Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Kursi Roda


__ADS_3

Kini kedua pasangan pengantin baru itu sedang berada di meja makan, menyantap makanan yang Elvano pesan dari pelayanan kamar hotel.


Menyantap dengan lahap, Alisha bagaikan tidak bertemu makanan selama beberapa hari, sehingga membuat dia sangat lahap memakan makanannya.


Elvano melihat Alisha yang makan dengan lahap hanya bisa menahan tawanya, tangannya mengusap lembut kepala Alisha seraya berkata, “Pelan-pelan, aku tidak akan mengambilnya.”


“Aku sangat lapar, Tuan. Lutut ku terasa gemetar,” jawab Alisha dengan mulut yang masih menyimpan makanan. Jawaban Alisha juga membuat Elvano tersenyum getir karena panggilan 'Tuan' itu masih juga digunakan oleh Alisha untuk memanggilnya.


Elvano melanjutkan makannya. “Apa tidak bisa memanggil ku tanpa kata 'Tuan' di depannya,”desis Elvano yang ternyata terdengar di telinga Alisha.


Alisha terdiam, meraih gelas air dan menenggaknya hingga habis lalu menyahut, “Baiklah. Hubby…”


Elvano seketika menghentikan tangannya, mengangkat pandangannya dan menatap teduh pada Alisha yang saat ini juga tengah menatap dan tersenyum padanya.


“Hubby?”


Elvano mengulang kata Alisha, dan Alisha pun memberikan anggukan kepalanya.


“Tidak mau ya? ya sudah. Biar aku pikirkan—”


“Setuju! aku setuju dengan panggilan itu!” Elvano memotong kalimat Alisha yang belum selesai.


Elvano kembali menyantap makanannya dengan perasaan yang senang, ia suka panggilan Alisha terhadapnya, bahkan ia tidak menyangka kalau panggilan itu bisa keluar dari mulut Alisha.


Elvano terus tersenyum-senyum sendiri, ia makan dengan sesekali melirik ke arah Alisha yang juga sedang menyantap makanannya.


Selesai makan sarapan mereka. Oh tidak! kita harus meralatnya, ini bukanlah sarapan karena saat ini sudah masuk diwaktu makan siang. Dikarenakan pasangan pengantin baru itu telah sibuk sepagian ini di dalam kamar sana, sehingga melupakan dan melewatkan waktu sarapan.


Elvano tengah memakai pakaiannya, Alisha hanya duduk ditepi ranjang dengan terus memperhatikan pergerakan Elvano yang mondar mandir mencari ponsel dan jam tangannya yang entah ia taruh dimana.

__ADS_1


“Al, apa kau melihat jam tangan ku?”


“Itu,” tunjuk Alisha pada meja nakas yang terdapat jam tangan milik Elvano.


“Astaga! terima kasih. Eh? kenapa kau belum juga bersiap-siap?” tanya Elvano yang heran melihat Alisha ya v juga masih mengenakan piyamanya.


“Memangnya mau kemana?”


“Apa aku belum mengatakannya?” Alisha menggeleng, Elvano menepuk dahinya sendiri, entah kenapa belakangan ini dia selalu melupakan hal-hal yang harusnya ia ingat.


Elvano menghampiri Alisha dan membungkuk didepannya, “Aku akan menghadiri pertemuan para petinggi, dan kau harus ikut sebagai istri seorang George.”


“Tapi…—”


“Tapi kenapa?”


Alisha menundukkan kepalanya, wajahnya memerah, dan Elvano langsung meraih dagunya agar kembali menatapnya disaat ia sedang berbicara.


“Sssuuuttt! jangan dilanjutkan, aku sangat tidak menyukai itu!” Elvano menyala kalimat Alisha dengan jarinya ia letakan di depan bibir seksih Alisha.


“Ada beberapa hal yang harus kau pelajari di status mu yang sudah menjadi istri ku.” Elvano menjeda kalimatnya sebentar karena dia ingin mengambil posisi duduk di sebelah Alisha yang ia mengangkat Alisha agar duduk menghadapnya.


“Pertama, tidak boleh menundukkan kepala mu didepan siapapun itu, kecuali aku. Kedua, jangan pernah merasa rendah, karena saat ini derajat mu di atas mereka. Dan ketiga, jangan pernah memberikan senyuman manis mu pada pria lain, mengerti?”


Alisha hanya diam mematung, ia mendengar semua apa yang di katakan Elvano hanya saja ia tidak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah tampan suaminya itu, wajah Amerika-inggris yang khas, yang selalu menghipnotisnya untuk tetap fokus pada contour wajah Elvano.


“Al… mengerti kan?” ulang Elvano dan Alisha hanya memberikan anggukannya saja.


“Bagus! sekarang kau harus bersiap oke?”

__ADS_1


Alisha menggelengkan kepalanya lagi, yang membuat Elvano mengernyitkan dahinya. “Apa lagi?”


“Emmm, itu, aku kesulitan berjalan, By…” wajah Alisha sudah sangat merah, sebenarnya ia malu mengatakan itu, tapi dia harus mengatakannya.


“Kesulitan berjalan? kenapa?”


“Jangan berpura-pura tidak tahu, ini semua karena mu, By…”


Elvano terdiam sejenak, ia berpikir apa yang di maksud oleh Alisha, dan seperkian detik kemudian ia baru mengerti, lalu tertawa dengan lepasnya.


'Hahahaha!'


Alisha terkesip, melihat Elvano yang tertawa lepas seperti itu seakan baru melihat mutiara yang baru di angkat dari dasar lautan. Apakah dia gadis yang paling beruntung karena dapat melihat lesung pipi Elvano yang jarang terlihat, bahkan dia pun merasa baru pertama kali ini.


“Maafkan aku, Al … aku terlambat untuk mengerti,”ucap Elvano dengan sisah tawanya.


Alisha memanyunkan bibirnya, karena kesal dengan ucapan Elvano.


“Apa rasanya sesakit itu? hmm?” Elvano mengusap puncak rambut Alisha dengan sayang.


“Perih, dan digunakan untuk berjalan seperti linu.”


Elvano menahan senyumnya. Ia lupa kalau gadis yang baru saja ia jamah itu adalah gadis tingting, gadis yang belum pernah tersentuh dengan pria lain yang pastinya akan membuat dia merasakan sedikit trauma walaupun memang nantinya akan merasa candu.


“Kalau begitu kau bisa menggunakan kursi roda, bagaimana?”


Alisha tercengang, ide buruk Elvano ini membuat ia jantungan, entah pria itu dapat dari mana pikiran itu, atau memang otaknya sudah tercemar karena terlalu lama bergoyang di atas ranjang.


“Hubby! yang benar saja, apa kata orang nantinya.” protes Alisha dengan nada yang kesal.

__ADS_1


“Memangnya kenapa?”


Sungguh Alisha tidak bisa lagi menjawabnya, karena dia tidak mengerti jalan pikiran Elvano. Elvano pria yang cerdas dan berwibawa, namun kenapa bisa terlintas ide konyol itu. Menghadiri pertemuan penting dan membawa istri yang menggunakan kursi roda, yang mereka tahu kalau Alisha dan Elvano adalah pengantin baru. Apa tidaklah mungkin akan membuat mereka berspekulasi tentang-nya.


__ADS_2