Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Ikhlaskah Aku?


__ADS_3

Elvano kembali ke kamar, Alisha yang memang sejak tadi menunggunya segera menghampirinya.


“By?”


Elvano tersenyum lembut kepadanya, tangannya mengusap sayang kepala Alisha dan langsung membawanya kedalam pelukannya. Dia takut, takut ini adalah pelukan terakhirnya, dia takut terpisahkan dengan Alisha. Dia tidak mau itu.


“Ada apa, By?”


“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memelukmu saja. Apa tidak boleh, hmm?”


Alisha tersenyum di balik dekapan Elvano, tangannya ikut membalas pelukan suaminya, tapi ketika tangannya tidak sengaja menyentuh sesuatu di balik saku celana Elvano, Alisha justru mengambilnya dan ternyata itu adalah sebuah senjata, senjata api.


Mata Alisha terbelalak dan spontan langsung melemparkan pistol itu kelantai. “Astaga!”


Elvano terkejut dan menoleh ke arah belakang, dimana Alisha melemparkan pistolnya.


“Tenang, Al. Tidak apa-apa, oke?”


“By, kamu mau apa dengan benda itu, ada apa sebenarnya?”


“Tidak ada apa-apa, itu hanya untuk berjaga-jaga saja. Kemarilah!” Elvano menarik lembut tangan Alisha dan merekapun duduk di ranjang dengan berhadapan.


Elvano menyelipkan rambut Alisha kebelakang telinga, menguap pipi Alisha dengan ibu jarinya. Tatapan yang dalam membuat Alisha merasa heran dengan Elvano, karena tidak biasanya Elvano menatapnya sedalam itu.


“Ada apa sebenarnya, By?” tanya Alisha yang memegang tangan Elvano.


“Jika suatu saat nanti kita berpisah karena suatu hal, aku harap kamu tidak pernah melupakan ku.”


Dahi Alisha mengernyit, merasa tidak suka dengan kalimat Elvano, hati ya terusik juga resah, apa yang sebenarnya terjadi.


Alisha menemukan sebuah kegundahan pada manik mata hazel milik Elvano. Ada yang sedang dikhawatirkan oleh suaminya yang dia tahu, Elvano tidak akan mengatakannya secara frontal padanya.

__ADS_1


Alisha tersenyum manis, dan entah keberanian dari mana, Alisha lebih dulu mengecup bibir tebal Elvano tanpa diminta ataupun di mulai oleh Elvano.


Dia malu tapi dia tahan, karena dia sangat tahu hanya dengan cara itu Elvano melupakan keresahan pada dirinya.


“By, aku lapar…”


Alisha melingkarkan kedua tangannya pada leher Elvano, bergelayut manja pada pria yang usianya terpaut lumayan jauh darinya, yang memang sudah menjadi suami dari dia.


“Astaga, aku lupa. Kau memang belum makan sejak di pesta tadi, sebentar biar aku hubungi Erik untuk memesankan makanan.”


Alisha menggelengkan kepalanya, dan menahan geraknya Elvano yang akan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.


“Kenapa?”


“Aku mau memasak sendiri,” ucap Alisha dengan manja.


“Masak sendiri? tapi kita mana ada bahan pangan, honey…” Alisha tersipu malu mendengar panggilan Elvano padanya yang begitu mesra.


Matanya beralih pada jam tangannya yang menunjukkan pada pukul 10 malam. “Apa masih ada swalayan yang masih buka?” gumam Elvano.


“Kita cari saja, aku juga ingin menikmati keindahan malam di negara ini,” sela Alisha.


Elvano menghela nafasnya dengan pelan, ia mana bisa menolak permintaan Alisha, yang pada akhirnya dia hanya bisa mengangguk dan meng'iyakan-nya.


*


Sudah 1 jam lamanya mereka berputar-putar di kota Maroko tapi tidak ada satupun swalayan yang terlihat masih buka, karena memang jam operasional di sana hanya sampai jam 10.00 malam, dan itu pun sangat jarang sekali ditemui.


Tapi Elvano tidak menyerah karena tidak ingin melihat Alisha bersedih, ia terus mencari ke seluruh kota, walaupun saat ini jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Yang pastinya mustahil dia dapat menemukan satu swalayan yang masih melayani customer.


“Al, sepertinya tidak ada swalayan yang buk—”

__ADS_1


Elvano tertawa kecil, karena ternyata orang yang sedang diajak bicara malah sudah tertidur pulas di sampingnya, yang kepalanya bersandar di kaca mobil.


Dengan sangat pelan, Elvano menghentikan laju mobilnya agar Alisha tidak terganggu karena goncangan mobil.


Elvano mengatur handel jok, agar Alisha bisa merebahkan tubuhnya sedikit dan tidak akan merasakan sakit pinggang karena tidur dengan keadaan duduk.


Membetulkan posisi kepala Alisha juga agar tetap aman dan nyama dan aman. Dan saat ini dia sangat ingin menghentikan waktu, waktu mereka berdua agar tidak cepat berlalu begitu saja .


Kesekian kalinya Elvano kembali menghela nafasnya, dia merasa khawatir, sangat khawatir jika Bima benar-benar memisahkan mereka berdua. Dan dia juga bingung harus memulai dari mana ia mengatakan pada Alisha kalau dia sudah menemukan keluarga yang dia sendiri sangat mengenal keluarganya.


*


Hari-hari berlalu begitu saja, Elvano dan Alisha menjalani kehidupan mereka dengan sangat baik. Bahkan mereka semakin mesra saat hari-hari mereka di negara tetangga.


Setiap malam mereka saling bertukar peluh, dan tidak akan terlewatkan. Dan tibalah saatnya hari ini adalah hari terakhir mereka berada di negara Maroko, dan besok mereka harus pergi karena Elvano juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.


Tapi sesungguhnya dia sama sekali tidak mengkhawatirkan masalah pekerjaan, karena hatinya sampai saat ini masih khawatir pada berpisahnya dia dengan Alisha entah untuk beberapa saat atau untuk selamanya, dia tidak bisa menerka isi hati seorang Bima Houten.


“Alisha?” panggil Elvano pada Alisha yang sedang sibuk mengemas pakaian Elvano kedalam koper.


“Ya, By?”


Elvano yang sedang duduk ditepi ranjang menghampiri Alisha yang duduk dilantai dengan pakaian-pakaian yang sudah dilipat dan siap untuk tata di dalam koper.


“Aku sudah menemukan keluarga asli mu,” ucap Elvano dengan tiba-tiba yang membuat Alisha seketika menghentikan tangannya yang sedang memindahkan pakaian.


“Benarkah, By?” mata Alisha berbinar, bahkan berkaca-kaca.


Elvano tersenyum sendu melihat tatapan mata Alisha yang penuh harap. Hanya dengan anggukan lah Elvano menyahut karena dia juga tidak mengerti harus bagaimana bersikap.


“Hubby mau mengantarkan Alisha kesana?” tangan Alisha dengan harapan seluas semesta.

__ADS_1


“Tentu, begitu kita sampai di tanah air, kita akan segera kesana, hmm?” Alisha tersenyum senang, air matanya bahkan lirih begitu saja, kemudian ia memeluk Elvano dengan sangat erat karena rasa haru bahagia yang Elvano berikan.


__ADS_2