
Klik!
Pintu dibuka Elvano, bibirnya tersenyum pada Alisha yang sedang menyesap susu yang masih di tangannya. Mata bulat Alisha di tambah sisa susu berbentuk bulan sabit di bibirnya
membuat elvano menahan tawa karena merasa gemas
Alisha meletakkan gelas susunya di meja riasnya yang bahkan belum pernah dia gunakan serangkaian make up yang tersimpan di sana, menatap Elvano tanpa berkedip bahkan sampai Elvano duduk di depannya dengan posisi yang berlutut, dia tidak sama sekali bergeming.
''Minum pelan-pelan tidak ada yang akan mengambilnya darimu.'' Elvano menyeka sisa susu itu dengan ibu jarinya dan kemudian memasukkan jarinya ke mulutnya sendiri, sehingga membuat Alisha bergidik geli.
''Tuan itu kan bekas bibirku!''
''Biarkan saja, toh rasanya sama-sama manis,'' sahut Elvano dengan santai.
Dan sahutan Elvano membuat Alisha tersipu malu, dengan pipinya yang memerah juga hidungnya yang seperti warna buah ceri.
''Lusa aku ada perjalanan bisnis ke Maroko, kamu mau ikut?''
''Aku ikut? di mana itu Maroko, jauh kah?''
''Tidak, hanya membutuhkan sekitar 5 jam perjalanan saja.''
Mata Alisha melebar.
''Wah! berarti jauh ya. Apa boleh aku ikut?''
''Tentu, kalau kamu menginginkannya.''
''Naik mobil?''
__ADS_1
Elvano mendengus pelan, karena banyaknya pertanyaan yang keluar dari mulut Alisha, tapi tidak membuat dia kesal barang sedikit pun.
''Kita akan naik pesawat. Bagaimana mau?''
Mata Alisa berbinar mendengar kendaraan yang akan mereka taiki.
''Naik pesawat? tapi aku pernah mendengar kalau naik pesawat itu harus mempunyai paspor dan identitas lainnya, sedangkan aku tidak memiliki salah satu dari itu.''
Yang semula berbinar seketika wajahnya berubah sendu.
Elvano tersenyum karena gemas mendengar celotehan Alisha yang sangat polos terlebih lagi melihat wajah murungnya.
''Kau hanya perlu diam dan duduk manis di sampingku, untuk paspor dan identitas lainnya itu semua sudah ku urus.''
''Benarkah? kalau begitu aku mau ikut!''
Jawabnya kemudian dengan sangat excited
Disinilah mereka berada sekarang, di kursi penumpang, pesawat milik Elvano pribadi. Dengan sangat kampungannya, bahkan Alisha tidak henti-hentinya terus berdecak kagum dengan furniture yang ada di dalam pesawat.
Kursi yang luas, TV yang berada tepat di depannya, pijatan kaki bahkan setiap beberapa menit sekali ia disuguhkan berbeda-beda minuman dan makanan.
''Kenapa pesawat ini berbeda dari apa yang aku lihat di TV?'' gumam Alisha yang terdengar oleh Elvano.
''Apa kau menginginkan sesuatu?''
''Eh? tidak Tuan.''
''Kamu bisa pergi ke kamar jika mengantuk.''
__ADS_1
''Kamar? disini ada kamar juga?''
''Tentu saja.''
''Wah keren.''
Karena lelah dan mungkin saja karena merasa pusing, akhirnya Alisha pun tertidur di kursinya, dengan kepala yang bersandar di pundak Elvano.
Dengkuran halus terdengar di telinga Elvano, suara yang menurut Elvano sangatlah lembut dan merdu walaupun hanya sebuah dengkuran. Tapi dia sangat menyukai itu.
5 jam berlalu perjalanan pun usai. Ya, mereka akhirnya mendarat di tanah bandara Maroko. Melihat Alisha yang masih tertidur pulas di kursinya membuat Elvano tidak tega untuk membangunkan, dan akhirnya pun memilih membawa Alisha dengan menggendongnya.
Erik dan teman lainnya yang juga ikut di pesawat pribadi miliknya, hanya bisa menggelengkan kepala karena sikap Elvano yang terlihat romantis yang bahkan belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Terutama dengan Bima. Yang sudah dari tadi menatap dengan tidak suka melihat Alisha yang berada di pelukan Elvano. Dan itu pun disadari oleh Erik yang mendapat perintah dari Elvano untuk mencari tahu, kenapa Bima bersikap aneh dua hari yang lalu.
Sebenarnya Erik sudah menyadari itu sejak lama sejak pertama kali Bima melihat Alisha dan di saat itu pula Bima pernah berdebat padanya soal Alisha yang akan dinikahi Elvano. Tapi Erik tidak sama sekali berpikiran jauh karena memang sifat Bima yang terkadang misterius, dan secara kebetulan elvano pun meminta padanya untuk mencari tahu akan sikap aneh dari Bima.
Erik tidak menyukai adanya pertengkaran terlebih lagi di dalam circle mereka, dan bisa dibilang Elvano, Erik, Bima dan Dion adalah 4 pria yang menjalin persahabatan sudah sejak lama, bahkan sejak saat mereka masih menduduki bangku sekolah pertama.
Dan Erik pun tidak mau langsung mengatakan apapun pada Elvano, sebelum dia benar-benar mengetahui apa sebenarnya yang Bima pikirkan.
''El, kalian berdua bisa ke hotel yang sudah aku siapkan. Kami bertiga akan menyusul karena ingin mengerjakan sesuatu,'' ucap Erik pada Elvano yang masih menggendong Alisha dan hanya menganggukan kepalanya lalu kembali melangkah pergi menuju mobil yang sudah menunggunya.
''Tapi, Rik!'' Bima menyela seakan tidak setuju dengan apa yang Erik katakan, tapi dengan cepat Erik menarik tangannya menjauh dari Elvano sebelum elvano mendengar apa yang Bima akan katakan.
''Sudahlah Bim, mereka pengantin baru mereka butuh privasi dan mungkin saja Elvano sengaja mengajak Alisha ke sini untuk sekalian berbulan madu,'' seru Dion dan diangguki oleh Erik yang menyetujui apa yang Dion katakan.
Bima mendengus kesal karena apa yang Dion katakan itu membuat dia hatinya tidak nyaman.
__ADS_1
Di mobil, Elvano yang tidak hentinya memandang wajah Alisha yang tertidur bak bayi perempuan yang tertidur di pangkuan sang ayah, lucu dan menggemaskan itulah yang menggambarkan wajah Alisha saat ini.
Musim seperti sedang mendukung kedatangan pengantin baru itu. Dikarenakan Maroko berada jauh di utara garis khatulistiwa, dan memiliki empat musim dan secara kebetulan kedatangan Elvano dan Alisha seperti mendukung suasana, karena musim saat ini adalah musim gugur, musim di mana keromantisan bagi para pasangan.