Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Kejanggalan Hati


__ADS_3

Sebuah pulau kecil dengan dikelilingi lautan yang luas, disanalah Alisha saat ini berada.


Alisha mengerjap karena teriknya matahari yang menembus kelopak matanya, dengan wajah pucat Alisha pun keluar dari ruangan yang bisa langsung melihat hamparan pasir putih yang indah.


''Laut?'' bibir Alisha terangkat sejenak. Tapi setelah ada suara yang memanggilnya dari jarak lumayan jauh, senyuman itu sirna dan perlahan ia melangkah mendekat ke seseorang yang memanggilnya itu.


Seorang pria yang sedang menata makanan di atas meja yang diletakkan di atas pasir langsung tersenyum ke arahnya, Alisha duduk di kursi panjang itu dan pria yang ternyata adalah Deva menyodorkan sebuah minuman yang ia tuangkan langsung dari buah kelapa.


''Minumlah ini bisa sedikit membuat kamu lebih segar.''


Alisa menerima itu dan langsung menenggaknya hingga menyisakan setengah gelas.


''Ini di mana?'' tanyanya kemudian.


''Tempat ini tempat yang paling aman dari buruan anak buah Elvano. Dan kurasa kamu tidak perlu takut lagi akan menjadi tawanan pria kejam itu.''


''Tapi aku keluar dari sana bukan untuk berlibur ataupun bebas secara cuma-cuma. Aku ingin keluar dari sana karena ingin mencari keluarga intiku, orang tua kandungku.''


Alisha mengambil kentang goreng yang tersedia di atas meja lalu memakannya, karena tidak dapat dipungkiri perutnya pun sudah terasa lapar sejak malam tadi.


''Ya aku tahu, tapi untuk mencari keluargamu itu perlu sebuah alamat ataupun petunjuk, dan ku yakin kamu tidak memiliki salah satu dari itu.'' Alisha mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Deva.


''Lantas dengan cara apa kamu mau mencari keluargamu. Tapi kamu tenang saja aku akan mencari cara agar bisa menemukan petunjuk di mana keluargamu itu.''


''Sebuah panti yang bernama Kasih Bunda, di sanalah bibiku tinggal dan dia mengetahui sesuatu. kamu bisa antarkan aku ke panti itu, sekarang juga?''


Mendengar ucapan Alisha, Deva tertawa kencang dan kemudian berhenti secara tiba-tiba setelah melihat Alisa yang menautkan alisnya.


''Maaf. kalau aku mengantarkanmu sekarang untuk mencari alamat panti itu, sama saja dengan aku menyerahkan nyawaku pada Elvano.''


''Apa maksudmu? menyerahkan nyawamu pada Elvano?''

__ADS_1


''Iya! mungkin saja dia masih mencarimu bahkan ke seluruh kota itu dan kau minta diantarkan ke sana, bisa-bisa habislah aku dibuatnya karena telah membantumu melarikan diri dari kukuhannya.''


Alisha terdiam memikirkan apa yang dikatakan Deva. apa iya Elvano masih mencarinya tapi untuk apa? aku gadis desa yang tidak mengenal siapapun lalu bertemu dengan seorang penjahat dan diselamatkan oleh Elvano lantas bagaimana bisa mencet dirinya sebagai miliknya.


Alisha sadar dia diperlakukan dengan baik oleh Elvano, dan bukan juga dia wanita yang tidak tahu diri karena bantuan elvano dia berhasil lolos dari pria jahat yang berniat untuk membawanya secara paksa itu. Tetapi dia hanya ingin menemukan orang tua kandungnya yang selama ini ia harapkan kasih sayangnya dan tidak ia dapatkan dari orang tua angkatnya.


Dia senang bisa keluar dari kerajaan Elvano dan bertemu dengan pria baik yaitu Deva yang bahkan dia tidak merasakan di penjara seperti pada Elvano.


Dia dapat menghirup udara segar dan berjalan-jalan di pinggir pantai bukan hanya duduk di kamar seorang diri sampai menunggu makanan tiba untuk ia makan.


Tiga hari lamanya Alisha berada di sana bersama dengan Deva, dan 3 hari itu pula mereka menjalani hari dengan senormal mungkin, Deva yang selalu membawa Alisha pergi berenang menyelam hingga bermain voli di pesisir pantai. cukup menyenangkan Tapi entah mengapa dia seperti merasa ada yang janggal dalam hatinya, tapi dia juga tidak mengetahui itu apa. Sebuah kehilangan kah? Alisha menggedikan kedua bahunya dan melanjutkan permainan volinya bersama Deva.


