Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Mama?!


__ADS_3

Lusi membuka pintu kamar yang tidak tertutup dengan sempurna. Matanya berbinar melihat gadis yang sedang tertidur dengan diselimuti oleh pria yang dia kenal sebagai teman dari anaknya.


Elvano menoleh, dia yang sedang duduk di tepi ranjang segera berdiri dan sedikit menyingkir memberikan ruang untuk wanita paruh baya itu agar bisa mendekat pada Alisha.


Lusi melangkah mendekat, dan Bima yang masih berdiri di bang pintu. Lusi mengusap lengan Elvano memberikan senyuman ramah dan melewatinya untuk kesamping ranjang.


Mata Elvano dan Bima saling bertukar pandang, entah apa yang ada di masing-masing pikiran mereka, hanya mereka yang mengetahuinya.


Lusi menutup mulutnya, merasa tidak menyangka bahwa akhirnya dia bisa bertemu dengan anak perempuannya yang hilang belasan tahun lalu. Mata Lusi beralih ke Bima yang memberikan anggukan kecil untuk meyakinkan Lusi, bahwa gadis yang sedang tertidur didepannya itu benar adalah anaknya.


Air mata seorang ibu tiada henti menetes, bukan air mata sedih melainkan kebahagiaan, kebahagiaan yang tiada tara. Dengan tangan gemetar ia mencoba menyentuh pipi Alisha namun dengan cepat ia menariknya kembali, karena tidak ingin menganggu tidur nyenyak Alisha.


''Ma… Bima dan Elvano pergi sebentar dulu ya?'' ucap Bima dan di angguki oleh Lusi.


Sorot mata Bima beralih pada Elvano yang sedang menatap Alisha, ia sedikit menggedikan kepalanya agar Elvano keluar sebentar dari sana, untuk memberikan ruang seorang ibu meluapkan rasa rindunya pada anak perempuannya.


Ketika Elvano dan Bima keluar, Lusi bersimpuh di samping ranjang, menatap haru pada wajah Alisha yang sedang tertidur dengan pulasnya. Dia sungguh tidak menyangka akan bertemu lagi pada anaknya, sejujurnya dia sangat ingin memeluknya menciuminya, tapi Lusi masih tidak berani karena takut menganggu Alisha.


''Purnama ku, kau sudah besar 'nak…?'' lirih Lusi yang menyeka air matanya.


''Kau tahu, Mama terus berharap bisa bertemu dengan mu lagi, walaupun Mama juga tahu harapan itu tidak akan terjadi, tapi Tuhan sudah baik, karena ternyata kamu kembali lagi pada Mama, dengan keadaan sehat dan cantik seperti ini.''


Lusi meletakkan kepalanya di tepi kasur, begitu dekat dengan wajah Alisha, tangannya dengan ragu menyentuh tangan Alisha, merasa tidak ada pergerakan, yang Lusi artikan kalau Alisha tidak terganggu dengan adanya dirinya disana.


Dari bermula hanya menyentuh, Lusi kemudian menggenggam lembut tangan Alisha dan hanya beberapa saat, Lusi malah ikut tertidur dengan posisi duduk di lantai dan kepalanya di ranjang.


Di depan kamar, Bima dan Elvano masih belum juga bicara. Bima berjalan ke pembatas teralis, bertumpu dengan kedua tangannya di sana, menghela nafasnya sebentar lalu kembali menoleh pada Elvano yang sedang menyenderkan tubuhnya di dinding kamar Alisha.


''El. Aku meminta waktu padamu, biarkan Alisha di sini untuk beberapa waktu biarkan mereka mengatur kedekatan antara ibu dan anak.''


Elvano sedikit mendengus lalu menjawab,

__ADS_1


''Baiklah tapi kuharap kau tidak akan pernah memisahkan aku dengannya. Dia hidupku, Bima. Entah bagaimana nantinya jika aku jauh darinya.''


''Aku bisa memikirkan itu, tapi kuharap kau bisa bersabar karena beliau sangat membutuhkan waktu begitu juga dengan Alisha yang pastinya sangat membutuhkan beberapa waktu untuk mengakrabkan diri dengan wanita yang baru ia temui, ibu kandungnya sendiri, yang terpisah semenjak dia kecil.''


Penjelasan Bima sangat di mengerti oleh Elvano, diapun setuju akan hal itu, tapi hati ya merasa ragu, dia takut akan Bima yang tidak akan mempertemukannya dengan Alisha lagi.


