WANITA BERCADAR ( ISTRI DAN IBU TERBAIK )

WANITA BERCADAR ( ISTRI DAN IBU TERBAIK )
52


__ADS_3

Annisa sudah selesai di periksa.


"Untung jatuhnya kaki dulu, kalau kepala dulu yang jatuh maka bisa sangat berbahaya, ini cuma keseleo kaki kiri dan tangan kiri, jangan banyak gerak dulu" ucap Dokter


"Alhamdulillah, tapi kepalanya gak kenapa-kenapa kan?" tanya Reyhan


"Iya gak apa-apa, ya sudah saya permisi dulu" ucap Dokter


"Terima kasih dok" ucap Reyhan


Dokter berlalu pergi .


Reyhan melihat ke arah Annisa yang sedang memeluk Syifa saat berbaring.


"Maafin Syifa ya Ummi, Syifa janji akan meminta izin Ummi dulu saat Syifa mau pergi sama Mama" ucap Syifa sedih


"Iya, lain kali harus tunggu Ummi datang ya, tapi Syifa gak salah kok, ini salah Ummi karna gak hati-hati hingga jatuh" ucap Annisa


Reyhan mengusap kepala Annisa lalu ikut memeluknya.


Orang tua Reyhan datang.


"Assalamu'alaikum" ucap Janeta saat buru-buru buka pintu.


"Waalaikum salam" ucap semuanya sambil melihat ke arah pintu.

__ADS_1


"Apa yang terluka" ucap Janeta khawatir


"Cuma keseleo Ma, gak ada yang luka kok" ucap Annisa


"Apa kalian sudah lapor polisi?" tanya Pramana


Annisa melihat ke arah Syifa.


Janeta langsung mengangkat Syifa dan membawa nya keluar.


Setelah Syifa di luar Pramana kembali bicara.


"Kalian tidak bisa membiarkan Denada bebas seperti itu" ucap Pramana


Reyhan melihat ke arah Annisa.


"Tapi tadi dia menampar Nisa, membuka cadar dan jilbab Nisa, itu hal yang gak wajar" ucap Reyhan


"Ya, orang normal gak mungkin melakukan hal itu, dia pasti sudah gila, kalau dibiarkan dia pasti akan melakukan hal yang lebih parah dari ini" ucap Pramana kesal


"Pa, kita harus memikirkan perasaan Syifa, dia masih kecil, saat ini dia baru tau kalau Mbak Denada adalah Mamanya, tadi dia saja masih shock karna melihat kelakuan Mamanya, jika Mbak Denada dilaporin ke polisi bagaimana dengan Syifa" ucap Annisa


"Syifa akan mengerti kalau orang jahat pantas seperti itu, dia pasti gak masalah" ucap Reyhan


"Sekarang Syifa tidak akan masalah, tapi saat dia besar, saat orang-orang atau temannya tau dia akan sangat malu dan tertekan sehingga akan mengganggu pikirannya, jadi untuk masalah ini kita bicarakan saja baik-baik dengan Mbak Denada" kata Annisa

__ADS_1


Setelah mereka bicara Pramana keluar dan langsung mengendong Syifa.


Pramana menatap Syifa dengan sedih.


Janeta mengerti apa yang ada di pikiran suaminya.


"Nisa tau mana yang baik jadi biarkan Nisa dan Reyhan yang membuat keputusan" ucap Janeta


Pramana mengangguk


Di dalam kamar rawat, Annisa tersenyum ke arah Reyhan.


Reyhan duduk di sampingnya dan memeluknya erat.


"Maaf kan Abi karna membuat Ummi jadi seperti ini" ucap Reyhan


"Ini bukan salah Abi, oh ya Bi maaf ya untuk beberapa hari ini mungkin Ummi gak bisa ngerjain pekerjaan rumah" ucap Annisa


"Kita punya Mbak Ratih jadi tenang saja" kata Reyhan


"Abi telpon Mbak Ratih dulu minta dia ke sini bawain baju ganti umi" ucap Reyhan


"Sekalian cadar" kata Annisa


Reyhan mengangguk dan langsung mengambil ponselnya lalu menelpon ke telpon rumah.

__ADS_1


Mbak Ratih mengangkatnya dan langsung mengerti.


__ADS_2