
Semalaman Alisha berjaga di kamar rawat Elvano, yang sebenarnya Erik memintanya untuk pulang ke mansion bersama para pengawal, tapi Alisha bersikeras untuk menemani Elvano disana.
Yang mungkin saja karena rasa bersalah Alisha pada apa yang terjadi pada Elvano lah yang mendorongnya untuk bertanggung jawab sampai Elvano pilih.
Sebenarnya Elvano merasa tidak tega, karena melihat wajah Alisha yang terlihat tidak sehat, pucat dan kantung matanya yang menghitam.
''Kau tidurlah, mata mu sudah memerah,'' ucap Elvano pada Alisha dan diapun hanya menggelengkan kepalanya.
''Ya sudah terserah, aku mengantuk!'' Elvano pun memejamkan matanya tapi tidak benar-benar tidur, dia hanya ingin Alisha juga beristirahat.
Tapi tidak, Elvano melirik dengan mata yang setengah terpejam, kalau Alisha masih terjaga dengan matanya yang terus memperhatikan dada Elvano yang terbungkus sebuah perban.
Elvano dapat melihat, Alisha tengah ragu untuk menyentuh dadanya itu, dan terkadang ia meniup luka yang terbungkus perban itu, seakan sedang meniup luka pada seorang anak kecil yang terjatuh.
''Menggemaskan,'' lirih Elvano yang langsung memejamkan matanya karena Alisha yang menatap matanya karena mendengar suaranya.
''Dia mengigau ya?'' gumam Alisha yang terdengar ketelinga Elvano.
Huaaammm
Elvano mendengar lagi Alisha yang menguap, dan beberapa saat kemudian ia merasakan kepala Alisha terjatuh di lengannya, dengan perlahan ia membuka matanya dan yang ia lihat adalah Alisha tertidur dengan posisi duduk yang kepalanya ia letakan di lengan Elvano.
"Dasar keras kepala," ucap Elvano pelan, tangannya membenarkan rambut Alisha yang menutupi wajah manisnya.
Ya saat ini Alisha sudah tertidur dengan sangat pulas.
...*...
*
*
Malam itu semakin dingin, Alisha merasakan telapak kakinya kedinginan, hanya telapak kaki. Lalu kenapa dia merasa Anggita tubuh yang lainnya terasa hangat, didalam mimpinya Alisha sedang tertidur di atas ranjang dengan selimut tebal dan hanya kakinya yang ia keluarkan dari selimut.
Tunggu!
__ADS_1
Ini bukanlah mimpi, karena dia dapat melihat jelas, ada tempat tidur lain di sebrang ranjangnya, ya disana ada Elvano yang tengah tertidur tanpa pakaian atasnya. Ya dia sedang berada di rumah sakit.
Tapi seingatnya dia berada dikursi dekat ranjang Elvano, lalu kenapa dia berada di atas ranjang.
Alisha bangun dari tidurnya, memperhatikan sekeliling ruangan, yang seingat dia tidak ada ranjang lain selain ranjang Elvano.
Krekkk krekkk
Suara ranjang Alisha terus berdecit, yang tentunya membuat Elvano terganggu dan pada akhirnya terbangun. ''Kau bisa tenang tidak?'' ucap Elvano dengan mata yang tertutup.
''Hah? oh, maaf.''
Tapi bukannya diam di tempatnya, Alisha malah turun dari ranjang yang pastinya membuat suara lagi. ''Ck, berisik sekali,'' ucap Elvano yang sudah duduk dan menatap kesal pada Alisha.
''Eh maaf Tuan, saya cuma heran, kenapa bisa ada ranjang disini.''
''Kau hanya perlu tidur dengan nyaman, tanpa melakukan protes, Alisha!''
''Apa aku berjalan sambil tertidur?''
Alisha menutup mulutnya, pipinya memerah malu karena Elvano mengatakan kalau dirinya mendengkur.
''Ya sudah, aku mau tidur lagi, jangan berisik!'' Alisha mengangguk dan Elvano pun kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya.
Melihat Elvano yang kembali tertidur, Alisa turun dari Ranjang dan berjalan dengan berjinjit yang kemudian ia terjingkat karena suara Elvano yang mengejutkannya.
''Mau kemana kau?''
''Astaga, Tuan?'' Alisha mengusap dadanya karena kaget.
''Apa kau mau melarikan diri lagi?''
''Tidak! aku hanya ingin kekamar mandi,'' sahut Alisha.
''Mau apa?''
__ADS_1
''Mandi! puas! isshhh.'' Alisha pun berlalu kekamar mandi dengan kesal karena Elvano yang terus bertanya.
Elvano tertawa kecil melihat Alisha yang berjalan dengan berjalan menghentakkan kakinya. ''Dia itu sebenarnya lucu tapi menyebalkan juga.''
*
*
*
Erik datang membawa paper bag ditangannya. Membuka pintu tanpa mengetuknya, menatap kesal pada Alisha yang juga menyadari itu.
''Ini, kau pasti lapar. Makanlah.'' Ucap Erik pada Alisha.
''Terima kasih, tapi maaf aku tidak lapar.''
''Hei! kau manusia atau robot! dari kemarin malam, aku tidak melihat kamu makan, dan sekarang kamu bilang tidak lapar?!''
''Rik!''
Elvano menyela dengan sebuah panggilan peringatan.
''Oh maaf,'' Erik menyahut.
''Bagaimana? sudah kau urus kepulangan ku?''
''Sudah!''
''Hah, pulang? tapi Tuan belum pulih benar!''
Alisha yang terkejut seketika menyela ucapan kedua pria itu yang secara bersamaan menoleh kearahnya, dengan wajah Elvano yang mengulumkan senyumannya.
''Dia tidak akan betah disini,'' ucap Erik kemudian.
''Kenapa?''
__ADS_1
''Kau terlalu bawel ya, Nona!'' seru Elvano.