Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Sikap Hangat seorang Ibu


__ADS_3

''Apa maksud mu nak'? menikah?'' tanya Lusi yang ikut kaget.


''Iya.''


Alisha menangis, ia kecewa dan marah. Kenapa harus Elvano yang ternyata adalah Kakaknya, pikir Alisha.


Wajah Lusi memerah, ia juga merasa marah dengan Bima, tanpa mengatakan apapun Lusi pun keluar kamar ingin mencari Bima yang ternyata ada didepan pintu kamar.


Plak!!


Bima terkejut, ia memegangi pipinya yang merah karena tamparan Mama nya. Pedas! ya itu yang dirasakan oleh Bima.


''Mama, ada apa? kenapa menampar ku?'' tanya Bima dengan nada yang tetap lembut walaupun dia sangat ingin memakinya jika Lusi adalah orang lain.


''Kau keterlaluan, Bima! dia adikmu, kenapa kau malah mempersuntingnya! kenapa?!''


Mulut Bima terbuka tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Lusi, Mamanya. Mempersunting? apa maksudnya, ini pasti salah paham. Batin Bima.


''Ma… ini pasti salah paham–''


''Tidak perlu membela diri, Mama kecewa padamu!''


Bima memijat pangkal hidungnya, dia benar-benar tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Dan untuk memperjelas semuanya, Bima pun menarik tangan Lusi untuk masuk kekamar Alisha.


''Lepas! Mama tidak sudi di sentuh olehmu!''


Lusi menghempaskan tangan Bima dengan kesal tapi Bima tidak sama sekali membalas perlakuan Mama nya. Karena begitulah pria itu memperlakukan ibunya bagaikan seorang ratu, ya baginya, Lusi adalah segalanya.


Bima melirik ke arah Alisha yang sedang menangis diatas ranjang dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya. Merasa heran kenapa Alisha menangis, Bima pun memberanikan diri untuk menghampiri Alisha, namun Lusi menghalaunya.


''Jangan sentuh dia! kau Kakak yang durhaka!'' maki Lusi yang lagi-lagi membuat Bima menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


Merasa ada kebisingan, Alisha mengangkat pandangannya dan melihat wanita yang mengaku sebagai ibunya itu sedang berdebat atau lebih tepatnya sedang memarahi seorang pria yang berdiri membelakanginya.


Bima berbalik menatap Alisha dengan teduh.


''Ada apa, kenapa kau menangis?'' tanya Bima dengan lembut tapi Alisha malah diam, tidak menjawabnya.


''Kau siapa?'' tanya Alisha dengan suara sengau.


''Nak' dia Kakak mu, bukankah tadi yang kau maksud itu—''

__ADS_1


''Bukan, aku bahkan tidak mengenalnya,'' jawab Alisha.


Lusi terkejut, dia ternyata salah paham, dan telah menampar anak sulungnya yang bahkan tidak bersalah. Bima meliriknya dan Lusi hanya bersikap biasa saja, seperti tidak melakukan kesalahan.


Tanpa beban Lusi berjalan melewati Bima menuju ranjang Alisha.


''Nak' sayang... dia Kakak mu, Bima Houten.''


''Kakak?''


''Iya kakak,'' sahut Lusi.


''Lalu dimana suami ku?''


Lusi terdiam, ia melihat kearah Bima untuk meminta jawaban dari sorot matanya.


''Elvano sudah pergi, karena ada urusan penting.'' Bima tidak menjawab tatapan yang menyimpan banyak pertanyaan dari Lusi, ia malah bicara dengan Alisha.


''Elvano?'' gumam Lusi yang didengar Alisha.


''Iya, Elvano adalah suami ku.''


Lusi terkejut, ia terlihat syok, air matanya menetes lagi. Merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Bima merangkul pundak Lusi untuk duduk di ranjang, dan Bima duduk di lantai lalu menjelaskan semuanya.


Lusi terdiam menyimak begitu juga Alisha.


