Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Sensitif Tiba-tiba


__ADS_3

Uuueeekkk Uuueeekkk


Alisha terus memuntahkan cairan dari mulutnya, hingga membuatnya lemas tak berdaya dilantai. Lusi berteriak pada pembantunya agar mengambilkan minum untuk Alisha.


''Minum sayang, minum,'' ucap Lusi dengan khawatir lalu membantu Alisha untuk meminum air hangat itu.


''Bagaimana, sudah membaik?'' Alisha mengangguk lemah dan berdiri dari duduknya dengan dibantu Lusi.


''Pasti kamu telat makan ya, apa tuan Elvano tidak mengurus mu dengan benar?'' tanya Lusi dengan nada marah tapi Alisha langsung menyahutinya dengan gelengan.


''Dia mengurusku dengan baik, malah aku terus ditawari makan ini itu, entahlah perut ku rasanya penuh sekali.'' Alisha menyenderkan punggungnya di kursi yang saat ini mereka duduki.


Lusi hanya diam dengan tangannya mengusap sayang pada kepala Alisha, Walaupun dia belum terlalu mengikhlaskan bahwa anak perempuannya telah menikah dengan pria, yang dia sendiri tahu keseharian nya juga julukannya. Namun hatinya merasa lega karena ternyata Alisha di urus dengan baik oleh Elvano.


Alisha melirik ke arah sebuah pohon yang kebetulan buahnya sedang rimbun, yang dia sendiri belum tahu pohon apa itu.


Alisha memperjelas penglihatannya, kepalanya ia majukan, Lusi yang melihat tingkah Alisha ikut merasa heran, dan mengikuti arah pandang anak perempuannya ya h ternyata sedang menatap pohon yang berbuah lebat, pohon apel.


Lusi tersenyum lembut, mengusap-usap kepala Alisha seraya berkata dengan hangat, ''Kau mau apel?''


Alisha menoleh dan tersenyum memamerkan deretan gigi-giginya lalu mengangguk dengan cepat, ''Apa boleh, M–mah?''


Alisha ragu memanggil Lusi dengan sebutan Mama tapi ia berusaha agar terbiasa.


''Tentu saja, rumah ini dan seisinya milikmu juga, sayang. Sebentar ya!''


Lusi menggedikan kepalanya mencari seseorang yang entah kemana perginya.


''Bima! Bima…!'' panggil Lusi dengan sedikit teriak karena memang dia sendiri tidak tahu ada dimana Bima saat ini.


Beberapa saat kemudian orang yang dipanggilnya akhirnya muncul dari pintu samping kursinya. ''Ada apa, Ma…?''


''Adikmu menginginkan itu, tolong Mama ya, ambilkan itu,'' ucap Lusi memerintah Bima dengan sangat baik.


Bima mengikuti arah tunjuk Lusi, matanya memicing karena tidak jelas apa yang sedang ditunjuk ibunya itu.


''Apa?''


''Itu lho nak', buah itu,'' tunjuk Lusi lagi.


''Hah? sejak kapan kita punya pohon itu, apa buahnya bisa dimakan?''

__ADS_1


''Astaga, Bima. Itu apel, sudah sejak dulu saat jamannya Kakek mu masih ada, pohon itu sudah berdiri disana. Dan buah yang selalu kau buat jus itu, ya buah apel itu.''


Bima mengangguk-angguk mengerti, tapi tidak langsung pergi ke pohon itu sehingga Lusi kembali menegurnya.


''Bima, tunggu apalagi?''


''Oh iya, sebentar.'' Saat Bima akan melangkah, tiba-tiba Alisha menghentikannya.


''Tunggu!''


''Kenapa nak?'' tanya Lusi dengan bingung.


''Aku ingin mengambilnya sendiri,'' sahut Alisha dengan tatapan mata yang berbinar-binar.


''Tapi pohon itu tinggi, kau bisa memanjatnya?'' timpal Bima.


''Sepertinya dahan yang rendah ada buahnya juga, aku akan ambil yang dahan bawah saja.'' Alisha sudah melangkah menuju pohon itu dan Lusi juga Bima membuntut dari belakangnya.


Dan benar apa yang dikatakan Alisha, kalau dahan yang di bawah juga terdapat beberapa buah yang bergelantungan bebas di sana, dengan segera Alisha memetiknya beberapa saja, yang kemudian dia simpan di dressnya hingga mengatung.


