
Pagi yang cerah, matahari bersinar terang. Alisha dan Elvano sudah bersiap akan keluar rumah karena memang sudah ada temu janji untuk memeriksa kandungan Alisha.
Tapi baru saja mereka akan keluar rumah, sebuah mobil memasuki pekarangan rumah dan keluarlah ia yang tak lain adalah Erik. "Pagi..., kalian sudah bersiap, ayo!" kata Erik dengan semangat 45.
Elvano dan Alisha saling melempar tatap karena bingung. "Ayo kemana?" tanya Alisha.
"Ini jadwal pemeriksaan kandungan mu 'kan, Alisha?" ujar Erik lagi.
"Kau tau dari mana?" tanya Elvano yang sudah memicing curiga pada sahabatnya itu.
"Ah, hanya menebaknya saja."
"Ya sudah ayo! tunggu apalagi," ucapnya lagi dan Elvano pun menganggukkan kepalnya pada Alisha.
Sepanjang perjalanan, Erik terus bersenandung di balik stir mobilnya. Elvano dan Allisha yang duduk di kursi belakang hanya diam dengan pikiran yang sama.
"Heh! Bandit! buat ulah kau nanti, awas kau ya!" ucap Elvano setelah menendang jok belakang Erik.
"Ulah apa? aku anak baik," sahut Erik dengan asal yang membuat Alisha tertawa kecil dibuatnya.
"Tuan Erik, Dokter Lita cantik ya?"
"Iya. Eh! tidak, biasa saja," jawab Erik panik karena mendapatkan pertanyaan dari Alisha dengan tiba-tiba.
"Hahahah! keceplosan ya?" tawa Alisha pecah karena berhasil mengerjai Erik. dan Elvano hanya terkekeh kecil karena baru menyadari sisi lain Alisha yang ternyata bisa usil juga.
Erik yang sebelumnya terus bernyanyi mengikuti lagu yang berputar di radio kini ia bahkan sudah menyembunyikan rasa gugupnya agar tidak terlalu kentara.
Sesampainya di rumah sakit, merekapun turun dari mobil dan segera menghampiri oihak resepsionis. "Dokter Lita sudah ada?"tanya Elvano.
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan, Nyonya. Kalian sudah ditunggu Dokter Lita diruangannya." Alisha dan Elvano pun berlalu kearah dimana ruangan Dokter Lita berada. Dan Erik? iya tetatp membuntut dari belakang.
Dan ketika Alisha dan Elvano akan masuk kesebuah ruangan, Erik malah akan ikut masuk juga tapi dengan cepat Elvano mencegahnya. "Mau apa kau, hah!"
"Masuk, kenapa?"
"Buat apa? didalam akan ada pemeriksaan istriku dan pastinya itu adalah privasi, lalu kau akan apa didalam?"
"Come on El, aku juga 'kan ingin melihat dan mengetahui tumbuh kembang calon keponakan ku itu," kata Erik dengan sejuta alasan.
"Jangan banyak alasan. Tunggu disini!" Elvano pun menutup pintunya meninggalkan Erik diluar ruangan.
"Ah, kau tidak asik!!" seru Erik yang kesal.
"By..., kamu galak sekali padanya," ucap Alisha yang tertawa kecil melihat suami dan temannya itu berdebat.
"Bandit seperti Erik pantas digalakin," bisik Elvano dan Alisha pun tertawa.
"Pagi Dok," sahut Alisha.
"Bagaimana? apa ada keluhan selama kehamilan ini?"
"Hanya sering pusing saja, Dok."
"Oh itu sudah biasa di alami ibu hamil ya Nyonya Alisha. Maaf permisi, saya akan periksa tekanan darahnya dulu." Dokter Lita meminta tangan Alisha untuk masuk ke sebuah benda yang bernama tensimeter atau nama lainnya adalah Sphygmomanometer.
Kain yang melilit lengan kiri Alisha semakin erat dan itu pasti tidak luput dari perhatian Elvano. "Apa tidak sakit?" pertanyaan itupu lolos begitu saja dari Elvano dan membuat Dokter wanita itu terkekeh kecil.
"Tidak Tuan," sahut Dokter Lita yang kemudian melepaskan lilitan yang merekat itu. "Tensi darah Nyonya sedikit rendah ya, 90/80. Usahakan istirahat dengan teratur, jaga pola makan dan jangan stres. Karena jika tekanan darah terus berada di titik rendah akan beresiko pada ibu dan calon janinnya," jelas Dokter Lita dengan ditail.
__ADS_1
"Apa tidak ada vitamin khusus Dok?" tanya lvano yang khawatir.
"Tentu saja ada, tablet yang berwarna merah yang nanti saya berikan harus di minum dengan teratur ya, jangan sampai tidak." Alisha dan Elvano pun mengangguk mengerti.
"Sekarang kita periksa detak jantung baby, mari... ." Dokter Llita menuntun mereka ke bagian ruangan yang tertutup sebuah gorden hijau khas rumah sakit.
Tangan Alisha tiba-tiba menjadi dingin, dan Elvano menyadari itu karena saat ini tangannya sedang di genggamnya. Ya. ia tengah gugup, entah kenapa ia sangat tidak sabar mendengar itu. Alisha naik ke atas ranjang yang seukuran satu badan orang dawasa saja. Dokter Lita meminta Alisha untuk membuka sedikit bajunya hanya sebatas perut atas saja, yang kemudian Dokter itu menuangkan sebuah jel ke atas perut dan mulai memeriksanya.
Cukup lama memang mencari detak jantung janin, dan beberapa saat terrdegar samar-samar suara denyut jantung di sisi sebalah kiri perut bawah Alisha. "Ini, ini adalah detak jantung si baby," kata Dokter Lita membuat Alisha dan Elvano terharu mendengarnya.
Bahkan Elvano membuang pandangannya karena ujung matanya sudah ingin mengeluarkan air mata yang segera ia seka. Begitupun Alisha yang tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Baginya suara itu suara yang paling merdu yang pernah ia dengar.
"Syukurlah detak jantung babynya sehat dan normal. Apa kalian juga ingin mellihatnya?" Alisha segera mengangguk.
"Apa jenis kelamminnya juga bisa di lihat?"
"Mengingat usia kehamilan Nyonya yang baru saja 13 minggu sepertinya belum terlihat, Tuan," ucapnya yang lagi-lagi menuangkan jel ke atas perut Alisha dan mulai meletakan sebuah alat yang digeserkan di atas perut Alisha sembari menjelaskan yang Elvano tanyakan.
"Alat genital janin baru dapat dilihat dengan jelas di usia kehamilan 16 minggu, tapi saya sarankan jika kalian ingin melihatnya datanglah ketika usia kehamilan 18-20 minggu. Dan ini lihat, janinnya sehat tidak ada kelainan untuk di khawatirkan, panjang tubuh janin sudah mencapai 7 sentimeter dari kepala sampai kaki, sedangkan beratnya sudah 35 gram."
Entah penjelasan Dokter kandungan itu didengar atau tidak oleh pasangan suami istri itu karena keduanya terpokus dengan penampilan di layar monitor, yang memperlihatkan sebuah gambar vidio sebuah janin yang masih kecil dan belum terlalu jelas.
Diluar ruangan, Erik yang merasa bosan akhirnya memutuskan berjalan-jalan sebentar. Tapi saat dia berjalan di sebuah lorong tiba-tiba seorang wanita berlari ke arahnya dan menabraknya. "Tuan, aku mohon tolong aku!"
TBC...
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Mampir juga ke novel teman ku ya guys.....
__ADS_1