Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
²⁹UFB


__ADS_3

Seorang pemuda berseragam SMA Angkasa tengah duduk di antara meja dan kursi yang ditata seindah mungkin. Di hadapannya ada beberapa pasang manusia yang tentu saja amat familiar di matanya. Mereka tengah mengobrol dengan antusiasnya, seolah-olah melupakan kehadirannya yang memilih bungkam sejak tadi.


"Kamu kenapa sih diem mulu? kamu juga nggak makan apa-apa dari tadi. Appetizer, hidangan utama, sampai dessert nya nggak enak? mau aku pesankan yang baru?" tanya gadis berseragam SMA Angkasa pula yang sedang bergelayut manja pada bisepnya.


"Gak usah banyak bacot."


Gadis itu memberangus sebal. "Kamu kenapa sih, Ta?" dengan malas ia menjauhkan tubuhnya. "Kamu dari tadi kelihatannya badmood banget. Kenapa sih?"


Pemuda tampan itu mendengus kasar. "Lo tahu sendiri alasannya."


"Karena ada dia," gadis cantik itu mengarahkan telunjuknya pada seorang pemuda sebaya yang duduk di sebrang meja.


"Salah satunya."


Arga, pemuda tampan itu menatap muak ke sekeliling. Terutama pada pria paruh baya yang tengah berdiri dengan istrinya di depan sana. Harusnya ia tidak berada ke sini. Ke tengah-tengah lautan manusia yang membuang waktu cuma-cuma. Bukan keinginannya untuk duduk di salah satu kursi milik cafe & resto bintang lima yang ternama di kota ini.


Jujur, niat saja tidak pernah terbesit di kepala Arga untuk menghadiri acara dinner yang digagas oleh pasangan suami-istri Natadisastra yang menjadi salah satu donatur paling royal memberikan kucuran dana bagi SMA Angkasa.


Arga datang ke sini terpaksa, lebih tepatnya karena paksaan selir ayahnya. Bahkan wanita itu nekad mengirim orang-orang bayaran untuk mencari Arga k markas SPHINIX. Tak sampai di situ, wanita yang menyandang status sebagai ibu tirinya itu juga mengancam akan meratakan markas SPHINIX dengan tanah jika Arga masih membangkang. Anak-anak yang ada di markas tertentu kocar-kacir mencari Arga. Mereka langsung berupaya keras menghubungi Arga yang tak kunjung tiba di markas.


Karena alasan itu pula, Arga meninggalkan Nara begitu saja di di pinggir jalan. Membiarkan gadis tak berdosa meratapi nasibnya, ditinggal begitu saja di jalanan yang cukup sepi dan jarang dilewati kendaraan umum.


"****?!"


Mengingat itu saja sudah membuat Arga ingin mengumpat lagi dan lagi. Ia benci jadi laki-laki pengec*t. Namun, di sisi lain ia harus menyelamatkan organisasi nya terlebih dahulu. Bagaimana ia adalah seorang pemimpin. Organisasi adalah segalanya semenjak ia menjadi seorang pemimpin.


"Kamu kenapa sih, Ta?" bingung gadis cantik di sampingnya, bertanya kembali. Siapa lagi jika bukan Alexandria Natadisastra. "Kamu mau apa Ta? sharing with me. Mungkin bisa aku bantu."


"Gue pengen cabut," jawab Arga to the point.


"Kalau permintaan satu itu aku tidak bisa penuhi. Mamah sama Papah akan sedih kalau tahu kamu pergi."


"Gue nggak peduli!"


"Tapi, aku peduli, Ta. Papah sebentar lagi mau ikut pencalonan wali kota, sangat penting buat kita menjaga image keluarga harmonis untuk Papah."


Arga menoleh, menatap si lawan bicara dengan tajam. "Sejak kapan lo punya kebebasan untuk ngatur hidup gue?"


"Ta, bukan gitu. Aku cuma mau ngasih tahu kamu. Papah bekerja keras seperti ini juga buat kita. Supaya hidup kita enak."


"Kita?" Arga tersenyum remeh. "Maksud lo sama nyokap lo, gitu?"


Alexa menggelengkan kepala. "Kita itu aku, kamu, Mamah, Papah, dan Al...."


