WANITA BERCADAR ( ISTRI DAN IBU TERBAIK )

WANITA BERCADAR ( ISTRI DAN IBU TERBAIK )
36


__ADS_3

Denada melihat tangannya sendiri yang baru habis di tepis Reyhan tanpa perasaan.


Reyhan menarik Annisa pergi tanpa bicara lagi.


Mereka masuk ke mobil, Denada diam dan hanya menatap kepergian mereka, dia masih sedikit shock saat tangannya ditepis, karena sejak mengenal Reyhan, ini pertama kalinya tangan ini ditepis tanpa perasaan.


Di dalam mobil, Reyhan masih sedikit kesal mengingat tangannya disentuh Denada.


"Syifa lain kali jangan main sama orang gak di kenal. Mengerti?" ucapnya dengan kesal, dan ini pertama kalinya ucapannya tidak enak didengar.


Syifa hanya mengangguk, dia sedikit takut melihat wajah serius Abinya.


Annisa ingin bertanya tapi tertahan saat melihat wajah marah Reyhan.


Jadi sepanjang perjalanan mereka hanya diam, sampai saat depan rumah mereka semua turun dari mobil.


Annisa menurunkan Syifa, Reyhan sudah berjalan duluan tapi langsung berbalik lagi dan berjalan menuju Annisa yang masih di dekat mobil. Walau sedang kesal tapi di masih mengingat orang tersayangnya.


Reyhan mengambil tangan Annisa dan Syifa dengan lembut.


"Ayo masuk," ajaknya pelan, tidak seperti tadi yang sedikit kesal.


Annisa dan Syifa yang sama-sama diam langsung berjalan mengikuti Reyhan masih dalam diam.


Di dalam rumah


Syifa masuk ke kamarnya, sedangkan Reyhan juga menarik Annisa ke kamar ingin bicara supaya tidak terdengar oleh Syifa. Dia menutup pintu dengan pelan lalu duduk di lantai di hamparan bersih.


Annisa mengikutinya duduk di lantai di depannya.


"Ummi, besok Syifa gak usah masuk sekolah lagi, kita pindahin Syifa ke sekolah lain," ucap Reyhan tanpa basa basi lagi, sepertinya ini sudah keputusan yang bulat yang telah dia pikirkan lama, mungkin sepanjang perjalanan saat mereka diam, dia berpikir tentang ini.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Annisa saat menatap suaminya yang sudah mengerutkan kening.


Reyhan hanya diam tidak menjawab, dia tidak tau harus mulai dari mana membicarakan tentang Denada.


"Apa tadi itu Ibu kandungnya Syifa?" tanya Annisa dengan hati-hati. Dari tadi dia sudah sedikit curiga karena wajah Syifa sedikit mirip sama orang tadi.


"Ya namanya Denada, tapi dia cuma melahirkan Syifa, dia wanita kejam yang meninggalkan anak dan suaminya demi laki-laki lain," ucap Reyhan jujur


Ternyata benar dugaan Annisa jika orang itu adalah ibunya Syifa,


"Dia tetap Ibunya Syifa gak akan ada yang berubah, ikatan batin itu kuat, dunia ini gak sebesar yang Abi bayangkan lo, jika kita memindahkan Syifa ke sekolah lain, akan ada kemungkinan mereka bertemu lagi dan jika itu terjadi apa Abi akan kembali memindahkan Syifa?" ucap Annisa


"Kita pindahkan saja, kalau nanti misalnya bertemu lagi, itu bisa kita pikirkan nanti. Besok Abi mengurus perpindahannya segera," ucap Reyhan tanpa bisa diubah keputusannya.


"Baiklah kalau itu keputusan Abi, semoga ini keputusan yang tepat yang tidak akan disesali dikemudian hari." Annisa menghela nafas, dia tau jika ini tidak bisa diubah.


"Ummi keluar dulu buatin Syifa susu," ucap Annisa


Annisa menoleh ke arahnya segera, "Kenapa?" tanyanya


"Bagi Abi cuma Ummi yang pantas jadi Ibunya Syifa, terima kasih Ummi untuk semuanya," kata Reyhan tulus


"Ummi tetap Umminya Syifa tapi Mbak Denada tetap Ibu kandungnya Syifa, seburuk-buruknya Mbak Denada tapi dia tetaplah orang yang pernah hadir dalam hidup Abi dan juga tetap Ibu kandungnya Syifa, orang yang melahirkan Syifa," ucap Annisa


"Sampai sekarang hal yang Abi sesali adalah saat Abi memilih dia bukan Ummi," ucap Reyhan


Annisa memegang lembut wajah suaminya.


"Jangan ingat yang dulu lagi Bi, dan jangan menyesali hal yang pernah terjadi. Ya sudah ayo keluar!" ajak Annisa sambil menarik pelan Reyhan.


Reyhan bangkit dan berjalan keluar bersama Annisa. Dia masih terlihat khawatir walau sudah memutuskan semuanya.

__ADS_1


"Bi gak usah khawatir," ucap Annisa sambil menatap Reyhan


Reyhan mengangguk tapi dari wajahnya terlihat jelas kekhawatirannya.


Mereka duduk di dapur, Annisa membuatkannya kopi sedangkan dia duduk menatap ke arah Annisa yang sedang mengaduk minuman. Tatapannya selalu seperti ini, tatapan penuh cinta, dari hari ke hari perasaannya semakin tumbuh, jadi cinta yang sesungguhnya adalah tumbuh perlahan bukan pudar perlahan seperti yang dirasakannya pada Denada dulu, yang dari hari ke hari cintanya semakin berkurang.


Annisa juga mengeluarkan kue dari dalam rak dapur.


"Ini kuenya, tadi Ummi buat 2 cetak lalu yang satunya ummi potong-potong, Ummi bagiin sama tetangga," ucap Annisa sambil memotong kue dengan serius.


Reyhan tersenyum melihatnya, mendengar suara lembutnya dan melihat tingkahnya yang semakin hari sudah semakin terbiasa, tidak terlihat malu lagi, dan sekarang dia juga semakin sering bicara, tidak seperti awal-awal yang hanya bicara seperlunya.


"Ummi..." ucapnya


"Umm..." jawab Annisa tanpa menoleh


"Nanti kita buat toko di depan rumah mau gak?" tanya Reyhan yang baru terpikir tapi langsung dibicarakan.


"Buat apa?" tanya Annisa balik


"Buat jual pakaian Syari buatan Ummi," jawab Reyhan


"Selama ini jarang sekali melihat orang-orang berpakaian seperti Ummi, karena kan jarang sekali orang menjual pakaian seperti ini," tambah Reyhan


"Iya, tapi Ummi mana sempat mengurus toko lagi," kata Annisa


"Kita cari pembantu untuk kerja dari pukul 7 pagi sampai pukul 5 sore," ucap Reyhan


"Abi mau Ummi gak terlalu capek tapi juga gak terlalu bosan, awal buka toko nanti kan gak juga ramai jadi pembantu kita bisa bantu Ummi antar jemput Syifa, bisa bantu bersihin rumah sama nyuci tapi urusan masak, Abi gak mau makan masakan orang lain kalau di rumah ini," ucap Reyhan


Annisa mengangguk mengerti, dia juga tidak ingin suaminya memakan masakan orang lain jika berada di rumah mereka sendiri.

__ADS_1


__ADS_2