
Setelah setengah jam lamanya Alisha baru keluar dari kamar mandi. Elvano yang melihat itu hanya bisa menahan senyumnya. dia tahu kalau Alisha saat ini tengah gugup karena terlihat dari sikapnya yang salah tingkah.
''Sudah malam sebaiknya kita tidur,'' ucap Elvano.
Alisha mengerling beberapa kali, mencerna Apa yang diucapkan oleh Elvano barusan. 'sebaiknya kita tidur?' Apa maksud elvano itu tidur bersama? di kamar ini? Alisha menggeleng dengan cepat, mengusir pikiran-pikiran kotor itu.
''Iya, kamar ku dimana?'' tanya Alisha dengan lugunya.
''Kamarmu? ini kamar kita!''
Mulut Alisha terbuka lebar, Dia baru saja mengusir pikiran kotor itu yang dia kira hanya ada di otaknya tetapi memang itu yang dimaksud dengan Elvano.
''Disini?'' ulang Alisha.
''He em.''
''Lalu di mana aku tidur?'' tanyanya lagi dan elvano hanya memberikan pergerakan tangan menepuk kasur bagian sisi kanannya.
Alisha menunjuk tempat yang di tepuk Elvano, dan dia hanya memberi anggukan dengan alisnya yang digerakkan naik turun.
''Tidak!''
''Kenapa?''
Alisha menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
''Cih, percaya diri sekali kamu, Al! dalam keadaan ku yang seperti ini mana mungkin aku berbuat macam-macam seperti apa yang kau pikirkan!''
Jika dipikir-pikir memang benar apa yang dikatakan Elvano, karena, dengan kondisinya yang seperti itu Elvano tidak akan berbuat macam-macam padanya. Lalu haruskah ia benar-benar tidur di satu ranjang dengan Elvano, pria asing yang baru saja dia kenal beberapa hari ini yang sudah mencuri ciuman pertamanya itu.
''Benarkah kau tidak akan berbuat macam-macam, Tuan? apa aku bisa memegang ucapanmu?''
''Ya! tentu saja! kau bisa percayakan itu padaku. Kemarilah!''
Dengan ragu Alisa pun mendekat dan naik ke ranjang sisi kanan, mengambil satu bantal guling dan diletakkan di antara mereka untuk pembatas tempat.
''Untuk apa guling ini?'' tanya Elvano.
''Untuk berjaga-jaga, takut Tuan khilaf!''
__ADS_1
Alisha pun merebahkan tubuhnya dan membelakangi Elvano. Jantungnya masih belum bisa berdegup normal. Dan tiba-tiba ia merasakan pergerakan dari Elvano yang mendekat ke arahnya.
Dengan cepat Alisa menghindar dan benar saja elvano sedang setengah duduk mencondongkan tubuhnya kepadanya.
''Tuan sudah berjanji kan?''
''Ck, buang jauh-jauh pikiran kotor mu itu. Aku hanya berniat menyelimuti mu, itu saja!''
''Ooh!''
Dan malam itu pun terlewat begitu saja dengan Alisha yang tertidur pulas dengan membelakangi Elvano, tetapi Elvano tidak merasa kesal ataupun kecewa pada sikap Alisha, Karena baginya itu adalah sikap waspada seorang gadis suci. Dan diapun merasa bahagia karena saat ini dia tengah bersama gadis yang pure gadis bukan sembarangan gadis yang seperti ia kenal sebelum-sebelumnya.
*
*
*
Matahari sudah memancarkan warna jingganya, Alisha yang sudah terbiasa bangun awal pum mengerjapkan mata, dengan setengah mata terbuka dia melihat wajah seorang pria yang tertidur saling berhadapan dengannya.
Deru nafasnya menerpa wajah, dan bahkan dia bisa merasakan aroma mint pada nafas yang keluar itu. Dengan perlahan Alisha turun dari tempat tidur lalu menuju jendela yang ternyata bisa dibukanya tidak seperti kamar dia sebelumnya, dan dia juga bisa menikmati indahnya pagi dengan panorama yang sangat menyejukkan di atas balkon yang bisa melihat hamparan taman bunga yang sangat indah di pandangan.
Menghirup udara sejuk Alisa dapat berpikir dengan tenang dan mentransfer energi baik ke dalam dirinya.
Serunya dengan bersandar dipembatas yang hanya setinggi perutnya saja.
Tapi tiba-tiba kakinya terpeleset dan hampir membuat ia jatuh ke bawah, kalau tidak ada tangan yang menahan bajunya hingga tubuhnya pun terpental ke belakang menabrak sesuatu.
Alisa mendongakkan kepala, dan ternyata pemilik tangan yang menariknya itu adalah Elvano yang saat ini tengah mendekatnya dengan erat dari belakang.
''Hati-hati! kau bisa kerja atau dari sini!''
Alisha hanya diam dengan menatap wajah khawatir Elvano.
Dengan tertatih Elvano menuntun Alisha untuk duduk di kursi yang ada di sana, lalu mengecek tembok pembatas itu dengan teliti. ''Aku baru menyadari kalau tembok ini ternyata berbahaya, biar Hito yang akan memperbaikinya,'' ucap Elvano dengan pelan dan terdengar oleh Alisha.
''Diperbaiki? tapi itu masih bagus.''
''Tidak, ini terlalu pendek dan berbahaya untukmu.''
__ADS_1
Alisha hanya bisa diam dengan wajah tidak percayanya akan sikap posesif yang dimiliki oleh Elvano.
Ketika Elvano duduk di kursi bersama dengannya, Alisha justru malah bangun dari duduknya.
''Mau ke mana?''
''Membuatkan kopi, mau?''
''Oh, memangnya kamu tahu letak dapurnya dimana?''
Alisha menggeleng dan elvano hanya bisa tertawa kecil kemudian menarik tangan Alisha agar kembali dulu di tempatnya.
Alisa sedikit terkesima melihat senyuman Elvano yang sangat jarang terlihat, iya benar! Elvano benar-benar tampan, apalagi dengan tersenyum.
''Biar Hito yang mengurus keperluanku, kau hanya perlu menemaniku dan mempercayai ku, itu saja!''
Ucapnya dengan mata yang menatap jauh ke depan.
Dan benar saja beberapa saat kemudian seorang pelayan datang membawakan dua gelas minuman dengan isi yang berbeda juga dua piring roti sandwich dan sebuah desserts yaitu sebuah yogurt dan ice cream yang ditaburi serpihan emas murni diatasnya.
''Selamat menikmati Tuan, Nona.''
''Terima kasih,'' ucap Alisha dengan begitu ramahnya.
''Jangan tersenyum kepadanya!'' ucap Elvano menyela dengan tiba-tiba karena melihat Hito yang tersenyum kepada Alisha.
''Maaf Tuan!''
Elvano menggerakkan jarinya seperti memintanya agar cepat-cepat pergi dari sana. Dan melirik kesal kepada Alisha yang tidak mengerti dengan sikap Elvano itu.
''Kenapa?'' tanya Alisha.
''Kenapa apanya?''
''Kenapa kau bersikap seperti itu pada pria tadi?''
''Memangnya kenapa?''
''Aku tidak suka!''
__ADS_1
''Baiklah, maaf.''
Hito yang baru akan keluar dari kamar mendengar pembicaraan Elvano dan Alisha, sedikit terkejut karena dia baru mendengar tuannya meminta maaf, di tambah langsung mengalah hanya dengan 3 kata dari seorang gadis. 'Aku tidak suka!' sungguh luar biasa perubahan Tuan nya ini.