahan celana olahraga SMA Angkasa. Mereka ikut penasaran akan kegiatan pentolan sekolah tersebut.
"Lagi pada ngapain tuh para pentol PASKA?"
"Pentolan kali, bukan pentol. Pentol mah makanan, atuh, Cha." koreksi salah satunya.
"Iye, iye. Mau pentol, mau pentolan kek, gue gak peduli. Gue cuma penasaran, mereka mau ngapain tuh pagi-pagi udah berkoar-koar? Ganggu banget dah. Ini bukan Bandung kawasan mereka, ini Sukabumi. Kota orang," seloroh gadis dengan rambut sebahu tersebut.
"Mereka lagi menyuarakan slogan mereka, Çha. Masa gitu aja nggak ngerti?" bela gadis di samping, siapa lagi jika bukan Nara.
"Ya, kalau itu sih gue tahu. Tapi, itu mereka ngapain? Pagi-pagi udah pada ganteng, gue aja yang anak perawan masih belekan. Ngapain juga udah pada manasin mesin motor gede mereka? Jangan-jangan mereka mau balik?" tanya Cacha bertubi-tubi.
Nara geleng-geleng kepala mendengarnya. "Ya Allah, Cha. Kalau nanya itu satu satu."
"Ya gue penasaran lah. Lo memangnya nggak penasaran? Kemarin lo baru diromantisin sama kak Arga loh, diajak jalan-jalan lihat sunset. Masa sekarang dia sama kawanannya mau balik?"
"Dih, apaan coba?" elat Nara,sambil mencubit lengan sang sahabat pelan.
"Gak usah ngeles, emang gitu 'kan kenyataan?" kekeh Chaca, gencar menggoda sahabatnya. "Eh, eh, Gin. Itu anak SPHINIX pada mau kemana sih? Pacar lo 'kan anak SPHINIX, pasti lo tahu mereka mau ngapain 'kan?"
Gadis yang ditanya Cacha itu mengangguk. "Oh, itu. Kata pacar gue sih mereka mau Sunmori. Salah satu kegiatan rutin mereka. Tujuan mereka ke sini juga buat turing kok. Katanya, mereka mau sunmori sama anak club motor di daerah ini," tutur gadis berambut pirang tersebut. Kebetulan ia pacar salah satu anak geng SPHINIX.
"Owh, Sunmori. Kalau itu sih gue tahu," ujar Cacha, manggut-manggut.
"Em, Sunmori itu apa ya, Cha?" tanya Nara, lirih. Apa cuma ia yang tidak tahu apa itu sunmori?
"Jangan bilang lo nggak tahu apa itu Sunmori?"
Nara menggeleng polos. Ia memang tidak tahu.
"Oh my God! Lo beneran nggak tahu apa itu Sunmori, Nar?"
Lagi, Nara menggeleng polos. Sejak berpacaran dengan Seno, ia memang tidak terlalu ikut campur soal urusan organisasi yang dipimpin kekasihnya. Hingga saat ini pun, ia tidak terlalu banyak mengerti soal geng motor atau organisasi yang dipimpin oleh kekasihnya.
"Gini ya Nar, gue bakal jelasin apa itu Sunmori, tapi ini sepengetahuan gue aja."
Nara mengangguk faham.
"Sunmori atau sunday morning ride adalah salah satu kegiatan berkendara sepeda motor yang dilakukan pada hari minggu pagi. Biasanya digandrungi oleh para pemuda atau remaja, atau geng motor kayak SPHINIX. Tetapi banyak kalangan juga bisa menggeluti kegiatan itu."
"Oh, gitu."
"Habis gue jelasin panjang kali lebar, dan respon lo cuma gitu Ale? Daebak banget, sumpah!" sindir Cacha sambil menatap lawan bicaranya.
"Terus, aku harus respon gimana?" dingung Nara.
"Serah lo deh, pusing gue sama lo. Untung aja lo pinter, kalau nggak udah pusing gue temenan sama lo yang kudet."
Nara mengerucutkan bibir mendengarnya, alih-alih marah. "Eh, kok gitu sih?"
"Tapi, bohong cinta. Nggak usah lebay," ralat Cacha sambil merangkul bahu Nara. "Gak usah dimasukin ke hati, canda doang."
"Iya. Aku tahu kok."
