WANITA BERCADAR ( ISTRI DAN IBU TERBAIK )

WANITA BERCADAR ( ISTRI DAN IBU TERBAIK )
72


__ADS_3

Hari berikutnya.


"Hari ini keputusannya" ucap Reyhan


Annisa terlihat khawatir saat mendengarnya.


Reyhan dan Annisa pergi ke pengadilan, Syifa juga pergi bersama mereka.


Denada dan suaminya sudah lama datang bersama pengacaranya.


Mereka masuk ke ruang sidang.


Annisa memangku Syifa saat persidangan.


Keputusan sidang pun dibacakan kalau hak asuh anak jatuh ke tangan Denada.


Annisa shock mendengarnya, matanya mulai berkaca-kaca sambil memeluk erat Syifa, tidak ingin melepaskan Syifa.


Reyhan melihat ke arah mereka.


Sidang pun dibubarkan.


Air mata Annisa mulai menetes saat Denada berjalan ke arah mereka.


Annisa semakin mengeratkan pelukannya pada Syifa.


"Ayo Syifa pulang sama Mama" ajak Denada


Syifa menggeleng tidak mau.


Reyhan mendekati mereka.


"Mulai hari ini Syifa tinggal sama Mama" ucap Denada mulai nengambil Syifa.


Annisa menitikkan air mata saat Syifa diambil Denada.

__ADS_1


"Biarkan Syifa bersama kami untuk hari ini saja" pinta Reyhan


"Syifa sudah terlalu lama bersama kalian dan keputusan hakim juga sudah keluar jadi biarkan Syifa pulang bersama kami" ucap Denada yang mengendong Syifa pergi.


Syifa melihat ke arah Annisa dan Reyhan.


Reyhan dan Annisa mengejar mereka.


"Ummi" panggil Syifa sedih


"Mbak, tolong untuk hari ini saja biarkan Syifa bersama kami" ucap Annisa memohon.


Denada tetap membawa Syifa pergi bersama suaminya.


Annisa menangis tersedu-sedu, air mata Reyhan juga menetes melihat kepergian Syifa.


Annisa menangis dipelukan Reyhan.


Annisa mulai merasakan kram di perutnya.


"Perut Ummi sakit banget" ucap Annisa


"Kita ke rumah sakit sekarang" ucap Reyhan


Mereka buru-buru masuk ke mobil.


Reyhan melihat ke arah Annisa yang sudah tidak tentu duduknya.


Reyhan melaju menuju rumah sakit, Annisa mengalami pendarahan.


Reyhan langsung menelpon orang tuanya dan juga orang tua Annisa.


Bu Janeta dan Pak Pramana panik dan buru-buru berangkat, begitu juga Bu Aisyah dan Pak Harun.


Darah semakin banyak keluarnya, sampai pada akhirnya Annisa tidak sadar dengan air mata yang masih menetes.

__ADS_1


Reyhan panik saat melihat Dokter yang juga panik.


Dokter meminta persetujuan Reyhan untuk melakukan operasi.


Reyhan langsung menandatangani persetujuan itu dengan tangan bergetar.


Perlahan air matanya menetes mendengar kondisi Annisa.


Operasinya sedang berlangsung, Reyhan sedang sholat Dzuhur di mushola rumah sakit, air matanya terus menetes.


Semua orang tuanya menunggu di depan ruang operasi.


Bu Aisyah menitikkan air mata tiada henti.


Reyhan mendekat ke arah mereka.


Setelah sekian lama Dokter pun keluar dari ruang operasi.


Dokter berbicara dengan semuanya tentang kondisi Annisa.


"Ini risiko yang paling saya takutkan saat proses bayi tabung, kelahiran prematur bukan cuma disebabkan karna ini bayi tabung, tapi ini juga di sebabkan karna bayinya kembar" ucap Dokter


"Terus bagaimana kondisi mereka?" tanya Revan pelan


"Bayi kembarnya lahir dengan selamat tapi karna beratnya hanya 2kg jadi harus tinggal di sini hingga beratnya cukup, dan Ibunya..." ucap Dokter terhenti


"Ibunya kenapa?" tanya Bu Aisyah yang mulai khawatir.


"Ibunya kehilangan banyak darah, kondisinya sangat kritis, kami tidak bisa memastikan kapan dia akan sadar" ucap Dokter


Reyhan semakin shock mendengarnya, air matanya terus menetes saat menatap kosong.


Bu Aisyah menangis tersedu-sedu.


Pak Harun menenangkannya.

__ADS_1


"Ini sudah takdir, kita harus tetap sabar dan selalu mendo'akan yang terbaik untuk Annisa" ucap Pak Harun.


__ADS_2