Hari mulai petang Alisha duduk di sebuah dam seorang diri. Melamun di sana tanpa tujuan yang pasti memikirkan apa? dia pun tidak mengerti.


''Ayah, ibu. Kalian di mana, apakah 17 tahun ini kalian mencariku atau memang sengaja kalian membuangku disana, ditempat ditemukannya aku dengan dua pasangan suami istri yang juga tidak memiliki anak.''


''Apa kalian tahu selama 17 tahun itu Aku tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus bahkan kerap mendapatkan perlakuan buruk dari mereka, tapi aku tidak dendam hanya saja aku kecewa dengan kenyataan.''


''Apa kau sangat ingin bertemu dengan orang tuamu?''


''kamu! ya pastilah! buat apa aku datang ke kota besar itu lalu ditahan dan berusaha kabur dari sana. Itu semua kulakukan karena sangat ingin menemukan orang tua kandungku memang kau kira untuk apa?''


''Hehehe... kalau begitu lihat ke belakang.'' Deva menggedikan kepalanya ke arah belakang tubuh Alisha.


Alisa menoleh matanya memicing dikala melihat seorang wanita paruh baya berdiri beberapa langkah dari tempatnya duduk.


''Siapa dia?''


''Dia bibimu, aku menemukannya di panti asuhan Kasih Bunda.''


''Benarkah lalu kamu tahu dari mana Kalau ada bibiku?''

__ADS_1


''Nak…? apa sebelumnya kamu tinggal di Desa bumi bakti?'' pikiran mengangguk.


''Aku saudara dari Maryamah.''


Alisha bangun dari duduknya dan segera menghampiri wanita itu yang mengaku sebagai bibinya. Arisa memeluk tubuh wanita itu karena merasa senang telah bertemu dengan bibinya yang memang dia ingin mencarinya.


''Kamu sudah sangat besar dan tumbuh menjadi gadis yang manis, tapi mereka malah bersikap tidak baik padamu kan? pria itu datang dan menceritakan semua pada Bibi.''


Alisha menoleh ke arah bibinya melirik. Memberikan senyuman tanda terima kasih untuk Deva yang ternyata diam-diam membantunya untuk bertemu dengan bibinya.


''Bi... tolong kasih tahu aku, dimana orang tua kandungku,'' pinta Alisha dengan memohon.


''Kita bicarakan di dalam ya, di sini sangat dingin lagi pula sudah memasuki waktu malam, tidak baik angin laut seperti ini mengenai tubuh mu.'' Alisa mengangguk dan mereka pun pergi dari sana untuk masuk ke dalam sebuah pondok tempat Alisa dan Deva selama tiga hari ini tinggal.


Alisha masuk terlebih dahulu dan meninggalkan wanita yang mengaku sebagai bibinya itu, dan tersenyum pada Deva yang juga mengeluarkan seringainya.


''Terima kasih,'' ucap Deva sebelum Alisha memanggil keduanya untuk masuk.


Di kursi sebelah tempat tidur. Alisha, Deva dan wanita paruh baya itu duduk, dengan tidak sabarnya Alisha segera menanyakan keberadaan orang tuanya.


''Jadi di mana orang tuaku, Bi?'


Raut wajah wanita paruh baya itu yang belum juga diketahui namanya oleh Alisha seketika berubah. Mimik yang sedih dan bahkan matanya pun sudah berkaca-kaca.


''Bi… orang tuaku di mana?


''Maafkan Bibi nak, orang tuamu itu sudah meninggal. Di hari ditemukannya dirimu sebuah surat pun Bibi temukan tapi tidak aku berikan pada ibu angkat mu itu.''


Mulut Alisha terbuka sedikit dengan air matanya yang merembes dari sudut mata kiri dan kanannya.


'Kenyataan apa lagi ini Tuhan'

__ADS_1


''Iya. Di surat itu dia mengatakan kalau dia bukanlah orang tuamu melainkan seorang pembantu yang tidak sanggup untuk membesarkanmu, karena orang tuanya telah meninggal dunia karena kecelakaan.''


__ADS_2