
Malam itu berlalu begitu saja, Elvano yang tidak sama sekali menganggu tidur Alisha saat sampai di hotel, karena suhu tubuh Alisha yang tiba-tiba berubah, ya karena efek jet lag.
Bahkan Alisha tertidur selalu mengigau malam itu, dan Elvano yang dengan sabar merawat nya dengan memberikan kompresan pada kening Alisha yang terasa panas.
Alisha mengerjap, ia merasa sangat haus, membuka matanya dan memperhatikan Elvano yang kini masih terlelap dengan begitu nyenyak.
Alisha tersenyum memperhatikan Elvano dengan tangan yang terlipat menjadi alas kepalanya, menikmati pemandangan yang sangat menawan hatinya. Hidung bangir yang indah itu berdampingan dengan tulang pipinya yang sama tegasnya disertai dengan garis rahang kokoh yang membingkainya.
Elvano yang sangat tampan dengan paras Amerika-Inggrisnya yang begitu sempurna, kulitnya yang putih pucat dengan bibir wine itu selalu tampak begitu sulit untuk membuatnya menahan diri agar tidak ingin menciumnya. Sekarang ia menyadari bahwa dia begitu memuja ketampanan Elvano yang sempurna dengan dadanya yang tak henti berdebar untuk pria itu.
Alisha mengulurkan tangannya dengan ragu menyentuh garis hidung bangir Elvano dengan jemarinya, lalu menelusurinya perlahan.
"Apakah pernah hatimu berdebar untukku?" tanya Alisha pada Elvano yang kini masih larut dalam mimpinya.
"Kau sangat tampan dan sempurna, semua wanita akan sangat mudah tertawan dengan dirimu yang seperti ini, terlebih kau sangat kaya raya. Tak akan ada wanita yang tidak menginginkanmu. Tapi aku tak melihat semua itu darimu, aku hanya melihatmu sebagai seorang penyelamat yang menolongku, memberiku rasa nyaman dan tempat yang aman. Aku menyukaimu, entah sejak kapan.''
Alisha kini mengusap rahang Elvano, “ Apakah tak pernah sedikitpun kau melihat padaku?”
"Aku tidak buta, Al…” desis Elvano dengan suara beratnya.
Alisha terkejut hingga menggenggam tangannya dan memperhatikan mata Elvano yang masih setia tertutup.
"Apakah aku mengganggu tidurmu, maafkan aku," ucap Alisha dengan begitu gugup. Namun, yang terdengar hanya suara dengkuran Elvano.
"Syukurlah, dia hanya mengigau..."
lirih Alisha lega.
Alisha takut tertangkap basah saat mengagumi dan menginginkan Elvano dengan begitu dalamnya. Tanpa dia ketahui, Elvano kini hanya berusaha untuk tertidur senyenyak mungkin agar dia mendengar semua yang Alisha katakan.
Mata Alisha turun ke area perutnya yang ternyata tangan besar Elvano menindihnya, dengan perlahan ia memindahkan ke ranjang. Dan dengan hati-hati ia bangkit dari tempat tidur, matanya mencari-cari air minum dan ternyata di kamar itu tidak ada dispenser ataupun gelas yang berisikan air mineral.
Dia melirik ke arah jendela yang ternyata masih gelap, jam dinding pun tidak ia jumpai disana, dan akhirnya dia pun berusaha mengintip arloji yang melingkar di pergelangan tangan Elvano.
''Jam empat? pantas masih gelap,'' lirih Alisha yang langsung keluar kamar.
__ADS_1
Matanya terbelalak karena ruangan yang setelah ia keluar dari kamar, terlihat sangat indah, bahkan sangat mirip kerajaan di drama-drama. Interior juga furniture benar-benar sangat mewah. Ia berjalan menuruni anak tangga dan matanya melihat sebuah minibar yang terdapat sebuah benda yang mirip teko air yang berwarna emas lengkap dengan gelas yang juga berwarna emas.
Tanpa berpikir lagi, dia menuangkan air itu ke dalam gelas karena dia merasa sangat haus. Menenggaknya hingga abis, dan tiba-tiba matanya melebar karena ternyata itu bukanlah air mineral, rasa panas menyerang tenggorokannya, dan tertinggal rada pahit di lidah.
''Weekkkk! minuman apa ini?'' Alisha mengendus cawan yang kosong itu, dan ternyata tercium bau yang sangat familiar di Indra penciumannya, tapi sedikit berbeda.
''Bau ini, seperti bau—''
''Kau sedang apa, Al?''
Alisha terjingkat, tubuhnya berputar ke arah suara itu berasal, yang ternyata Elvano sudah berdiri di anak tangga terakhir dan berjalan ke arahnya.
