
Malam hari, Annisa melihat Syifa yang sudah tertidur pulas.
Reyhan juga melihat dari pintu, Annisa tersenyum ke arah Reyhan.
Annisa menyelimuti Syifa lalu berjalan pergi dari kamar.
Annisa duduk bersama Reyhan di ruangan nonton TV, Reyhan membuka siaran berita.
"Tadi sewaktu di mobil saat kita pulang, Abi bilang ada yang ingin Abi bicarakan, apa itu?" tanya Annisa memulai pembicaraan.
"Hemmm.... ini lo tentang salah satu pegawai Abi, dia sudah menikah sekitar 8 tahun tapi belum dikasih anak sama Allah seperti kita" ucap Reyhan hati-hati.
"Terus?" tanya Annisa
"Terus kemarin Riko cerita kalau pegawai itu mengundurkan diri, karna dia sekarang sedang hamil melalu proses bayi tabung" ucap Reyhan
"Apa Abi ingin kita juga seperti itu?" tanya Annisa
"Iya, tapi apakah Ummi mau melakukannya?" tanya Reyhan balik sambil memegang tangan Annisa.
Annisa mengangguk dan tersenyum.
"Kalau begitu, besok kita langsung ke rumah sakit untuk bertanya tentang ini" ucap Reyhan
"Iya" ucap Annisa semangat sambil tersenyum bahagia.
Reyhan ikut bahagia melihat senyuman Annisa.
Reyhan mengusap kepala Annisa yang sudah tidak memakai jilbabnya.
__ADS_1
Keesokan harinya, setelah mengantar Syifa ke sekolah, Annisa dan Reyhan pulang sebentar.
Di rumah Annisa langsung berganti pakaian begitu juga Reyhan.
"Ummi kalaupun nanti gagal prosesnya, Ummi harus janji gak akan sedih" ucap Reyhan saat melihat Annisa di depan kaca.
"Iya Ummi janji, yang penting kita sudah usaha" ucap Annisa sambil menoleh ke arah Reyhan.
"Berangkat sekarang?" tanya Reyhan
"Iya, mungkin sekarang Dokter Farah sudah datang ke rumah sakit" ucap Annisa saat berdiri dan merangkul erat lengan Reyhan.
Mereka langsung keluar rumah, terlihat Mbak Ratih baru datang bersamaan dengan 2 pegawai baru.
Annisa langsung mendekati mereka yang baru datang.
"Saya mau pergi dulu, Mbak Ratih tolong buka toko ya" ucap Annisa
Annisa pun pamit pergi dan langsung masuk ke mobil bersama Reyhan.
Reyhan mulai menjalankan mobilnya.
Beberapa waktu kemudian mereka sampai di depan rumah sakit, Reyhan langsung membukakan pintu mobil untuk Annisa.
Annisa pun turun dan langsung berjalan sambil memegang lengan Reyhan.
Mereka berjalan perlahan menuju ruangan Dokter Farah.
Saat di depan ruangan Dokter Farah terlihat beberapa pasangan suami istri yang juga datang untuk periksa.
Annisa dan Reyhan duduk mengantre.
__ADS_1
Sesekali Annisa melihat ke arah Reyhan, Reyhan juga melihat ke arahnya.
"Gak apa ya kita ngantre" ucap Reyhan
"Iya gak apa, gak juga lama kok" kata Annisa
Reyhan menggenggam erat tangan Annisa.
Satu persatu di panggil masuk tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.
"Lama ya?" tanya Reyhan pada Annisa yang duduk sudah tidak tenang.
"Gak kok, cuma rasanya sudah mulai pegal" ucap Annisa
"Setelah ini sudah giliran kita kok" kata Reyhan masih menggenggam tangan Annisa
Annisa mengangguk, lalu giliran mereka tiba.
Annisa dan Reyhan masuk dan di persilakan duduk oleh Dokter Farah.
Reyhan mulai menceritakan rencana mereka tentang bayi tabung.
"Sebelumnya maaf ya Pak, Bu, tentang proses bayi tabung tidaklah mudah, saya ingin memberitahukan risikonya dulu" ucap Dr.Farah.
"Apa resikonya?" tanya Reyhan
"Risikonya saat prosedur pengambilan sel telur, mungkin terjadi infeksi, pendarahan atau menyebabkan gangguan pada usus atau organ lain. Ada pula risiko dari obat-obatan yang digunakan untuk menstimulasi ovarium yaitu sindrom hiperstimulasi ovarium. Efek yang dirasakan beragam, mulai dari kembung, kram atau nyeri ringan, penambahan berat badan hingga rasa sakit yang tak tertahankan pada perut. Efek yang berat harus ditangani di rumah sakit walaupun biasanya gejala hilang ketika siklus ovarium selesai" ucap Dr.Farah serius
Annisa dan Reyhan saling menatap lalu kembali melihat ke arah Dokter Farah.
"Selain itu, masih ada beberapa risiko lain dari prosedur bayi tabung, yaitu risiko keguguran, kehamilan kembar, jika embrio yang ditanamkan ke dalam rahim lebih dari satu, kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah, kehamilan ektopik atau di luar Rahim, bayi lahir dengan cacat fisik, stres karena prosedur bayi tabung dapat menguras tenaga, emosi dan keuangan. Apa kalian siap?" ucap Dokter Farah yang semakin serius.
__ADS_1