__ADS_1
"Iya, gitu dong. Siapa juga yang nggak mau temenan sama Aleanska Nara, siswi penyabet gelar juara umum paralel ke dua kali berturut?" Kikik Cacha kegirangan. Sejatinya ia memang mau berteman dengan Nara karena klop. Sama-sama bisa memahami satu sama lain.
...🫐🫐...
Kegiatan darmawisata di kawasan Geopark tiba pada inti kegiatan. Di hari kedua para peserta darmawisata telah dibekali dengan buku panduan dan jurnal untuk setiap regu. Setiap regu terdiri dari 6 orang, 3 perempuan dan 3 laki-laki. Setiap regu diberi jurnal yang harus diisi setiap kali mereka mendatangi salah satu objek yang tercantum dalam keragaman di Geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu.
Geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu sendiri mencakup tiga aspek penting didalamnya. Tiga aspek tersebutlah yang akan menjadi bahan observasi para peserta darmawisata. Tiga aspek tersebut adalah ragam Geologi atau Geodiversty, Ragam hayati atau Biodiversty dan Ragam Budaya atau Culturaldiversity.
Situs Ragam Geologi (Geodiversity) yang paling terkemuka dan menjadi unggulan di Geopark Ciletuh Pelabuhan ratu adalah komplek bebatuan tertua di Jawa Barat. Komplek bebatuan tersebut sebagai bukti adanya proses subduksi (tumbukan) antara lempeng benua Aurasia dan lempeng Samudra Hindia yang terjadi pada zaman kapur (>65 juta tahun yang lalu).
Keragaman Hayati (Biodiversity) merupakan istilah yang diberikan untuk kehidupan di bumi. Keragaman hayati di tempat ini mencangkup spesies tanaman, hewan dan mikroorganisme serta ekosistem dimana mereka hidup dan berinteraksi.
Yang selanjutnya, ragam budaya (Culturaldiversity), meliputi kawasan kampung adat kasepuhan banten selatan, ragam kesenian tradisional (Traditional Arts) seperti ; Seni tari, seni musik, seni bela diri, serta permainan rakyat.
"Ini kita kapan berangkatnya sih, Seb?" gerutu Cacha yang sejak tadi memainkan kipas portabel untuk mengurangi rasa panas akibat suhu di luar ruangan.
"Palingan lima menit lagi," jawab lelaki yang duduk disampingnya.
"Kita beneran satu regu nih?"
"Iya. Kenapa memangnya?"
"Gak nyangka aja, holang-holang pinter bersatu semua sama gue. Gue jadi insecure sendiri huhuhu...." ucap Cacha, hiperbola.
"Lebay lo," protes lelaki lain yang duduk di sebelah kirinya.
"Diem deh lo, Jul."
"Abisnya lo lebay, Cha," timpal lelaki bernama Julian tersebut. Tidak mau mengalah.
"Serah lo deh!"
"Ya udah, terserah gue," sahut Julian lagi, santuy.
"Udah, udah. Kalian kenapa sih?" lerai Nara yang duduk dihadapan mereka.
"Ini nih, resek." Cacha mengadu. Membuat Julian mendelik mendengarnya.
"Apa lo, Jul? nyaut aja. Ngajak gelud?!"
"Hayu, di kamar gue. Lumayan, gelud sama lo seru kali," timpal Julian tidak mau kalah.
"Gak usah ngomong yang akward deh Not, gue nggak faham. Maklum, anak perawan, masih polos nih."
"Dasar anak perawan," sewot Julian, mengundang mengundang gelak tawa yang lainnya.
Namun, tawa mereka tak berselang lama karena kehadiran salah satu senior mereka yang namanya begitu populer.
"Kakak ngapain kesini?" Nara yang pertama kali buka suara. Ia terkejut akan kehadiran lelaki tampan dengan jaket bomber hitam berlogo burung elang biru tersebut.
"Ikut gue."
"Eh, kemana Kak? Aku nggak bisa, soalnya aku harus pergi observasi." Nara menolak, walaupun tak enak.
"Nara harus ikut kelapangan buat observasi," tambah Arsen, ikut angkat bicara. "Dia nggak bisa pergi sembarangan."
"Gue nggak bilang mau buat dia nggak ikut observasi."
Arsen dan Nara terdiam mendengarnya. Lalu, apa tujuan laki-laki itu ingin mengajak Nara pergi?
