
Reyhan berangkat kerja, saat di tengah perjalanan, Reyhan menghentikan mobilnya di tempat sepi.
Reyhan menunduk, kepalanya ada di stir mobil.
Semoga keluargaku selalu dalam lindungan Allah, semoga Syifa bisa bahagia walau jauh dari kami dan semoga Annisa bisa segera sadar, kalaupun sudah takdirnya untuk pergi cepat, semoga Annisa di tempatkan di Surga terindah karna dia adalah perempuan sholeha batin Reyhan
Reyhan menatap ke arah depan sambil melihat daun-daun berjatuhan.
Mungkin kehidupan manusia seperti daun-daun itu batin Reyhan
Reyhan kembali menjalankan mobilnya menuju kantornya.
Di tempat lain Riana sedang membersihkan teras rumahnya, Dion datang lagi ke rumahnya.
Riana berhenti menyapu dan langsung menatap ke arah Dion, Rafa keluar dari rumah dan langsung memeluk Dion.
"Papa ke sini lagi apa mau jemput Rafa lagi?" tanya Rafa senang.
Dion melihat ke arah Riana sambil tersenyum.
"Papa ingin menjemput Rafa dan Mama, kalau Mama mau" ucap Dion
Riana hanya diam mendengarnya.
"Rafa masuk dulu, Papa bicara dulu sama Mama" ucap Dion
Rafa mengangguk dan langsung berjalan masuk.
Dion langsung mendekat ke depan Riana.
"Kita belum bercerai, bisakah kau memberiku kesempatan sekali lagi?" tanya Dion tulus
Mata Riana berkaca-kaca mendengarnya.
"Menurut hukum kita memang belum bercerai, tapi menurut agama kita sudah bercerai" ucap Riana
"Maafkan semua kesalahanku, mulai sekarang aku akan berusaha membuat kamu dan Rafa bahagia, ayo kita mulai dari awal lagi" ucap Dion saat menatap mata Riana
__ADS_1
Air mata Riana seketika itu langsung tumpah.
Dion ingin menghapus air matanya tapi tidak jadi.
"Maafkan aku, kau pantas membenciku" ucap Dion
Riana menggeleng
"Aku gak membencimu," ucap Riana
Dion tersenyum
"Apa kau mau memberiku kesempatan mengubah diri?" tanya Dion
Riana mengangguk
*
Beberapa hari berlalu, Kondisi Annisa semakin melemah, Reyhan terlihat pasrah saat melihat Dokter dan perawat panik.
Dokter langsung menggunakan defibrillator ke Annisa.
Reyhan hanya diam saat melihat semuanya dari kaca pintu ruangan.
Kedua orang tua Reyhan dan orang tua Annisa juga berdiri dengan cemas.
Pak Pramana memegang Reyhan untuk memberikannya semangat.
Mata Reyhan tetap tertuju pada Dokter yang sedang berjuang untuk menyelamatkan Annisa.
Dokter melihat ke arah perawat sambil menggeleng, Reyhan panik dan langsung membuka pintu, Reyhan berjalan perlahan menuju ke arah Annisa yang sedang terbaring.
"Pak tolong keluar dulu" ucap perawat yang mencegah Reyhan mendekat.
Reyhan tetap melanjutkan jalannya dan langsung memeluk Annisa yang masih terbaring.
Tapi sedikitpun air matanya tidak menetes seperti sudah ikhlas dengan semua yang akan terjadi.
__ADS_1
Pramana masuk dan menarik Reyhan keluar karna Dokter belum selesai.
Mata Reyhan berkaca-kaca saat melihat Dokter kembali berusaha menolong Annisa.
Reyhan tetap melihat ke arah Annisa hingga pintu perlahan ditutup oleh perawat.
Reyhan duduk menunduk menahan kesedihannya.
*
10 tahun berlalu
Reyhan berjalan ke kamarnya dan langsung membuka laci yang berisi album foto.
Reyhan mengambil album foto itu dan langsung membukanya dari lembar pertama, air matanya tumpah saat melihat fotonya bersama Syifa dan Annisa.
Perlahan air matanya menetes mengenai foto Syifa dan juga Annisa.
Reyhan mengusap pelan air matanya.
"Abi..." panggil kedua anak kembar Reyhan.
Reyhan menoleh dan langsung tersenyum, keduanya memeluk Reyhan.
Reyhan melihat ke arah pintu, terlihat seorang anak laki-laki lagi yang memakai seragam SMA tersenyum juga ke arahnya.
"Abi..." panggil anak laki-laki itu.
Reyhan membalas senyuman anak laki-laki itu.
"Terima kasih sudah menjemput sikembar" ucap Reyhan
( END )
__ADS_1