
Eriiiikkkkk....
Brakkkk
Sang punya nama pun muncul dengan tiga orang pria yang bertubuh lebih besar darinya, menatap Elvano penuh tanya karena bingung kenapa memanggilnya seperti itu.
Matanya melirik ke arah perempuan yang sedang membungkus tubuhnya pakai selimut putih tebal yang di atas ranjang, lalu melirik lagi kearah Elvano.
''Kau menyewanya? lalu kenapa?'' tanya Erik yang belum juga mengerti.
''Siapa yang mengizinkan dia kekamar ku!!'' teriak Elvano menggelegar.
''Bukankah kau yang memintanya?''
''Bawa dia dari sini! atau aku yang akan melemparnya dari jendela sana!''
Karena tidak ingin ada kasus yang muncul di media pada bar tempat biasa mereka berkumpul, Erik pun segera memerintahkan tiga anak buahnya membawa perempuan itu dari sana tanpa menunggunya hanya sekedar memakai pakaiannya.
''Gila!'' pekik Elvano.
''Mungkin ada kesalahpahaman, lagipula ada apa dengan dirimu, tidak ingin memakainya tapi melucutinya,'' seru Erik sedikit meledek.
''Aku melihat Alisha, tapi setelah mendengar namanya, aku baru menyadari kalau itu bukan dia,'' jawab Elvano dengan malas.
''Ha..ha..ha.. apa kau sudah terlalu menyukainya sampai orang lain pun kau lihat wajah dia.''
Erik tertawa terpingkal-pingkal, dengan memegangi perutnya. Elvano yang tidak terima, menendang bokong Erik agar keluar dari sana.
''Baik, baik. Aku keluar, tapi jangan sampai kau melihat guling itu sebagai Alisha mu, oke!''
''Brengsek!''
Erik yang baru saja keluar dari kamar Elvan dikejutkan oleh kedatangan dua orang pesuruhnya yang di mintanya untuk mengawasi Alisha yang dia sendiri sudah tahu ada dimana selama ini Alisha.
''Tuan!''
''Katakan?!''
__ADS_1
''Kami mendapatkan kabar, kalau nona Alisha dibawa Devan Siwa keluar pulau!''
''Sial! itu berarti dia mengetahui jika kita sudah mengintainya. Kita berangkat sekarang!'' Erik pun pergi dengan beberapa anak buahnya untuk mencegah Deva yang akan membawa Alisha lebih jauh lagi yang kemungkinan akan lebih sulit lagi menemukan jejaknya.
Di pulau tempat bersembunyinya Deva dan Alisha. Sebuah speed boat sudah terparkir di dermaga.
Alisha yang tengah tertidur pulas harus terbangun karena Deva yang membangunkannya.
Dengan mata yang setengah tertutup, Alisha pun duduk, angan-angan nya belum sepenuhnya kumpul, tapi Deva malah menariknya agar terbangun dari sana.
"Ada apa Deva?" tanya Alisha den suara sengau.
"Kita harus pergi dari sini, Lis!''
''Memangnya kenapa?''
''Emmm itu, emmm... aku baru saja melihat laporan cuaca, yang mengatakan kalau akan ada tsunami di pulau ini!''
Mata Alisha terbelalak, mendengar kabar itu ia pun panik. dengan rambut yang acak-acakan Alisha segera mengikatnya dengan sembarang lalu memakai sendalnya.
''Kalau begitu ayo Dev! tunggu apalagi?!''
''Kenapa Lis?''
''Bibi ku?''
''Dia sudah lebih dulu pergi, mungkin kembali ke panti, karena anak asuhnya disana pastilah mencarinya.''
Ada sedikit rasa kecewa pada diri Alisha tapi dia juga harus mengerti itu. Setibanya di dermaga, Deva yang lebih dulu naik mengulurkan tangannya untuk membantu Alisha naik juga.
Namun saat Alisha akan meraih tangan Deva, sebuah tembakan melesat didepannya yang hampir mengenai Deva yang sudah menghindar dan terkena tiang speed boat itu.
Alisha sudah berjongkok karena takut, apalagi dia baru ini melihat dan mendengarnya langsung. Tangannya sudah menutupi kedua telinganya, saat ini dia benar-benar merasa takut karena terlihat dari lututnya yang gemetar.
''Lis! ayo! raih tangan ku!'' teriak Deva tapi karena begitu merasa takut, Alisha tidak menghiraukan panggilan Deva.
Dorr .. 💥
__ADS_1
Sekali lagi suara tembakan itu terdengar dan lagi-lagi hampir mengenai Deva, yang ternyata memang diarahkan padanya. Alisha tidak sama sekali bergerak dari tempatnya, rasa takutnya semakin menjadi-jadi.
Tidak lama kemudian, segerombolan orang datang dengan speed boat nya. Lalu mengelilingi speed boat yang dinaiki Deva lengkap dengan senjatanya yang berbagai macam jenis. Dan Alisha ingat betul ada salasatu dari mereka yang memegang senjata Laras panjang yang mengarahkannya pada Deva.
''Brengsek!!''
''Deva! ada apa ini?!''
''Kau tenang Lis! jika kau ingin, melompatlah kemari!'' teriak Deva yang masih berusaha menggapai Alisha.
''Aku takut!''
Dengan keberanian yang tersisah, Alisha pun bangun dari duduknya, dan bersiap akan melompat namun saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya, iapun mengurungkan niatnya.
''Alisha!!''
Kepala Alisha menoleh kebelakang yang ternyata ada seseorang yang berjalan kearahnya, tapi dia tidak mengenalnya.
''Siapa dia?'' gumam Alisha.
''Lis, ayo! dia pria jahat!!''
Alisha kembali menoleh kearah Deva.
''Tidak, aku tidak berniat menyakiti mu, menjauh lah dari sana!''
Kini Alisha di landa kebingungan, karena dua orang yang berkata lain dan bertentangan. Dan setelah orang itu semakin dekat, tubuhnya malah berjalan melewatinya begitu saja dengan berbisik sesuatu sembari berjalan.
''Percaya padaku, diam atau menjauh! jangan dengarkan apapun yang dia bilang!''
Ya dia adalah Erik, tangannya sudah terulur dengan senjata di tangan nya yang di arahkan pada Deva.
Dan entah keberanian apa, Deva malah berbalik menodongkan senjata api pada Erik, dan kini kedua pria tampan itu tengah beradu tatap dengan senjatanya masing-masing.
''Go Alisha!'' teriak Erik dengan sangat kencang.
Alisha terjingkat dan memundurkan langkahnya tapi baru saja ia akan melangkah pergi suara tembakan terdengar lagi.
__ADS_1
Dorr💥