"Lo berangkat sama gue." Kalimat pernyataan itu terlontar begitu saja dari mulut Arga, bersama dengan tangannya yang meraih pergelangan tangan sang kekasih.
"Tunggu!" Arsen menahan. Satu tangannya Nara ia raih sebagai cara untuk mempertahankan gadis tersebut.
"Anjir, si Nara direbutin ketos sama the leader of SPHINIX," gumam Cacha, heboh sendiri kala menonton pertunjukan di hadapannya.
"Jangan sentuh cewek gue sembarangan!" sentak Arga posesif. Membuat Arsen tersadar, lantas segera melihat tangannya yang baru saja dilepaskan secara paksa dari tangan Nara.
"Lo mau apa?" tanya Arga to the point.
__ADS_1
"Nara mau dibawa kemana? Sebentar lagi bus rombongan bakal datang, dia gak boleh kemana-nama."
"Apa urusannya sama lo? Dia cewek gue. Gue tahu apa yang terbaik buat dia."
Arsen mengeraskan rahang mendengarnya. "Dia tanggung jawabku," ucapnya. "Dia anggota regu 5, aku ketua regu 5."
Arga menyeringai tipis mendengarnya. "Kalau lo khawatir soal anggota regu lo, jangan takut. Gue bakal pastiin kalau cewek gue nggak telat sampai lokasi."
Nara yang baru saja hendak buka suara, langsung dipotong oleh kalimat Arga.
"Gue bawa cewek gue."
Setelah berkata demikian, Aega benar-benar membawa Nara bersamanya. Meninggalkan Arsen yang masih berdiri dengan sebelah tangan yang terkepal disamping tubuh.
"Kak, kita sebenarnya mau kemana?" tanya Nara, iq berusaha menarik tangannya. Namun gagal.
"Ikutin, jangan banyak tanya."
"Tapi aku mau observasi lapangan, Kak. Nanti aku ketinggalan bus rombongan."
"Lo pergi sama gue."
Nara tidak tahu kenapa Arga tiba-tiba bersikap seperti ini. Padahal seharusnya Nara berada di bus rombongan bersama teman-temannya. Bukan duduk di jok penumpang belakang, tepat di belakang punggung tegap Arganta Natadisastra.
"Cabut."
Setelah memberikan komando, laki-laki tampan itu memacu kendaraannya terlebih dahulu. Deru bising kendaraan ber-cc tinggi itu tentu menarik perhatian banyak orang. Ini kah yang namanya Sunmori? Pikir Nara seketika.
Sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Arga, Nara tetap bertanya-tanya. Pegangannya Jian mengerat saat motor Arga melaju makin gesit. Alea terus bertanya-tanya. Dari gerombolan anak SPHINIX yang kini menguasai jalan, hanya ia satu-satunya perempuan di antara mereka. Hanya Nara yang juga menjadi satu-satunya dan pertama kalinya ikut dalam kegiatan rutin geng SPHINIX itu.
Ketika laju kendaraan Arga kembali stabil, Nara coba buka suara.
"Kak."
"Hm?"
"Kita mau kemana sih?" tanyanya, penasaran.
"Apa? Gue nggak denger."
"Ish. Kita ini mau kemana? Kita ngapain kayak gini?" tanya Nara dengan suara lebih keras.
Lelaki tampan di balik helm full face itu tersenyum tipis. Ada yang menggelitik relung hati saat kata 'kita' terlontar dari bibir gadisnya.
"Sunmori."
"Sunmori? Terus kenapa aku diajak? Perasaan disini cuma ada aku Kak, yang lain enggak bawa pacarnya." Nara berkata seraya mendekati wajahnya pada samping permukaan helm Arga, Deng harapan laki-laki itu akan lebih mudah mendengar ucapannya
"Karena lo beda," jawab Arga kemudian.
"Beda?"
"Hm."
"Maksud Kakak?"
"Karena cuma lo satu-satunya cewek yang ikut sunmori SPHNIX dalam tiga tahun sejarah SPHINIX didirikan."
Nara tertegun mendengarnya. Ia tidak salah dengar bukan? Walaupun bising suara kendaraan Bercak tinggi itu cukup memekik ditelinga, Nara tetap bisa dengan jelas mendengarnya.
"Lo istimewa karena...." Arga menjeda. Membuat Nara kian penasaran. "....lo cewek gue."
...🫐🫐...
...TBC...
Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇
__ADS_1
Tanggerang 01-12-22