WANITA BERCADAR ( ISTRI DAN IBU TERBAIK )

WANITA BERCADAR ( ISTRI DAN IBU TERBAIK )
39


__ADS_3

1 jam kemudian


Mereka makan siang bersama, Annisa membuka cadarnya karena saat ini hanya ada mereka bertiga, Reyhan tersenyum ke arahnya, wajah ini semakin hari semakin cantik, sedikitpun dia tidak pernah bosan menatapnya.


"Enak gak? " tanya Reyhan saat menoleh ke arah Syifa


"Lebih enak buatan Ummi," jawab Syifa jujur


"Iya, masakan Ummi jauh lebih enak, apalagi ikan bakar buatan Ummi gak ada duanya," ucap Reyhan memuji dengan tulus,


Annisa hanya tersenyum


Tiba-tiba asisten Reyhan mengetuk pintu, Annisa buru-buru memakai cadarnya.


Asisten Reyhan menunduk


"Maaf Pak mengganggu," ucap Riko asistennya


"Iya ada apa?" tanya Reyhan


"Klien yang kemarin, minta bertemu di restoran kemarin juga, sejam lagi ketemu di sana katanya," ucap Riko


"Iya, terima kasih," kata Reyhan


Riko pamit pergi dan langsung menutup pintu dengan rapat.


"Ya sudah makan lagi, nanti Abi antar kalian pulang," ucap Reyhan


"Gak usah Bi, kami pulang naik taksi saja, kan mau langsung ke mall milik Papa," ucap Annisa


"Gak apa masih sempat kok, Abi antar ke sana dulu, nanti pulang dari sana baru naik taksi," kata Reyhan memaksa


"Baiklah," kata Annisa


Mereka menyelesaikan makan, lalu bersiap pergi.


Reyhan mengendong Syifa dan mengandeng tangan Annisa saat mereka berjalan keluar.

__ADS_1


Pegawai melihat mereka pergi dan semuanya tersenyum, mereka ikut bahagia saat melihat tiga orang ini yang selalu bahagia saat pergi bersama.


Mereka menuju ke mall.


Sesampainya di mall seperti biasa Reyhan membukakan keduanya pintu mobil.


"Abi langsung pergi ya, nanti kalau ada apa-apa telpon saja," ucap Reyhan


Annisa mencium tangan Reyhan begitu juga Syifa.


Reyhan mencium pipi keduanya lalu kembali masuk ke mobil dan melambaikan tangan.


Annisa dan Syifa juga melambaikan tangan sampai mobilnya jalan menjauh.


Keduanya berjalan masuk, tanpa mereka sadari Denada melihat dari dalam mobil yang tidak terlalu jauh dari posisi mereka.


"Seharusnya aku yang berada diposisimu," gumam Denada sambil menatap tajam ke arah Annisa yang berjalan masuk menggandeng putrinya.


Denada keluar dari mobil dan langsung mengikuti keduanya.


Dari dulu Reyhan memang sosok yang romantis, rasanya sakit banget saat melihat dia seperti itu pada wanita lain batin Denada yang saat ini merasa iri.


"Annisa!" panggil Bianca buru-buru.


Annisa menoleh ke belakang dan langsung kaget melihat Denada.berada di depan Bianca.


Annisa memegang Syifa dan langsung masuk bersama Bianca yang sudah berjalan melewati Denada tanpa memperdulikannya.


"Siapa wanita tadi?" tanya Bianca setelah mereka masuk.


"Mantan istrinya Mas Reyhan," bisik Annisa supaya tidak terdengar Syifa


"Pantes dari tadi tatapannya aneh banget, kamu harus berhati-hati," ucap Bianca


Annisa mengangguk, "Rasa bersalah banget gak nyapa dia, tapi takut juga nanti Mas Reyhan marah," ucap Annisa


"Ya jangan disapa, kecuali dia menyapa lebih dulu," kata Bianca

__ADS_1


"Kita langsung ke atas saja ya cari pakaian bayi kamu," ucap Annisa


Bianca mengangguk, keduanya berjalan menggandeng tangan Syifa.


Mereka memilih beberapa pakaian saat berada di tempat pakaian bayi.


"Ummi.. itu Opa ada di sini," ucap Syifa menunjuk kearah tertentu.


Annisa menoleh ke arah yang ditunjuk Syifa.


"Bianca sebentar ya, Nisa ke sana dulu," ucap Annisa


Bianca mengangguk, dia sendiri masih sibuk memilih.


Annisa dan Syifa mendekat ke Pramana yang sudah melihat kedatangan mereka.


"Syifa," sapa Opanya


Annisa mencium tangan mertuanya, Syifa juga mencium tangan Opanya.


"Kalian sudah lama?" tanya Pramana


"Baru saja pa," jawab Annisa


"Kalian mau beli apa?" tanya Pramana


"Pakaian untuk Syifa sama untuk anak teman Nisa itu," kata Annisa sambil menunjuk kearah Bianca yang sibuk memilih.


"Ya sudah ambil saja nanti Papa urus semuanya, Syifa biar sama Papa dulu ke atas," ucap Pramana saat melihat ke arah Annisa


Annisa mengangguk


"Kalian ke sini sama siapa?" tanya Pramana lagi


"Tadi di antar Mas Reyhan tapi dia harus ketemu klien jadi gak bisa nemenin kami," kata Annisa


"Ya sudah nanti pulang sama Papa saja," ucap Pramana

__ADS_1


Annisa mengangguk, ini mertuanya jadi dia tidak akan menolak.


Pak Pramana berjalan pergi bersama Syifa ke lantai atas.


__ADS_2