''Nanti bajumu kotor, nak… .''


Alisha mengambil satu buah lagi dan langsung ingin ia makan langsung, tapi dengan cepat Bima manapisnya sehingga membuat buah itu terjatuh ke tanah.


Alisa menatap sedih pada buah yang terjatuh itu, kemudian beralih menatap Bima dengan sinis.


''Ada apa dengan dirimu! itu buahku kenapa kau buang!''


''Kenapa kau mau makan itu? jelas-jelas itu belum dicuci, kau jorok sekali. Bagaimana kalau ada kandungan pestisida nya, kamu mau mati?''


Mata Alisha berkaca-kaca mendengar ucapan Bima yang terdengar mengomelinya. Lusi pun ikut merasa kalau memang Bima sedang mengomeli Alisha, dan saat lusi melihat mata Alisha yang berkaca-kaca, dengan cepat Lusi memukul lengan Bima begitu keras.


''Kau bisa tidak! jangan mengomel seperti itu, bicara baik-baik kan bisa!''


''Bukan mengomel, Mah. Bukan begitu maksudku, tapi dia akan memakan buah yang belum dicuci kalau tidak segera Bima buang.''


Lusi mendengus kesal, walaupun memang tindakan Bima sudah benar. Tapi melihat anak perempuannya yang baru saja kembali ke pelukannya itu bersedih, tentu membuat dia marah.


''Ya sudah sini berikan pada mama biar mama cuci dulu kamu tunggu di sana ya, Bima ajak adikmu duduk di sana!''


Bima memutar bola matanya dengan malas, belum juga dua puluh jam adiknya ada di tengah-tengah mereka, Bima seakan tersisihkan. Tapi sungguh, pria itu tidak sama sekali mempermasalahkan itu karena dia sangat mengerti ibunya.

__ADS_1


''Baik, Mah.''


Lusi mengambil keranjang yang ada di samping pohon dan memindahkan buah-buah yang ada di baju Alisha untuk ia cuci.


Alisa menyeka setetes air matanya itu, dia merasa heran pada dirinya sendiri, kenapa tiba-tiba hatinya sangat sensitif, padahal sebuah bentakan dan omelan itu sudah biasa ia dapatkan jauh sebelum ia mengenal Bima maupun Elvano.


'Bukankah bentakannya tidak terlalu keras? tapi kenapa seakan-akan aku sangat ingin menangis saat menerima omelan dia.' Batinnya bertanya-tanya.


Beberapa saat kemudian Lusi kembali dengan satu piring buah apel yang tadi dipetik Alisha, yang sudah dibuang kulitnya dan dipotong-potong beberapa bagian, agar anak perempuannya makan dengan mudah.


Tapi ketika ia meletakkan piring itu Lusi melihat mata Alisa seakan kecewa dengan apa yang dia bawa. ''Kenapa sayang?''


''Kenapa dipotong-potong dan kenapa kulitnya dibuang?''


''Lho… memangnya kenapa, bukankah harusnya seperti ini?''


''Tidak, aku ingin makan bulat-bulat dengan kulitnya juga.''


Bima dan Lusi saling menatap dengan rasa heran karena apa yang diinginkan Alisha menurut mereka sangat aneh.


''Kau ini aneh sekali, makan seperti ini tuh lebih enak lihat ini.'' Bima mengambil garpu lalu menusukkan pada buah apel itu kemudian memakannya dengan kesal.


Alisa mendengar pelan melihat tidak suka karena buahnya dimakan oleh Bima.


''Tadi kau buang sekarang kau makan buahku. Kalau begitu ambil saja semuanya, aku sudah tidak menginginkannya. Mah aku ke kamar dulu ya.''


Lusi menabung kepalanya dia merasa kesal dengan anak laki-lakinya karena lagi-lagi membuat anak perempuannya merajuk.


''Kau ini, baru saja berkumpul dengan adikmu, sudah membuatnya kesal seperti itu.''


Saat Alisha akan menaiki anak tangga, matanya tidak sengaja melihat telepon rumah di atas meja bawah tangga sana, dengan cepat ia menyambar gagang telepon itu dan segera menghubungi nomor Elvano yang telah ia hapali.


...----------------...


Hay teman reader ku yg baik hati 🤗 baca juga novel teman othor ya 🥰 gak kalah serunya lho 🙏


Judulnya :TALAK AKU!


Authornya : Arion Alfattah


__ADS_1


__ADS_2