Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Serangan Mendadak


__ADS_3

Perjalanan pulang dari rumah sakit, Erik yang mengemudi, Elvano yang duduk di sampingnya, dan Alisha duduk di kursi belakang.


Selama di perjalanan, Alisha nampak termenung karena memikirkan perkataan Elvano yang mengatakan orangtuanya sebenarnya masih hidup, dan wanita paruh baya yang kemarin mengaku sebagai bibinya ternyata bukan bibinya melainkan orang suruhan Deva. Apakah benar? tapi entah mengapa ia sangat percaya dengan ucapan Elvano.


Hatinya tiba-tiba memasrahkan diri pada pria bernama Elvano, pria yang awalnya menculiknya dan mengurungnya. Tapi dengan sikapnya yang menurut dia aneh, bahkan Elvano tidak seperti penculik kebanyakan, yang menyiksa ataupun melecehkan korbannya.


Justru Elvano mengurusnya walaupun sikapnya yang begitu dingin dan memaksa. Tapi Alisha tidak sama sekali merasa sedih ataupun terkekang walaupun akhirnya dia lebih memilih pergi atau bisa dibilang kabur waktu itu, itu bukanlah dia tidak tahu diri, hanya saja dia sangat ingin mengetahui keberadaan orang tuanya.


Wajar bukan? tentu!


Elvano menurunkan kaca yang ada di atas kepalanya hanya untuk melihat Alisha yang termenung. Ingin memulai pembicaraan tapi Elvano sendiri tidak mengerti bagaimana caranya ia memulai itu.


Matanya melirik ke arah lain, spion yang mengarah ke belakang, matanya memicing ketika melihat sebuah mobil yang berusaha mengejarnya dengan sebuah tangan yang keluar dengan senjata yang diarahkan ke mobilnya.


Elvano yang memiliki kepekaan berlebih tiba-tiba mengambil alih kemudi yang sedang dipegang Erik, sehingga mobil pun miring ke kiri yang tentunya membuat suara klakson dari mobil lain terus terdengar.


Alisha yang panik hanya bisa memejamkan matanya dengan berpegangan pada hand grip dengan sangat kencangnya.


Cetasss... Dorrrr... Dorrrr...


Suara dentuman keras terdengar dan keadaan jalanan pun menjadi kacau, bahkan mobil yang membawa mereka bertiga sudah ada jejak peluru. Tapi beruntung Elvano dan Erik begitu cekatan sehingga musuh pun sedikit tertinggal.


Elvano menoleh kebelakang melihat Alisha yang sudah ketakutan dengan memejamkan matanya, tangannya yang masih berpegangan pada hand grip pun gemetar hebat, dengan begitu ia bisa menggambarkan perasaan alisha saat ini.

__ADS_1


''Al! pakai ini. Jangan buka matamu sampai kamu merasa mobil ini berhenti!''


Elvano memberikan sebuah headphone pada Alisha yang langsung ia kenakan dan menurut apa yang di ucapkan Elvano.


''El, kau yakin tidak apa-apa?'' tanya Erik memastikan keadaan Elvano yang seharusnya masih harus beristirahat total.


''Jangan khawatirkan aku, usahakan kita bisa sampai mansion!'' ucap Elvano dengan tegas dan Erik pun hanya mengangguk lalu membelokan stirnya ke jalan kecil.


''Bodoh! kau mau kemana? mau bunuh diri?!'' maki Elvano karena Erik mengambil jalan yang ternyata salah, ya didepan saja sudah ada yang menghadang, bukan hanya satu mobil ataupun dua, tapi ada sekitar lima mobil yang siap menyerang mereka.


''Sial! baiklah jika ini yang mereka inginkan!'' Erik memutar stir itu sampai mobil pun berputar 180° sehingga ia kembali mengambil jalan keluar dari sana yang tentunya terus di kejar oleh musuh-musuhnya.


Beberapa kali Elvano mengecek keadaan Alisha yang masih terpejam dengan headphone di kedua telinganya. Merasa tenang karena Alisha mengikuti apa yang dia ucapkan.


Elvano benar-benar tidak memikirkan keadaan dirinya, yang bahkan dadanya kembali mengeluarkan darah lagi, yang menembus ke pakaian nya.


Cukup lama mereka berputar di jalanan dan ketika hampir sampai ke markas, musuh mereka tidak lagi mengikuti karena kalau mereka masih mengikuti, itu berarti besar nyali mereka menghadapi gerombolan serigala yang siap mencabik-cabiknya.


Elvano dan Erik saling tos tangan, dengan lega mereka menghela nafasnya bersamaan. Elvano mengulurkan tangannya kebelakang dan menepuk pundak Alisha yang langsung membuka matanya.


''Sudah, sudah aman. Kau tidak apa-apa kan?'' tanya Elvano den wajah yang masih datar.


''Tidak apa-apa, Tuan.''

__ADS_1


Alisha melepaskan headphone nya tapi ada sesuatu yang basah saat tangannya menyentuh pundaknya sendiri. ''Hah? darah?''


''Berikan tangan mu!'' ucap Alisha yang langsung menarik tangan Elvano, dan benar saja darah itu berasal dari tangan Elvano.


''Kau terluka, Tuan?!''


''Tidak!'' Elvano menarik tangan kembali.


''Bohong!''


Erik menoleh dan melihat Elvano yang mengenakan jaket kulit yang seingatnya, Elvano hanya memakai kemeja putih. Dengan satu tangannya, Erik melepaskan resleting jaket Elvano dan terpampang jelas darah yang sudah menembus kemeja hingga hampir seluruh dada dan perutnya.


''Kau berdarah lagi?!'' pekik Erik yang langsung menghubungi dokter pribadi untuk stand by di mansion.


''Kalian jangan berlebihan, aku tidak akan mati hanya karena ini,'' ucap Elvano begitu santainya.


Tapi berbeda dengan Alisha yang merasa khawatir dengan keadaan Elvano, matanya juga melihat bibir Elvano yang kian mau memucat, tapi dia heran. Kenapa seolah-olah pria didepannya itu tidak merasakan apapun.


Mobil sudah masuk ke pekarangan mansion, yang langsung disambut oleh beberapa anak buah dan seorang dokter disana.


Dengan berbondong-bondong, anak buahnya pun mengawal Elvano dengan sangat ketat, karena takut ada serangan lain yang menyusul. Tapi Elvano tidak suka itu.


Ia bahkan malah berbalik dan meraih tangan Alisha yang berjalan dibelakangnya. ''Jangan khawatirkan aku! kalian perlu mengawalnya juga, dan pastikan kalau dia tidak akan terluka!''

__ADS_1


Alisha dapat mendengar itu dengan jelas, bahkan ia melihat raut wajah dan sorot mata Elvano yang benar-benar mengkhawatirkan keadaannya.


Hatinya sedikit menghangat, tapi gadis 18 tahun itu tidak begitu mengerti guncangan apa yang ada dihatinya ketika melihat raut wajah Elvano yang menuntutnya untuk baik-baik saja itu.


__ADS_2