
Malam hari setelah sholat Isya, Asyifa duduk sendiri di kamarnya, terlihat kesedihan di wajahnya sambil memegang cadar.
Sampai saat ini aku masih mengharapkanmu tapi mungkin kita ditakdirkan hanya jadi saudara batin Asyifa.
Omanya masuk ke kamar setelah mengetuk pintu.
"Lagi mikirin apa?" tanya Omanya saat duduk di samping Syifa.
"Ah ini Oma, kan waktu itu Oma ingin Syifa ta'aruf sama kenalan Oma, boleh gak Syifa melihatnya dulu, nanti kalau cocok baru diteruskan," ucap Asyifa
Omanya tersenyum senang, "Iya Oma akan mengatur semuanya, kita ketemu dia secepatnya."
Asyifa mengangguk dan tersenyum sedikit melihat Omanya.
Setelah Omanya keluar, Asyifa menelpon Husna menceritakan tentang perjodohannya.
Husna ikut bahagia mendengarnya tanpa tau sebenarnya Asyifa sedikitpun tidak bahagia.
*
Hari berikutnya
Asyifa dan keluarganya sedang menunggu orang yang akan ta'aruf sama Asyifa.
"Ummi, Syifa ke taman belakang sebentar ya," ucap Asyifa
"Iya, jangan lama," kata Annisa
Asyifa langsung berjalan ke belakang, Ia menghela nafas karna grogi.
Mungkin ini keputusan yang tepat batinnya
Asyifa duduk sebentar di tempat biasa dia santai.
Asyifa kembali bangkit, saat berbalik Ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya berada tepat di belakangnya walau agak sedikit jauh.
Asyifa berdiri mematung melihat Daffa di depannya ditemani Annisa, matanya Syifa mulai berkaca-kaca saat melihat Daffa.
"Aku menepati janjiku untuk bersamamu disaat waktunya tepat," ucap Daffa tanpa basa basi.
__ADS_1
Asyifa menitikkan air mata mendengarnya.
"Saat itu aku pergi bukan karna tidak suka, tapi aku ingin menjaga supaya kita gak berbuat dosa, karna pandangan saja bisa menyebabkan dosa." Daffa tersenyum.
Asyifa masih diam, hanya tangisan yang terlihat di wajahnya.
"Di sini, di tempat ini, dan di samping Ummi, aku ingin bertanya, maukah kamu menerima lamaran laki-laki biasa ini?" tanya Daffa
Asyifa semakin kuat menangis karna terharu, Ia menunduk karna malu menangis bersuara.
Perlahan Ia mengangguk setuju, Annisa tersenyum saat menyaksikannya semuanya.
Daffa tersenyum bahagia saat Asyifa mengangguk karna tandanya Syifa setuju.
Yang lain juga melihat dari tempat agak jauh, Asyifa menangis tersedu-sedu, tiada henti tangannya mengusap air matanya sendiri.
Annisa mendekat ke arah Asyifa yang masih terus menangis, dia langsung memeluk Syifa untuk menenangkannya.
"Sudah gak usah nangis lagi," ucap Annisa
"Kemarin Arka bilang Daffa akan melamar perempuan cantik ternyata Arka bohong," ucap Asyifa
"Terus Oma bilang akan menjodohkan Syifa sama kenalannya yang seorang guru muda, bagaimana dengan orangnya nanti?" ucap Asyifa
"Daffa sekarang sudah jadi guru muda di SMA Nusantara, jadi orang yang ingin dijodohkan sama Syifa ya Daffa orangnya," kata Annisa
Asyifa semakin jadi menangis seperti anak kecil saat mengetahui Oma mengerjainya.
Daffa hanya tersenyum saat melihat Syifa membenamkan wajahnya di pundak Umminya karna malu.
*
Hari pernikahan pun tiba, Daffa sudah duduk di depan Reyhan.
Akad pun sudah dilangsungkan, Daffa memakaikan cincin kawin lalu mencium kening Asyifa untuk pertama kalinya.
Mereka saling menatap bahagia.
Husna sahabat Asyifa juga tersenyum melihat mereka.
__ADS_1
Mereka bicara di tempat agak jauh.
"Aku akan menjadi Istri dan Ibu terbaik seperti Ummi Annisa," ucap Asyifa
Daffa mengangguk sambil tersenyum dan langsung memeluk erat Asyifa.
Asyifa membalas pelukannya.
Daffa memegang cadar lalu memakaikannya pada Asyifa.
"Wajah ini hanya boleh dilihat suamimu dan juga mahrammu," ucap Daffa
Asyifa mengangguk haru dan kembali memeluk Daffa
Semua keluarga tersenyum ke arah mereka.
*
*
End
*
*
*
Terima kasih pembaca setia, terus vote ya biar rankingnya gak jatuh walau sudah tamat, dan untuk bab tambahan tergantung vote kalian.
Terima kasih karna selama ini selalu mendukung saya dengan vote, like, dan komen-komen kalian yang hampir semua gak pernah menyinggung saya, berkat dukungan kalian saya bisa hingga tahap ini.
Dan maaf karna mungkin novel ini masih banyak banget kekurangannya dalam hal agama bagi kalian yang sudah paham benar tentang islam, tapi saya bukanlah ahli agama jadi nulis cerita islamnya gak bisa sempurna, saya hanya perempuan yang masih belajar menjadi baik.
*
Baca juga novel terbaru saya judulnya Akhir yang bahagia, berikan dukungan kalian di novel terbaru saya juga ya.
Instagram : dwikaryani84
__ADS_1