Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Tekad Elvano


__ADS_3

Alisha berlari keluar dan melihat semua orang yang sudah sibuk di bagian ruangan memasak. Asap hitam mengepul ke udara membuat Alisha semakin di buat panik, dan berlari menuruni anak tangan yang masih menggunakan gaun pengantinnya.


''Ada apa? apa yang terbakar?!'' tanya Alisha panik setelah sampai di depan ruangan memasak dan bertanya pada seorang pria yang juga bekerja untuk keamanan tempat itu.


Pria bertubuh besar itu langsung menundukkan pandangannya, dan menjawab dengan tegas dan hormat. ''Siap nyonya! hanya kain lap yang terbakar!''


''Hah? kain lap?''


''Siap Nyonya! benar!''


Alisha memundurkan kepalanya karena merasa heran dengan cara pria itu bicara. 'Kenapa nada bicaranya seperti itu?' gumam Alisha dalam hatinya.


''Maaf Nyonya, karena kelalaian kami membuat anda panik.''


''Tidak apa Kak. Tapi benar kalian tidak ada yang terluka?''


Pertanyaan Alisa membuat beberapa pelayanan penjaga di sana tercengang karena baru kali ini ada yang bertanya tentang keadaan bawahan.


''Dan oh ya, jangan panggil aku nyonya, panggil aku Alisha. Aku mau kita semua berteman.''


Mereka pun semakin terkejut dibuatnya. Mana bisa seorang atasan berteman dengan orang bawahan seperti mereka, dan jika memang dia benar-benar ingin berteman dengan para bawahan, pastilah Elvano akan melarang itu.


Maka dari itu, mereka harus tahu diri!


''Ada apa ini!!''


Suara yang terdengar sangat familiar, suara yang membuat semua orang disana tertunduk dengan kaki yang gemetar, ya dia adalah bos mereka, George Elvano Abraham.

__ADS_1


Saat ini Elvano tengah berdiri di anak tangga dengan pakaian lengkap, kaus t-shirt dan celana pendek, tidak seperti terakhir yang Alisha lihat saat di kamar tadi.


Suara derap langkah Elvano membuat semua semakin menundukkan kepalanya, terkecuali Alisha yang menatapnya tanpa ekspresi.


''Kain lap terbakar,'' sahut Alisha karena semua hanya diam.


''Kain lap? bagaimana bisa?''


Nada bicara Elvano seketika merendah. Yang pastinya membuat semua orang terheran-heran.


''Kalau begitu aku permisi ya, Kak,'' pamit Alisha pada pria yang tadi dia ajak bicara. Tanpa tahu akibat dia bicara padanya, kakinya semakin gemetar karena saat ini sepasang mata menatapnya dengan horor.


Alisha berlalu begitu saja meninggalkan Elvano dengan para pelayannya. Bahkan pertanyaan Elvano tadi tidak sama sekali iya jawab.


Dan saat ini Elvano tengah menatap tajam setajam silet, pada satu orang pria yang tadi dipanggil 'kakak' oleh Alisha.


''Sa–saya tidak tahu, Tuan.''


''Sekali lagi saya lihat kamu berbicara dengan istri saya. Apalagi menatap matanya melihat kecantikannya, bola matamu yang akan aku jadikan umpan para buaya di sana! mengerti!''


''Mengerti, Tuan!''


Elvano pun berlalu meninggalkan para pelayannya, untuk menyusul Alisa yang sudah lebih dulu naik ke atas.


Membuka pintu dengan perlahan, yang ternyata memang tidak dikunci, dan kini matanya melihat Alisha yang tengah berdiri di depan cermin dengan punggung yang terbuka.


Melangkah dengan perlahan, sehingga tidak ada suara apapun. Telinganya dapat mendengar keluhan Alisha yang tidak dapat membuka seluruh resleting pakaiannya yang macet.

__ADS_1


''Isshhh… kenapa susah sekali sih!''


Tangan kecil Alisha terus mencoba menggapai pentulan resleting itu tapi memang karena tangannya yang mungil, dia tidak dapat menjangkaunya.


''Biar ku bantu,'' ucap Elvano yang sudah ada dibelakangnya tanpa ia sadari, dan sudah menyentuh pundaknya yang tidak terhalang benang.


Pundak Alisha yang tadinya membungkuk, seketika tegak dengan wajah syok, mata yang tidak berkedip, juga mulut yang sedikit terbuka.


Ssrretttt..


Elvano berhasil membuka resleting gaun hingga ke bagian pinggang.


Putih seputih susu tapi tiba-tiba mata Elvano mendelik ketika melihat ada bekas luka di beberapa bagian.


Elvano menatap iba pada punggung Alisha yang putih namun ada bekas luka disana.


'Apa dia benar-benar pernah menjadi korban kekerasan?'


Merasa Elvano yang hanya diam di belakangnya, Alisha langsung berbalik dan tangannya menahan gaun yang masih melekat di dadanya, tersenyum gugup dan berjalan menyamping ke arah kamar mandi.


Tidak, Elvano tidak mencegahnya, ia masih memikirkan bekas luka Alisha di sana. Yang menandakan bahwa kehidupan Alisha sebelumnya benar-benar sangat pahit, dan itu juga yang pernah Alisha katakan tentang kehidupannya.


''Aku berjanji tidak akan menggunakan tanganku untuk menyakitimu, tapi aku akan berusaha menggunakan tanganku, dan seluruh tubuhku untuk membuat mu nyaman bersama ku!''


Tekad Elvano yang matanya masih melihat daun pintu kamar mandi yang tertutup.


Dan matanya tiba-tiba memerah, pikiran tertuju pada siapa yang melukai Alisha, melukai tubuh wanitanya dengan sangat kejam. Saat ini dia sangat ingin mematahkan tangan pelaku itu.

__ADS_1


__ADS_2