"Diem!" potong Arga tak suka.


Alexa menatap Arga lekat. "Kenapa, Ta? dia juga saudara kita. Kenapa aku nggak boleh sebut namanya?!"


"Saudara lo, bukan saudara gue," tukas Dean. Tanpa menunggu respon Alexa, Arga sudah terlebih dahulu beranjak. Meninggalkan kursi yang sempat ia duduki.


Kesabaran Arga hanya sebatas ini. Ia tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi.


"What's wrong with you, Ta?" gerutu Alexa, sebal.


Namun, ekspresi itu tak bertahan lama, sampai ia saat sesuatu yang tertinggal di atas meja. Dengan segera Alexa mengambil benda tersebut, mengetikkan beberapa huruf dan angka, membuat kombinasi sebuah kata sandi. Beberapa kali ia gagal, tetapi berhasil mendapatkan kemenangan saat ia memasuki tanggal lahir almarhum ibu Arga. Untung ia sempat mengetahui kombinasi angka dari tanggal, tahun, serta bulannya dari sebuah foto yang tersimpan di kamar Arga.


Setelah berhasil, Alexander gencar mengetik sesuatu di handphone Arga, lantas mengirimnya ke sebuah satu-satunya nomer yang di-sematkan paling atas. Setelah terkirim, Alexa langsung menghapus jejak perbuatannya. Serapih mungkin, agar Arga tidak curiga.


"Rasain lo cewek miskin."


Sedangkan di sisi lain Arga baru saja tiba di pelataran cafe & resto tempat sang ayah menyelenggarakan acara dinner. Arga sempat berpapasan dengan beberapa orang yang menyapanya, ada pula beberapa yang mencoba menghadang jalanya. Kendati demikian, Arga berhasil lolos.


Arga langsung tancap gas setelah berhasil lolos. Tujuannya tentu saja markas geng SPHINIX. Ia terlalu muak untuk berlama-lama di tempat barusan.


Orang luar bisa saja menganggap Arganta Natadisastra sebagai The Real Prince. Ia lahir dengan embel-embel Natadisastra di belakang namanya. Keluarga old money yang terpandang sejak lama. Namun, Arga tidak pernah menginginkan posisi tersebut. Jika boleh memilih, Arga lebih suka lahir dari orang tua yang berasal dari kalangan middle class.


Utama Natadisastra tak lebih dari ayah yang gila harta dan tamak akan jabatan. Ia dapat menghalalkan segala cara guna meraih apa yang ia inginkan. Di luar sana mungkin Utama Natadisastra adalah dewa, namun bagi Arganta Natadisastra, Utama tak ubahnya hama. Ya, hama yang awalnya hidup dengan cara menghisap keuntungan dari pihak lain.


"Ta, lo udah balik?"


Ibo adalah orang pertama yang menyambut kedatangan Arga di markas geng SPHINIX. Mendengar itu, hampir semua penghuni yang tengah bergotong-royong menoleh secara bersamaan.


"Bukanya nyokap lo nyariin, Ta?"


"Dia bukan nyokap gue!" koreksi Arga.

__ADS_1


Iki menepuk bibirnya yang salah berucap. "Typo, nyokap tiri lo maksud gue."


Arga tak menggubris pertanyaan tersebut. "Ada yang luka?" tanyanya sambil menatap sekeliling markas.


Mereka mengangguk. Anak-anak geng SPHINIX sedang gotong-royong membenahi sisa kekacauan yang dibuat oleh orang-orang suruhan Susanne, ibu tiri Arga.


"Hilman luka di kepala pas adu jotos sama orang suruhan nyokap tiri lo. Kepalanya ke bentur."


"Iya, Ta. Sama Jurik, tangan kirinya patah, sekarang udah dibawa ke rumah sakit terdekat."


Arga masih mendengarkan dengan seksama. Laporan dari teman-temannya lebih dari cukup untuk menggambarkan tabiat asli dari wanita yang ayahnya nikahi. Wanita itu punya segala cara untuk menekan Arga, termasuk menggunakan kelemahan Arga. Utama dan Sussanne memang pasang yang cokok, definisi saling mengisi kekurangan masingmasing. Sama-sama gila harta dan ambisi juga.


