Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁷⁵UFB


__ADS_3

Aroma harum tercium begitu saja saat Alexander membuka box berukuran cukup besar dengan pita berwarna maroon di atasnya. Di dalam box cantik tersebut telah tersusun rapih 24 buah Madeleine, snack klasik dari negara asal menara Eiffel.


Madeleine adalah mini butter cake kuno yang berasal dari Perancis. Madeleine sangat melegenda, dan biasanya disajikan untuk tea time. Walaupun memiliki bentuk yang sederhana, aroma harum Madeleine selalu terpatri dalam ingatan. Madeleine selalu dibuat dengan cetakan bentuk kerang, sehingga menjadi ciri khas tersendiri. Mini butter cake kuno itu juga punya aroma butter yang strong dan tekstur chewy, perpaduan antara butter cake dan cookies.


Madeleine sendiri terbuat dari gula pasir, tepung terigu protein rendah, garam, baking powder, telur, susu cair, pasta vanila atau vanilla Bean dan salted butter. Ketika sudah matang, Madeleine biasa diberi topping lelehan coklat dan taburan kacang, gula halus, springkle warna-warni, dan sebagainya.




Sang kembaran kebetulan sejak kecil menyukai makanan manis ini. Alexa pertama kali makan Madeleine saat ayah mereka, Andra, membawa pulang makanan manis tersebut dari salah satu temannya. Sejak itu, Alexa sangat menyukai Madeleine. Sayangnya, semenjak mengalami gangguan makan, Alexa tidak pernah lagi bisa leluasa menikmati makanan manis kesukaannya. Ia takut Sussanne akan marah besar jika mengetahuinya.


"Gue bawa sesuatu buat lo."


Gadis yang duduk di atas ranjang seraya memeluk lututnya sendiri itu menoleh dengan gerakan pelan. "Madeleine," lirihnya.


"Lo tau?"


"Aroma butter nya khas dan kuat. Aku bisa menciumnya sejak kamu datang."


Alexander tersenyum tipis. Setidaknya sang kembaran masih bisa memberikan respon.


"Makan. Gue beli di tempat biasa."


Sang kembaran menoleh, menatap Madeleine yang dibawa Alexander. Dalam satu box, Madeleine yang disajikan diberi macam-macam topping. "Aku kenyang."


"Kapan terakhir lo makan? pasti udah lama, 'kan?" Alexander pura-pura tak mendengar. Ia tetap mengambil satu Madeleine dengan topping coklat lumer dan remahan kacang, kemudian diarahkan ke mulut sang kembaran. "Ayo buka mulut, sebelum gue berubah pikiran."


Alexa terdiam dengan tatapan masih tertuju pada Alexander. "Aku kenyang," ucapnya sebelum membuang muka ke samping.


"Bayi dalem perut lo yang kelaparan," ujar Alexander tiba-tiba. Kalimat itu ternyata berhasil membuat Alexa terpaku. "Lo nggak berencana buat mati kelaparan, 'kan?" lanjut Alexander, sarkas. "Makan. Jangan buat perut lo kosong. Gue ngisi kulkas, beli buah, healthy snacks, pastry, semua buat lo. Supaya lo sama calon keponakan gue nggak kelaparan."


"...."


"Dengar, Alexandria Natadisastra. Gue bakal ada buat kalian berdua. Jangan merasa sendirian," ucap Alexander seraya membawa salah satu punggung tangan kembarannya.


"Aku ....kotor."


Alexander menghela napas gundah kala mendengar kalimat itu lagi. "Nggak. Lo bukan benda yang bisa dianggap kotor setelah dipakai."


"Tapi...."


"Udah," potong Alexander. "Mending sekarang lo makan dulu, nanti siang kita pergi ke rumah sakit buat cek usia kehamilan lo."


Alexa menggelengkan kepala dengan cepat. Ia masih enggan untuk sekedar keluar kamar. Apalagi untuk menghadapi dunia yang kejam di luar sana.

__ADS_1


"Aku nggak akan kemana-mana."


"Lo harus pergi ke dokter!" pungkas Alexander penuh penekanan. "Kita harus pastikan kalau dia baik-baik aja."


"Aku nggak peduli."


"Ralat ucapan lo sekarang juga!" sorot mata tak suka Alexander layangkan pada sang kembaran. Alexa mungkin belum bisa menerima kehamilannya, namun Alexander tidak suka Alexa berucap demikian pada janin yang tidak tahu apa-apa. "Dia nggak salah apa-apa, Lexa. Kalian sama-sama nggak bersalah."


"Terus salah siapa? aku yang nggak becus jaga diri sampai dia hadir di perut aku!" jerit Alexa histeris.


"Kamu nggak salah," ucap Alexander seraya menggeser kan box berisi Madeleine yang ia bawa, supaya bisa memeluk sang kembaran. "Kalian nggak salah sama sekali."


"Hiks ....aku, capek ....hiks..."


