Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Rasa Yang Aneh


__ADS_3

Keheningan melanda ruangan gelap itu, Alisha yang sejak tadi hanya memainkan jari-jari tangannya dan Elvano yang menunggu jawaban Alisha dengan sangat sabar.


Elvano memang tidak pernah membuat komitmen pada wanita manapun, dan dia tidak menyukai itu. Tapi entah mengapa, saat bertemu Alisha dan saat pertama kali ia memimpikan wajah Alisha, dia sangat ingin memilikinya.


Dan dengan alasan bertanggung jawab yang memang dia ingin menanggung kesalahannya dengan cara menikahi Alisha, dia berharap benar-benar bisa memiliki gadis kecil itu seutuhnya.


Gadis kecil yang sudah ia rampas mahkotanya dengan kasarnya. yah… walaupun tidak melakukan jauh dari itu. Tapi tetap saja ia telah merobek kesucian gadis 18 tahun itu.


Elvano meraih tangan Alisa yang terkesip lalu menatap Elvano dengan wajah gugupnya.


''Al? Apa kau tidak mau menikah denganku?''


Suara Elvano terdengar sangat Lirih.


Sungguh Alisha tidak mengerti, dia tidak mengerti untuk menjawabnya, menerimanya atau tidak.


Yang kalian harus mengerti, bahwa Alisha memang gadis 18 tahun yang benar-benar polos, yang tidak pernah tahu percintaan dan hanya tahu perbumbuan dapur.


Mungkin sebagian gadis atau kebanyakan gadis seusianya, sudah merasakan cinta monyet ataupun kekasih yang bahkan sudah memulai hubungannya yang sangat intim dan intens, tapi tidak dengan Alisha Purnama.


Alisha mulai membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tapi sekejap entah kenapa dia tiba-tiba menutup lagi mulutnya. Elvano terkekeh, dia tahu kalau sebenarnya Alisha tengah gugup dan bingung akan jawabannya.


''Apa kau ada syarat khusus untuk menikah denganku?'' tebak Elvano yang tidak meleset sedikitpun.


Alisha mengangguk samar, ''Apa boleh?'' tanya Alisha dengan mengigit bibir bawahnya.


''Tentu, katakan saja.'' Jawab Elvano yang matanya hanya terfokus pada bibir seksi Alisha. Melihat dia mengigit bibirnya, membuat Elvano kalang kabut, rasanya ia sangat ingin melahap habis bibir seksih itu, dan menggigitnya kecil.


''A–apa kalau kita menikah, Tu–tuan akan melakukannya langsung?'' tanya Alisha dengan sangat malu wajahnya memerah dan meretuki dirinya sendiri atas pertanyaan itu.


Elvano sedikit terkesip karena tidak menyangka kalau Alisha akan bertanya itu. ''Al… aku pria dewasa yang tentunya akan menuntut hakku atas gadis yang sudah menjadi istrinya.''

__ADS_1


Pipi Alisha semakin memerah, dia takut, takut akan rasanya yang pastilah sakit, karena kemarin yang ia rasakan seperti tergores silet, walaupun baru saja ujung helm tongkat sakti Elvano menyentuh lubang gua-nya.


''A-apa rasanya lebih sakit dari kemarin?''


Rasanya Elvano sangat ingin tertawa karena pertanyaan polos dari Alisha. Dia pun bingung untuk menjelaskannya. Elvano terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan Alisha.


''Honey, jika rasanya sangatlah sakit, tidak mungkin ada pasangan yang akan memiliki anak banyak.''


Entah kenapa dia malah menjawab seperti itu, tapi Elvano berharap jawaban dengan penjelasan yang simpel seperti itu mampu membuat Alisha mengerti dengan cepat.


Alisha terdiam yang sepertinya sedang memikirkan jawaban Elvano.


''Benarkah?''


Elvano mengangguk ragu.


''Tapi aku tidak mau memiliki anak,'' jawab cepat Alisha yang tentunya membuat Elvano menganga tidak percaya.


''Kenapa, bukankah itu impian semua wanita, memiliki anak yang lahir dari rahimnya sendiri?''


Raut wajah Elvano yang semula menahan tawa, seketika berubah datar, saat mendengar ucapan Alisha hatinya begitu perih, dia ikut merasakan kesedihannya.


Dia tidak menyangka kalau Alisha berpikir seperti itu pada kedua orang tuanya.


''Al… tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, aku berjanji akan membawamu bertemu dengan mereka, setelah kita menikah, hmm?''


''Benarkah?''


''He em... agar kau tahu alasan mereka membuangmu, ataupun kau bisa bertanya kenapa kamu berpisah dengan mereka.''


''Kalau begitu, aku setuju!'' seru Alisha dengan kilat. Elvano tersenyum senang.

__ADS_1


*


*


Hari sudah mulai malam, Alisha masih saja terjaga. Matanya terasa kering, rasa kantuk itu tidak sama sekali menghampirinya.


Alisha duduk dengan bersandar pada headboard, kakinya ia luruskan, matanya terus menatap bulan yang terang itu. Membayangkan kehidupannya setelah menikah dengan Elvano.


Apakah akan bahagia, atau malah sebaliknya. Tapi entah kenapa ia sangat mempercayai pria itu. Yang bahkan sudah jelas-jelas sudah merobek kesuciannya.


Pintu diketuk dari luar, Alisha menoleh, menunggu tidak ada yang membuka, jika itu Elvano pasti tidak mengetuk dan langsung masuk, tapi ketukan itu terdengar lagi.


Dengan malas, Alisha turun dari ranjang dan melangkah ke arah pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya selarut ini.


Setelah membuka pintu, ia heran melihat seorang pelayan wanita yang datang dengan segelas susu putih.


''Ya?''


''Maaf, Nona. Saya membawakan ini untuk anda atas perintah tuan George.''


''Tuan George? Tuan Elvano maksudnya?''


''Benar, Nona.''


Pelayan itu memberikan nampan yang terdapat susu putih itu pada Alisha. ''Memangnya Tuan Elvano ada dimana?'' tanya Alisha yang entah kenapa sangat ingin tahu Elvano berada dimana saat ini.


''Tuan, sedang bersama Tuan Erik dan Tuan Bima. Beliau hanya meminta saya untuk mengantarkan susu pada Nona.''


''Oh baiklah, terima kasih.''


Pelayan itupun berlalu pergi dan Alisha menutup pintunya.

__ADS_1


Alisha merasa bingung, dia tidak mengerti kenapa saat ini dia sangat ingin Elvano datang. Setelah selesai membicarakan pernikahan, Alisha memang berpamitan untuk kembali kekamar, tapi tidak dengan Elvano yang tetap tinggal diruangan itu.


Hatinya gelisah, dan pada akhirnya diapun keluar dari kamar untuk mencari Elvano.


__ADS_2