
Kehidupan berjalan dengan semestinya. Alisha dan Elvano semakin dibuat tidak sabar akan hadirnya George junior ditengah-tengah mereka.
Kandungan Alisha sudah menginjak usia tujuh bulan, perut yang buncit membuat Alisha semakin menggemaskan dimata Elvano. Dan sikap posesif Elvano semakin diperlihatkan. Dari mula tidak boleh memakai akses tangga, tidak boleh tiidur terlalu larut yang bahkan jam tidur pun telah ia tentukan untuk Alisha.
Elvano terlalu excited dengan calon anaknya itu. Potret-potret wajah nya ketika bayi yang dia dapatkan dari gudang penyimpanan, di pajangnya diberbagai sisi kamar.
Karena Alisha pernah mengatakan padanya saat mereka sedang menonton sebuah sinetron, kalau dia sangat menyukai aktor yang berasal dari negeri jiran itu yang memang berparas tampan, Miller Khan namanya. Elvano pun tidak rela jika nanti anaknya akan mirip dengan orang lain maka dari itu ia memajang poto-potonya dari yang masih bayi hingga potret terbarunya.
"Anakku harus mirip antara mama dan papanya," ucap Elvano yang saat ini sedang mengusap perut besar Alisha.
"Kalau misalkan tidak mirip diantara kita bagaimana? apa hubby tidak akan menerimanya?" tanya Alisha yang matanya sudah membasah.
Ya, Elvavo lupa kalau semenjak Alisha hamil, ia semakin lebih sensitif, gampang melow walaupun hanya masalah sepele, seperti sekarang ini. Dengan cepat Elvano pun mengalihkan pertanyaan itu. "Kalaupun tidak mirip kita, pasti sifatnya yang mirip, hahaha!"
Mendengar tawa pecah yang sebenarnya dibuat-buat Elvano. Alisha pun ikut tertawa dan melupakan air matanya yang tadi sudah bersiap akan terjun bebas.
"By aku mau pipis," ucap Alisha yang meringis menahan buang air kecilnya agar tidak keluar begitu saja. Ya bukan hanya nafsu makannya saja yang berubah, waktu buang air pun semakin sering karena faktor kehamilan yang sudah menginjak trimester ketiga.
Dengan sigap, Elvano membantu Alisha turun dari ranjang dan mengantarkannya kekamar mandi, tapi baru saja kakinya akan masuk kedalam toilet, tiba-tiba Alisha menjerit keras dengan memegangi perutnya.
"Aaakkhhh! Aaaaakkkkkkhhhh!" jerit Alisha dengan wajah yang pucat.
__ADS_1
Elvano yang melihat istrinya menjerit kesakitan seketika panik, dan langsung membopong tubuh gampal istrinya ke atas ranjang. "Sayang, kamu kenapa?"
"Sakit By! Aaaakkhhh!!' Elvano semakin panik, bukannya langsung menghubungi ambulan, ia malah mondar mandir tidak karuan.
Alisha mendelik karena ada cairan yang merembas dari jalan lahirnya, dan itu sangat banyak. "By! ini apa? air pipis kah?" Elvano menoleh dan melihat itu. "Aku tidak tahu, honey. Sebentar! kamu tarik nafas dan buang dengan teratur. Aku panggil Lena dulu." Baru saja Elvano akan pergi, Alisha memanggilny lagi.
"By! telpon saja!"
"Oh iya."
Ya karena sangking paniknya, ia tidak mengerti harus apa, terlebih lagi, ia melihat Alisha yang terus menjerit kesaitan, membuat dia kalap. Dengan cepat ia menyambar ponsselnya yang ada di nakas untuk menghubungi Lena, pengurus dapur yang lebih paham dengan wanita hamil.
Sementara itu Alisha terus mengatur nafasnya, untuk meringankan rasa sakit itu. "Huuuftt, huuufft.. By, sakit sekali!" ucapnya dengan mengigit bibirnya sendiri.
"Astaga Tuan, kenapa tidak panggil ambulans saja, ini air ketuban!" Mata Elvano terbelalak, karena setahu dia air ketuban itu tanda-tanda akan melahirkan, sedangkan usia kehamilan Alisha baru menginjak 7 bulan.
"Aaakkkkhhh sakit By!" jerit Alisha lagi yang langsung mneyadarkan Elvano dari keterkejutannya.
"Tuan sebaiknya bawa nyonya kerumah sakit saja, kalaupun menghubungi ambulans, waktunya akan tersita. Dibawah ada Tuan Erik, saya akan panggilkan untuk mengantar kalian." El mengangguk dan langsung menghampiri Alisha yang sudah semakin pucat dan berkeringat.
Dibawah sana. Lena memanggil-manggil Erik yang ternyata sedang berada di ruang tengah bersama Hito.
__ADS_1
"Ada apa Len?"
"Siapkan mobil Tuan, karena nyonya dan tuan George akan pergi kerumah sakit."
"Baik!"
Diperjalanan, Erik mengendarai denan sangat lihai tapi tetap dengan hati-hati. Dibelakang, Elvano yang menyaksikan istrinya tengah kesakitan, hanya bisa melihat dengan harapan dan doanya, bahkan air matanya pun sudah merembas, dia benar-benar tidak tega melihat Alisha.
"By sakit by..." Lirih Alisha dan Elvano tidak bisa berbuat apa-apa jika rasa sakit itu bisa dipindahkan ia rela menggantikannya. Tangannya yang terus mengusap-usap perut Alisha dan sesekali ia mengecup hangat pucak kepala Alisha agar istrinya dapat lebih tenang walaupun memang itu tidak mungkin, karena rasa sakit itu semakin terasa.
Sesampainya dirumah sakit, sudah ada berangkar dengan beberapa perawat dan dua orang dokter yang akan menangani Alisha, karena mereka sudah dihubungi terlebih dahulu oleh Lena untuk menyiapkan semuanya.
Didepan ruang bersalin, Elvano dan Erik tengah menunggunya dengan cemas, padahal Elvano sangat ingin menemani Alisha didalam sana, tapi entah alasan apa Alisha justru menolaknya, dan pihak rumah sakit hanya bisa mengikuti kemauan pasiennya.
Baru saja menunggu sekitar !0 menit, ointu itu terbuka lagi dan dokter wanita yang tak lain adalah Lita, menghampiri mereka. "Tuan, kami harus melakukan oprasi pada Nyonya, karena usia janin yang sebenarnya belum siap untuk lahir harus segera dikeluarkan dengan cara oprasi, Anda bisa ikut dengan dia, untuk mentanda tangani surat persetujuan untuk tindakan oprasi." Tanpa berkata apa-apa lagi Elvano pun mengangguk dan ikut dengan salasatu perawat. Karena baginya apapun harus dilakukan demi kebaikan keduanya, istri dan anaknya.
Lita pun kembali kedalam meninggalkan Erik yang sejak tadi memperhatikannya dan Lita pun menyadari itu. Ya karena sejak hari itu, keduanya tidak lagi saling bicara ataupun saling bertemu.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Mampir juga ke novel teman ku ya...
__ADS_1