"Kita ke rumah sakit. Lo hubungin orang-orang cafe, suruh tutup lebih awal," instruksi Arga pada Ibo.


"Oke."


"Libra mana?" tanya Arga.


"Libra sama Orion nganterin Hilman sama Jurik ke rumah sakit," tutur salah satu di antara mereka.


Arga mendengarkan. "Seberapa persen kerusakan markas?"


"Nggak terlalu parah sih, Ta. Cuma beberapa barang bengkel ada yang penyok. Sama ini, beberapa barang pecah akibat kebrutalan orang-orang suruhan nyokap tiri lo," jawab Iki. "Nyokap tiri lo  nyewa algojo ya, Ta? Badanya gile, keker amat kek binaragawan."


"Bukan."


"Terus apaan?" penasaran Iki.


"Pembunuh bayaran."


Jawaban Arah bukan saja berhasil membungkam Iki, namun anak-anak yang lain.


"Lo urus dulu markas, Ki. Gue ke rumah sakit duluan."


Iki mengangguk paham sebagai jawaban.


"Kalau butuh biaya perbaikan bengkel, pake ATM gue. Lo tahu password nya."


Iki mengangguk lagi saat menerima kartu ATM yang dilemparkan begitu saja oleh Arga.


🫐🫐


"Baik. Mereka udah ditangani sama dokter. Mungkin bentar lagi dipindahin ke ruangan inap," awab Libra seraya melihat siapa yang baru saja bertanya. "Lo udah lihat kondisi markas, Ta?"


"Hm."


"Nyokap tiri lo nyuruh pembunuhan bayaran?" Libra bertanya dengan raut serius.


"Hm, wanita itu memang gila."


"Sayangnya, wanita gila itu masih berstatus nyokap tiri lo, Ta." Bukanya tersinggung dengan ucapan Libra, Arga malah menyeringai tipis.


"Pembunuh mau berstatus apapun tetaplah pembunuh."


"Iya sih, tapi tetep aja. Masyarakat luar tahunya Utama Natadisastra sangat mencintai istrinya Susanne Natadisastra. Wanita bermuka dua yang kejamnya tidak ada duanya."


"Bisa aja lo, Lib," komentar Eden yang sejak tadi hanya menyimak.


Ketiganya saat ini tengah berada di depan unit gawat darurat. Menunggu dua teman mereka yang tengah mendapatkan penanganan.


"Ta, lo nggak mau cerita sesuatu?" tanya Orion tiba-tiba dengan ekspresi flat khasnya.


"Lo udah lebih dari tahu, tanpa harus gue kasih tahu," jawab Arga datar. Faktanya, orang yang paling mengenal Arga memang Orion. Disusul oleh Libra, barulah Iki.


"Soal ceweknya Seno, lo nggak mau jelasin sesuatu?" Libra ikut-ikutan angkat bicara.


"Sekarang dia cewek gue," koreksi Arga.


Libra manggut-manggut mendengarnya. "Hmm, maksud lo dalam artian apa nih?" pacar antara cowok sama cewek pada umumnya, atau pacar cuma buat ngelindungi cewek yang udah diamanahkan Seno?"


Arga tidak menjawab. Ia memilih bungkam.


"Lo nggak lupa sama panji-panji kita 'kan, Ta?" imbuh Libra.


"Hm."

__ADS_1


"Terus kenapa lo harus pacaran sama dia, Ta? pake ditandai segala. Dia itu penyebab Seno mati kalau lo lupa!"


Arga menatap Libra. "Bukan dia."


"Udah jelas-jelas dia yang mengkhianati Seno, Ta. Seno mati dibunuh sama anak PIONIX karena alasan itu. Lo lupa?!"


"Bukan dia alasannya!" dalih Arga.


"Terus apa alasannya kalau bukan dia? Lo tahu sendiri kalau Seno bucin. Sedangkan dalam waktu bersamaan cewek itu deket sama Alexander yang notabene wakil ketua PIONIX yang waktu itu mau memisahkan diri. Kurang valid apalagi opini gue?"