''En–tahlah, aku meminum ini, d–an sekarang kep–pala ku terasa berat, Tu–an…'' Alisha menekan kepalanya yang terasa memutar, bicaranya pun terbata-bata.
Elvano mengambil cawan yang Alisha pegang, ia menciumnya dan terkejut, ya! itu bukan air mineral melainkan alkohol yang bahkan kadarnya di atas 20%.
Brugh!
Alisha terhuyung dan hampir terjatuh, tapi beruntung, Elvano segera menangkapnya.
''Kau ini, ada-ada saja.''
''Van–no, aku terbang ya?''
Elvano terkesip, langkahnya terhenti, matanya seakan mengisyaratkan bahwa ia terkejut mendengar Alisha memanggilnya dengan benar tanpa ada embel-embel kata 'Tuan'.
Dia kira Alisha sudah tidak sadarkan diri, tapi tidak. Alisha saat ini tengah mabuk karena efek meminum alkohol itu.
Jemari lentik Alisha menyusuri garis-garis wajah Elvano, dari hidung, bibir hingga ke rahang dan sampai ke leher bawah telinga nya. Mata Elvano terpejam, ia menikmati sentuhan lembut dari tangan Alisha, darahnya seakan berdesir tidak karuan.
''Vano, kau ini tampan ya, tapi kenapa kau malah menikahi ku si gadis buruk rupa ini,'' racau Alisha yang membuat Elvano mendengus kesal.
Dia kesal mendengar kalimat itu, ''Gadis buruk rupa' kenapa dia menghina dirinya sendiri! kau cantik, Al! Cantik!'' seru Elvano menyahuti apa yang di ucapkan Alisha.
Elvano melanjutkan langkahnya, menaiki anak tangga seperti tanpa beban sedikitpun.
__ADS_1
''Kau tahu, siapa yang bicara seperti itu?''
''Siapa?''
''Ibu ku dan ayah ku di desa.''
''Itu berarti mereka buta!'' sahut sinis Elvano.
''Euumm… tidak! mereka dapat melihat dengan jelas kok,'' Alisha terus meracau tiada henti.
''Bahkan pernah saat aku berhasil kabur dari ayah yang akan menodai ku saat tengah mabuk.'' Langkah Elvano kembali berhenti, mendengar itu rahangnya mengeras, ia marah, dadanya bergemuruh. ''Aku mengadu ke ibu, tapi… ibu malah tidak percaya karena ayah bilang, tidak akan tergoda apalagi tertarik dengan gadis buruk rupa seperti ku,'' lanjut Alisha.
''Dan sekarang aku tanya sama kamu! apa aku gadis yang bur— eemmm…''
Tidak ingin mendengar lanjutan kalimat Alisha, Elvano membungkam mulut Alisha dengan bibirnya, tapi bukannya menolak, Alisha justru membalas pagutan Elvano yang alhasil dia berjalan dengan saling bertautan bibir.
''Jangan bertanya itu lagi! kau cantik, sangat cantik! paham?'' tegas Elvano setelah melepaskan pagutannya dan meletakkan Alisha di ranjang.
Saat Elvano akan berdiri, kerah bajunya di tarik Alisha, dengan genit Alisha tersenyum begitu centil.
''Apa kau tertarik pada gadis seperti ku?''
Tangan lainnya menyentuh rahang Elvano dan turun ke leher jenjang Elvano yang kembali membuat Elvano memejamkan matanya sesaat.
''Al… jangan seperti ini. Kau akan menyesal!'' ucap Elvano dengan serak menahan hasrat yang tiba-tiba bangkit.
''Menyesal? kenapa, kau kan suami ku, Van–no…''
Elvano mengigit bibir bawahnya, ia tdiak tahan apalagi mendengar panggilan mesra Alisha untuknya.
''Al, aku tidak ingin menggauli mu dengan keadaan tidak sadar begini, jangan memaksa ku untuk melakukannya.'' Suara Elvano semakin berat, yang menandakan ia benar-benar sedang menahan dirinya.
''Semua milik mu, Van–no!'' seru Alisha yang semakin membuat Elvano kelojotan.
''Kau belajar nakal dari siapa, hmm?''
__ADS_1
''Drama, aku selalu menonton drama, apa tidak apa-apa?''
''Hee'em… jika itu menguntungkan aku.'' Elvano menyeringai, dan mulai mencumbu Alisha tanpa ampun, dia tidak lagi peduli nuraninya yang melarang nya untuk melakukan hal itu di saat Alisha tidak sadar seperti ini. Karena Alisha sendirilah yang memulai nya.