''Aku baru ingat! kau pria yang waktu itu membuat keributan di pernikahan ku kan, dan kau juga yang waktu itu menghampiri ku di pesta.''


Bima mengangguk, karena memang benar itu ada dia.


''Dari awal aku merasa kalau tidak asing padamu, wajah mu begitu mirip dengan mendiang Papa, tapi aku bahkan tidak sama sekali berpikiran kalau kau ternya adikku.''


''Mendiang? jadi Ayah ku sudah tidak ada?''


''Benar nak' Papa mu sudah meninggal dunia 16tahun yang lalu, setelah dirawat di rumah sakit selama hampir dua tahun lamanya.''


''Aku bahkan belum sempat melihat wajahnya,'' lirih Alisha.


''Tidak apa nak' yang terpenting kamu sudah ada bersama kita. Papa mu pasti sudah tenang disana.''

__ADS_1


Alisha mengangguk. Sebenarnya dia sangat senang karena bertemu dengan ibu kandungnya juga Kakak lelakinya namun dia juga masih canggung.


Kruuuukkk!!


Pipi Alisha memerah, ia memegangi perutnya karena suara itu berasal dari dia.


''Kau lapar sayang?'' tanya Lusi dan Alisha mengangguk samar, dia sangat malu, benar-benar malu.


''Kalau begitu biar Mama masakan sesuatu untuk mu, hmm?''


Lusi berlalu setelah mengusap kepala Alisha dan mengecup keningnya. Alisha tersenyum senang karena baru kali ini ia merasakan hangatnya perlakuan seorang ibu.


Tinggallah disana hanya ada Alisha dan Bima. Canggung? sudah pasti, terlebih lagi Bima yang tidak mengerti harus bagaimana ia bersikap.


''Kau istirahat dulu saja, selagi Mama menyiapkan makanan.''


''Istirahat bagaimana, jelas-jelas aku baru saja bangun tidur.''


Bima menggaruk tengkuknya. Dia semakin bingung harus mengajak bicara apa pada adiknya itu.


''Kak.'' Bima menoleh dengan cepat, dia tercengang mendengarnya.


''Hah? ke–kenapa?''


''Dimana ponsel ku, aku mau menghubungi suami ku.''


Raut wajah Bima berubah seketika, entah kenapa ia sangat tidak suka mendengar ucapan Alisha itu, terlebih lagi kata 'Suamiku' yang Alisha ucapkan itu. Membuat dia sangat muak.


''Aku tidak tahu, turunlah! pasti Mama sudah selesai memasak.'' Bima berlalu pergi begitu saja meninggalkan Alisha yang masih berada di ranjangnya.


Alisha keluar dari kamar, ia benar-benar tidak tahu harus ke mana dan hanya mengikuti insting ia berjalan menuju sebuah anak tangga yang bahkan ia tidak melihat di depan pintu kamarnya ada sebuah lift.


dan ternyata anak tangga itu menuju sebuah halaman belakang yang terlihat sangat sejuk tapi baru saja ia akan pergi ke sana suara Lusi menghentikan langkahnya.


''Sayang, kau mau kemana? kemarilah, Mama buatkan nasi goreng untuk mu.''


Alisha menoleh dan tersenyum lalu menghampiri Lusi yang ada di depan meja bundar yang terlihat ada wadah kaca yang terdapat kepulan asap.


Tapi baru beberapa langkah hampir mendekat pada Lusi, aroma masakan itu menyeruak masuk ke indra penciumannya, yang ternyata membuat dia tiba-tiba merasa mual.


pipinya mengembung menyimpan sebuah cairan yang ingin ia segera muntahkan. Dengan cepat ia berlarian ke arah halaman belakang itu lalu memuntahkan semua cairan yang tersimpan di mulutnya.

__ADS_1


Lusi dengan khawatir menyusul Alisha yang sedang membungkuk di bawah sebuah tanaman.


__ADS_2