
Janeta memilihkan Annisa jamu.
"Yang ini jamunya" ucap Janeta
Annisa melihatnya.
"Ini bagus untuk kesuburan, melancarkan datang bulan juga" ucap Bu Laila penjual jamu.
"Beli yang ini saja 1 kotak kecil, terus jamu untuk suami saya juga" ucap Annisa
"Yang ini" kata Bu Laila menunjukkan bungkus jamu.
"Bisa gak beli airnya sekalian?" tanya Annisa
"Bisa, mau berapa botol?" tanya Bu Laila
"1 saja Bu, nanti kalau habis baru beli lagi" kata Annisa
"Simpan di kulkas ya, tapi bisa juga dipanasin" kata Bu Laila
Annisa mengangguk
Janeta tersenyum ke arah Annisa.
Bu Laila langsung mengeluarkan jamunya dan juga airnya.
Ternyata tanpa mereka sadari, Denada melihat mereka dari tempat yang agak jauh.
Dia gak pernah tersenyum seperti itu padaku dulu, apalagi sampai memperhatikan seperti itu batin Denada saat melihat perhatian Bu Janeta pada Annisa.
Bu Laila sudah berlalu pergi dan curiga saat melihat ke arah Denada.
Bu Laila tetap melanjutkan jalannya tapi beberapa kali tetap melihat ke arah Denada.
Malam hari
__ADS_1
Annisa membuat jamu untuknya dan juga untuk Reyhan.
"Cepat minum" ucap Reyhan
Annisa tidak tahan mencium baunya dan langsung menutup hidung saat akan meminumnya.
Reyhan tersenyum melihat Annisa.
Reyhan juga meminumnya dalam seteguk.
Annisa beberapa kali berhenti meminumnya .
"Dihabisin" ucap Reyhan
Annisa mengangguk
Reyhan menunggunya hingga selesai.
"Kalau Ummi gak suka, besok-besok gak usah minum lagi" ujar Reyhan
"Jadi besok masih mau minum ini?" tanya Reyhan saat menatap Annisa yang meminumnya lagi dengan ekspresi hancur.
Annisa mengangguk
Reyhan tersenyum memegang wajah Annisa .
"Jangan terlalu dipaksakan dan juga jangan terlalu dipikirkan masalah anak, mungkin Allah belum percaya pada kita sehingga Dia menunda memberikan kita keturunan" ucap Reyhan
"Iya, tapi kan kita juga harus usaha, gak terpaksa kok, kan ditemani Abi juga minumnya" kata Annisa
Annisa dan Reyhan duduk di tempat tidur mereka.
"Bi seandainya Ummi gak bisa memberikan Abi seorang anak bagaimana?" tanya Annisa
"Abi gak masalah tentang itu, tapi kita gak boleh putus asa" kata Reyhan
__ADS_1
"Terima kasih Abi" ucap Annisa sambil tersenyum ke arah Reyhan.
"Oh ya ada yang mau Abi tanyakan!" ucap Reyhan
"Apa?" tanya Annisa
"Kita menikah karna dijodohkan, sejak kapan Ummi menyadari perasaan Ummi pada Abi?" tanya Reyhan
"Sejak Ummi masih kecil" jawab Annisa
Reyhan menatap bingung pada Annisa
"Waktu Abi di pesantren Ummi sudah mengagumi Abi, Ummi juga menyimpan foto Abi bersama teman-teman lama Abi" ucap Annisa
"Kok Abi gak tau ya?" kata Reyhan
"Karna Kita gak pernah bicara secara langsung, Ummi diam-diam sering melihat Abi saat Abi belajar" cerita Annisa sambil tersenyum mengingat semuanya.
"Saat mendengar kita akan dijodohkan waktu umur Ummi 17 tahun, Ummi sangat bahagia, tapi ternyata Abi menolak" kata Annisa
Reyhan mendengarkan cerita Annisa dengan sangat menyesal.
"Maafkan Abi" ucap Reyhan sedih
Annisa tersenyum ke arah Reyhan.
"Tapi sekarang Ummi bahagia karna Ummi bisa bersama Abi" kata Annisa
Annisa memegang wajah Reyhan dengan kedua tangannya.
"Tapi jika dulu kita menikah mungkin kita gak akan sebahagia ini karna setelah keluar dari pesantren pergaulan Abi sangat tidak baik" kata Reyhan sambil mencium pipi kanan Annisa
"Sekarang kita tidur sudah larut" ucap Reyhan
Annisa mengangguk.
__ADS_1