
Dorr!!
Mendengar suara tembakan Alisha terjingkat kaget, suara yang sangat nyaring juga terdengar sangat dekat, dengan tubuh yang gemetar iapun perlahan membalikkan tubuhnya. Alangkah terkejutnya saat matanya menangkap seseorang yang sudah tersungkur dengan posisi tertelungkup.
Seakan waktu berhenti berdetak, matanya kian menatap bergantian pada ketiga orang pria, yang dimana ia tahu, jauh didepan sana ada Deva yang berada di atas speed boat dengan sebuah senjata ditangannya, dan satu orang pria lainnya yang tadi menyuruhnya untuk pergi yang saat ini tengah menatap seseorang yang sudah terkapar dibawah sana.
Dengan tangannya yang bergetar hebat, Alisha mencoba membalikkan tubuh orang itu yang ternyata mampu membuat ia ternganga tidak percaya.
“Tu—Tuan Va—Vano, “ lirih Alisha yang menangkup mulutnya dengan kedua tangannya.
“El!! “ jerit Erik yang dia juga tidak menyangka kalau orang yang menghalangi tembakan yang diperuntukkan untuk Alisha ternyata menyasar ke Elvano.
“Minggir kau! “ dorong Erik pada Alisha yang masih berjongkok didepan Elvano.
“El, kau masih mendengar aku?! “ Erik terus menepuk pipi Elvano, dan tangan satunya tidak sengaja menyentuh tubuh bagian belakangnya yang sudah dibanjiri oleh darah.
“Kalian! Urus dia! Dan sebagian bantu bawa El kekapal! Cepat!! “ tunjuk Erik pada Deva yang masih terpaku dengan wajah syoknya.
“Dan kau! Jika terjadi apa-apa pada El–“
“Breng—sek! Tur—runkan nada su—aramu padanya!” sela Elvano dengan suara yang terbata-bata.
Alisha terkesip mendengar Elvano bicara, namun ia masih diam dan menyimak.
Deva melewatinya dengan posisi kedua tangannya sudah di ikat dari belakang oleh dua pria suruhan Erik, “Maafkan aku Lisa, aku tidak bermaksud melukai mu, karena aku tahu ada Elvano yang berlari kearahnya,” ucap Deva yang langsung ditarik lagi oleh dua anak buah Erik.
__ADS_1
Alisha hanya melirik karena dia belum bisa mengalihkan pandangannya dari Elvano yang juga sedang melihat kearahnya. Juga Alisha merasakan syok berat mendengar ucapan Deva padanya.
‘Itu berarti dia ingin menyelamatkan ku?’
“Al!” dengan suara yang sangat berat Elvano meminta agar Alisha mendekat kepadanya.
Erik hanya menatap sinis pada Alisha karena dia masih menyalahkan Alisha karenanya Elvano sampai terkena tembakan dari Deva.
Menyingkir sejenak, memberikan ruang Alisha dan Elvano walaupun dia merasa sudah mulai muak.
“Lebih mendekatlah!” ucap Elvano lagi pada Alisha yang lebih menggeser posisinya mendekat pada Elvano.
“Tuan Vano...” lirih Alisha yang sedikit ngeri melihat darah yang keluar dari belakang tubuh Elvano.
“Apa kau begitu membenci ku?” tanya Elvano dan Alisha hanya diam dengan seribu bahasa.
“Kenapa kau melarikan diri? dan bersama dengannya?”
“Apa beberapa hari ini, dia mengurusmu dengan baik? Kenapa wajahmu nampak pucat?”
Erik berdecak kesal, ya dia mulai gila atau memang Elvano yang sudah gila! Diposisinya yang sedang kritis bahkan ia sempat-sempatnya menanyakan kabar Alisha yang jelas-jelas memang baik-baik saja.
Perihal wajahnya yang nampak pucat? Cih Elvano memang sudah tidak waras!
“Ikutlah dengan ku, jangan percaya apapun kepadanya. Kau akan aman berada di dekatku–“ belum menyelesaikan kalimatnya Elvano justru sudah tidak sadarkan diri karena hilangnya darah yang keluar dari luka tembak itu.
__ADS_1
Tanpa permisi air mata Alisha luruh begitu saja, ia benar-benar merasa bersalah. Karena gara-gara dia, Elvano bisa seperti ini.
*
*
*
Disebuah rumah sakit, Elvano yang sudah dibawa ke ruang operasi belum juga ada dokter ataupun perawat yang keluar dari sana. Erik menunggunya dengan cemas terlebih lagi dokter tadi mengatakan peluruh yang menancap sudah hampir menembus jantung. Yang akan sulit untuk mengeluarkan seluruh itu, dan banyaknya resiko yang harus diterima oleh sipasien.
Erik yang tidak enak diam, dan terus mondar-mandir didepan pintu ruang operasi dan Alisha yang sejak tadi hanya diam di bangkunya, dengan tangannya yang saling meremat karena takut.
“Hei betina! Jika terjadi sesuatu pada Elvano, kupastikan jantungmu yang ku ambil untuk menggantikan jantung dia!” ucap Erik dengan banyaknya penekanan juga ancaman, dan Alisha tidak sama sekali menjawabnya karena memang dia pantas di salahkan.
Lampu yang terletak di atas pintu tiba-tiba padam, dan tidak berselang lama seorang dokter dan dua orang perawat keluar dari sana. Erik segera menghampiri mereka melontarkan banyaknya pertanyaan tentang keadaan Elvano saat ini, tapi tidak ada yang dijawabnya oleh sang dokter itu.
Tapi justru dokter tersebut malah bertanya baik yang lagi-lagi membuat Erik mendengus kesal.
“Apa anda nona Alisha?” Alisha mengangguk.
“Dia meminta jantungmu sebagai gantinya,” ucap dokter itu lagi yang membuat Erik ternganga lebar dan Alisha seketika menundukkan wajahnya seraya menjawabnya dengan begitu yakin.
“Baik Dok, aku akan memberikan jantungku padanya jika memang ini bisa menebus kesalahanku,” lirih Alisha setelah menghela nafasnya dengan panjang.
“Kalau begitu kau bisa masuk untuk mengikuti serangkaian pemeriksaan.”
__ADS_1
Alisha mengangguk, walaupun dia belum siap untuk mati, tapi rasa bersalahnya pada Elvano sangatlah besar dan harus dia tebus sekarang juga.
Karena baginya, hidupnya pun tdiak ada yang menginginkannya, tidak juga memiliki siapapun lantas untuk apa dia hidup.