Orion beranjak. Jika sudah begini, Libra akan lepas kendali lagi. ia harus turun tangan untuk menengahi.


"Udah, Lib. Kita bisa bicarakan baik-baik."


"Tapi gue butuh jawaban dia, bukan lo," ujar Libra, emosi. "Kenapa, Ta? kenapa lo harus jadian sama cewek bekas Seno? lo lihat sendiri 'kan, dia masih deket sama Alexander yang notabene adik tiri lo sendiri!"


Bak telah diusik tidur nyenyak, pada akhirnya jiwa pemburu dalam tubuh Arga terbangun. Ia dengan kecepatan kilat mendekati Libra, lantas mencengkram baju bagian atas yang dikenakan sahabatnya itu.


"Dia bukan siapa-siapa gue," ujarnya penuh penekanan.


Libra yang jadi samsak hidup bagi Arga mulai terbatuk-batuk. Posisi tersebut membuat pasokan udara yang masuk ke tubuhnya menipis.


"Dia bukan adik gue bangs*t!"


Libra baru saja akan mencicipi pukulan telak Arganta Natadisastra, jika saja Orion tak bergegas melerai.


"Tahan emosi lo, Nata!"


Panggilan itu, batin Arga langsung mengenalinya. Panggilan khusus yang biasa digunakan almarhumah ibunya. Selain almarhumah, memang hanya Orion, Libra, dan Iki yang dapat kesempatan untuk memanggilnya demikian.


Panggilan tersebut nyatanya berhasil membuat Arga sadar, dan segera melepaskan Libra masih terbatuk-batuk.


"Urus mereka, gue cabut."


🫐🫐


"Iya. Ini Saya Susanne, ibunya Alexandria Natadisastra." Wanita yang tidak muda lagi, namun masih terlihat awet muda berkat perawatan mahal itu berujar seraya mengangguk samar.


Tadinya ia sedang mengobrol dengan para istri dari tamu undangan saat ada panggilan masuk. Panggilan tersebut ternyata berasal dari guru les piano sang putri yang hari ini kedapatan mangkir dari jadwal les rutinnya. Gadis itu tidak memberikan konfirmasi apa-apa, padahal ia sudah mewanti-wanti untuk memberitahu guru les piano nya yang bukan orang biasa.


Susanne sengaja mendatangkan seorang pianis terkenal asal luar negeri untuk melatih putrinya, supaya piawai memainkan tuts-tuts piano. Susanne punya mimpi, jika suatu saat nanti putrinya bisa menggelar pertunjukan sendiri. Saat mimpi itu terwujud, ia pasti akan menjadi orang yang paling bangga. Asetnya telah memiliki satu lagi hobby orang-orang high class.


"Iya. Mungkin handphone Alexa sedang di-silent, kami sedang ada acara lunch bersama. Sorry ya, Miss."


"...."


"Iya. Besok les Piano Alexa bisa kembali dilakukan seperti schedule biasanya."


"...."


"Baik, thank you, Miss. Lusa saya akan kirim gift spesial lagi untuk Anda."


Wanita yang baru saja menutup sambungan telepon itu menghela nafasnya gusar. Belum selesai pening di kepalanya akibat putra tirinya yang pergi begitu saja, sekarang ada lagi problem yang muncul akibat tindakan ceroboh sang putri.


"Ck, kapan anak-anak itu berhenti membuat masalah," decaknya. Baru saja hendak kembali masuk ke dalam Cafe, matanya tanpa sengaja menangkap sosok pria berpakaian lusuh yang tengah berjalan dengan membawa dua kantong kresek hitam besar di masing-masing tangan.


Susanne sempat lupa mengedipkan mata saat berhasil melihat keseluruhan wajah pria yang juga menggunakan topi nelayan lusuh tersebut.


"Andra ....masih hidup?"


...🫐🫐...


...TBC...


PENASARAN NGGAK TUH?!


LANJUT? JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, ADD KE LIBRARY, SHARE & FOLLOW AUTHOR 🤗


Jangan lupa mampir ke anak baru Author yang akan tayang selamat dua bulanan ❤️


Judul : SEKRETARIS PLUS-PLUS


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇


__ADS_1


Tanggerang 23-11-22


__ADS_2