''Kalau begitu aku pamit, tolong sampaikan salamku pada ibumu dan aku titip Alisha, ISTRIKU.'' Elvano berkata dengan menekankan pada kalimat 'istriku' agar Bima tidak melupakan setatus Alisha yang sekarang.


*


Angin yang berhembus sedikit kencang membuat pemilik mata bulat itu mengerjap, ia merasakan angin itu menerpa wajahnya, alisnya mengernyit heran, ia bingung dengan interior tempat saat ini dia berada, langit-langit kamar bernuansa warna feminim, dan semua perabotannya sangat berbeda dengan kamarnya dan Elvano.


'Ada dimana ini?' batin Alisha.


'Dimana dia?' batin Alisha lagi mencari keberadaan Elvano.


Karena seingatnya, sebelum dia tertidur ia sedang bersama dengan Elvano di mobil.


Wanita paruh baya itu menatapnya dengan teduh, senyumannya sangat lembut, dia menatap Alisha dengan begitu lembutnya. Dan Alisha merasakan itu.


Lusi menatap Alisha dengan bahagia, akhirnya ia bisa melihat anak perempuannya yang menatap dirinya juga. Mata bulat Alisha sangat mirip dengan matanya, hidung kecil mancungnya mirip dengan suaminya. Dan bibir Alisha sangat mirip dengan bibir Bima. 'Ya benar, dia adalah anakku!' batin Lusi dengan hati bahagia.


''Maaf Bu? apa ini melihat—''


''Anankku…'' Lusi menyela karena tidak sabar memanggilnya dengan sebutan 'anakku' pada Alisha.


Alisha terdiam, jantungnya seakan berdebar lemas, apa yang barusan di katak ibu itu, 'annakku' apa maksudnya? Alisha bertanya-tanya.


Alisha ingat! ingat akan ucapan Elvano yang akan mempertemukannya dengan ibunya, tapi apa benar wanita paruh baya itu adalah ibunya. Dia takut jika hatinya terlalu berharap mengingat wanita yang waktu itu dibawa oleh Deva mengaku sebagai bibinya tapi ternyata palsu.


''Anda…?''

__ADS_1


''Mama, aku Mama mu, 'nak…'' sahut Lusi dengan cepat, ditambah dengan lelehan air matanya.


''Be–benarkah?'' Lusi mengangguk samar.


Lusi bangun dan duduk di tepi ranjang dekat sekali pada Alisha, tangannya terbuka ingin memeluk Alisha, Alisha yang melihat itu menyambutnya dengan baik, ia memeluk Lusi dengan erat.


''Akhirnya Mama bisa memeluk mu kembali 'nak.''


''Kau benar Mama ku?''


Lusi mengangguk yakin, melepaskan pelukannya dan menatap teduh mata Alisha. ''Ada tanda lahir di tumit kaki mu, dan ada juga di sekitar pinggang mu.'' Alisha tersenyum, karena apa yang disebutkan oleh wanita itu benar semuanya.


''Mama kehilangan mu di sebuah acara penyuluhan, acara itu disebut dengan pameran oleh desa yang aku ingat namanya Desa bumi bakti.''


Air mata Alisha ikut luruh, benar! kali ini dia benar-benar bertemu dengan orang tuanya, orang tua yang selama ini dia cari-cari.


''Mama…''


Lusi menangis bahagia, karena akhirnya mendengar sebutan Mama pada anak perempuannya. Lusi kembali memeluknya, memeluknya dengan erat, seakan-akan tidak ingin lagi dipisahkan oleh buah hatinya ini.


''Mamah tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan mu, walaupun memang harapan itu selalu ada. Bagaimana kehidupan mu nak, semoga selama ini kau baik-baik saja, ya?'' racau Lusi yang terus mengusap belakang Alisha. Alisha hanya bisa mengangguk karena hanya itu yang bisa ia lakukan karena mulutnya tidak bisa lagi berkata apapun.


''Beruntung Kakak mu menemukan mu, dan membawa mu kesini, ke pelukan Mama.''


Alisha terperanjat, ia membisu, matanya membulat. Kakak? Kakaknya yang membawanya kesini? tapi, bukankah Elvano yang bersamanya sebelum ia berada disana?


''Dia kakakku?!'' tanya Alisha dan Lusi mengangguk cepat.


''Ya dia Kakak mu, kakak kandungmu.''


Air mata Alisha semakin deras, karena yang dia kira pria yang sebagai kakaknya seperti yang dikatakan Mama nya itu adalah Elvano.

__ADS_1


''Aku menikah dengan kakakku?!'' ucap Alisha pelan namun bisa terdengar jelas oleh Lusi.


__ADS_2