"Iya, gue tau lo capek. Makanya lo banyakin istirahat," jawab Alexander seraya mengelus punggung sang kembaran. "Jangan pikirin apapun, selain kesehatan lo sama calon keponakan gue. Dunia di luar sana terlalu kejam buat sifat lo yang lemah ini. Lo harus kuat, Lexa. Tunjukkin ke mereka bahwa lo bisa melewati semua ini."


"Hiks .....hiks...."


"Semangat, Lexa. Kita berjuang sama-sama. Lo nggak sendirian, ada gue. Ada anak-anak PIONIX. Nggak semua orang jahat."


"Aku capek ....hiks...."


"Lo boleh capek," ucap Alexander seraya menjauhkan tubuhnya. Kedua tangannya beralih untuk menangkup kedua sisi wajah sang kembaran. "Tapi, ingat satu hal. Jangan pernah berpikir untuk menyerah, karena lo itu nggak lemah."


Alexa menggeleng lemah. "Tapi aku lelah."


Alexa menunduk dengan air mata yang kembali berjatuhan. Belakangan ini takdir seolah-olah tengah mempermainkan dirinya. Cobaan silih berganti menghampiri. Membuat Lexa bahkan kesulitan untuk menghirup udara bebas barang sehari. Ia depresi. Semua cobaan dijatuhkan bertubi-tubi. Namun, ia masih bisa bersyukur karena masih ada yang memberinya limpahan kasih sayang dan perhatian tiada henti.


"Aku nggak mau pergi ke rumah sakit, kalau itu yang mau kamu bicarakan," lirih Alexa yang kini berbaring membelakangi pintu masuk.


Sudah satu jam berlalu, kini kondisinya sudah jauh lebih stabil. Alexander juga berhasil membuatnya makan beberapa suap nasi merah dengan lauk capcay. Madeleine yang lelaki itu bawa juga sudah Alexa cicipi.


"Kenapa lo nggak mau ke rumah sakit?"


Punggung Alexa langsung membeku saat mendengar suara bariton tersebut. Suara yang beda sekali dengan suara deep bass milik kembarannya.


"Lo berencana buat bayi itu kenapa-napa?"


Alexa langsung berbalik, kemudian beranjak. Mengambil posisi duduk di pembaringan. "Darimana kamu tau soal itu?"


"Itu nggak penting," sahut lawan bicaranya seraya berjalan semakin dalam. "Lo harus pergi ke rumah sakit. Alexander udah siapin mobil di depan."


"Aku nggak mau."


"Alexander nggak nerima penolakan, begitu pula sama gue."

__ADS_1


"...."


"Kalau lo masih mau dianggap Adik, turuti perintahnya. Semua demi kebaikan lo." Lelaki dengan jaket berwarna Dongker itu kini sudah berdiri tepat di samping tempat tidur yang Alexa gunakan. "Bayi itu nggak salah apa-apa. Lo juga nggak sepenuhnya bersalah di sini."


Alexa mendengarkan, namun tidak memberi respon. Tak berselang lama, Alexa kembali bicara. "Kamu tidak akan mengerti apa yang aku rasakan."


"Gue memang mang nggak merasakan apa yang lo rasakan," balas Arga seadanya. "Tapi, Alexander merasakannya. Kalian punya intuisi, dia pasti merasakan apa yang sekarang lo rasakan."


"...."


"Gue memang belum pantas disebut Kakak buat lo dan Alexander, karena gue nggak pernah ada untuk kalian. Tapi, Alexander? dia udah pantas disebut sebagai seorang Kakak, karena dia menjaga kedua adiknya dengan baik."


Alexa menunduk mendengar perkataan Arga. Semua orang juga berada dalam posisi sulit, tidak terkecuali Alexander. Bukan hanya dirinya yang tersiksa juga terluka.


"Ayo."


Alexa mendongkrak, menatap ke arah datangnya telapak tangan yang terjulur ke hadapannya.


"Alexander sama gue bakal anter lo pemeriksaan ke rumah sakit."


"Jangan mengada-ada!" ujar Alexa tak suka. Melihat seorang Arganta Natadisastra ada di sini saja sudah seperti mimpi. Sekarang, kakak tirinya itu menawarkan diri untuk mengantar ke rumah sakit? lelaki itu sedang bercanda?


"Gue nggak lagi bercanda," ucap Arga dengan onyx hitamnya yang menatap Alexa. "Gue datang kesini karena Alexander bilang kembarannya butuh figur seorang Kakak."


"...."


"Kalau lo masih mau dianggap sebagai seorang Adik, lo harus nurut sama Alexander. Karena dia adalah Kakak yang bisa melindungi kedua adiknya."


Alexa mengangguk lirih dengan mata berkaca-kaca. "Kamu juga ....Kakak aku."


"Hm."


Alexa mengerjapkan mata tidak percaya. Arga baru saja merespon ucapannya?


"Karena gue juga Kakak lo, berarti lo harus nurut sama gue."


"...."


"Sepuluh menit lagi kita berangkat ke rumah sakit. Lebih baik sekarang lo siap-siap. Jangan berpikir untuk menolak apalagi memberontak, karena kesabaran gue lebih tipis dari Alexander."


🫐🫐


TBC


Semoga suka 🖤

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘


Tanggerang 28-12-22


__ADS_2