Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Cemburu?


__ADS_3

Setelah selesai Erik memeriksa mobil dokter cantik itu, dan memastikan kalau dia membetulkannya dengan benar, Erik pun mengakat pandangannya lalu menutup kap mobil seraya berkata. "Coba kau stater," ucapnya, dan Lita pun menurut. Ia membuka pintu mobil untuk menghidupkan mesinnya yang ternyata mobilnya bisa hidup kembali.


Lita memberikan ibu jarinya dari dalam mobil mengisyaratkan kalau mobil sudah menyala kembali, Erik mengangguk samar lalu melangkah mendekat. Dengan gaya cool-nya ia menyenderkan tubuhnya di badan mobil Lita. Lita yang sudah membaca gerik Erik hanya mendengus pelan.


"Sebutkan no rekening mu, aku akan membayarnya," ucapnya yang akan mengambil posenlnya dari dalam tas.


"Cih, kau samakan aku dengan pegawai montir? bahkan duit ku pun tidaklah berseri," ucapnya dengan sombongnya.


"Sombong sekali," gumam Lita yang kesal.


"Jika kau berniat ingin membalas jasa ku, belikan aku segelas kopi yang dijual disana," tunjuk Erik ke arah sebuah kafe yang ada di sebrang jalan.


Lita memutar kepalanya mengikuti arah telunjuk Erik menunjuk. Sedikit berdecak, "Ya sudah kau tunggu disini.''


"Oh bukan itu yang ku maksud!" Lita mengurungkan niatnya untuk menyebrang, kembali berbalik kearah Erik.


"Lalu apaa...!"


"Ayo!" tanpa permisi Erik menarik tangan Lita untuk menyebrang jalan, meninggalkan  mobilnya disana.


'Eeehh!'


Lita mencoba melepaskan tangan besar itu yang sedang menariknya, tapi tangan mungilnya tidak sanggup.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"


"Ya minum kopi, apa lagi."


Erik menarik kursi dan duduk begitu saja, karena ia lihat didalam kafe cukup ramai, Erik memilih duduk di luar. Tangannya melambai pada pegawai kafe, dan tidak menunggu lama seorang wanita dengan berpenampilan sebagai pelayan menghampirinya.


"Silahkan Tuan..." Wanita itu meletetakan lembaran daftar menu, dengan sedikit membungkuk. Bukan membugkuk hormat tetapi ia membungkuk karena berniat menggoda Erik.

__ADS_1


"Cih," desis Erik merasa muak dengan trik yang seperti itu. Yang sudah biasa ia terima dari manusia seperti itu.


Lita yang melihat ekspresi kesal Erik hanya terkekeh kecil bahkan hampir saja tidak terdengar. Lita pun ikut menarik kursi dan duduk.


Lita masih memperhatikan gerakan sensual pelayan wanita itu, yang membantu Erik untuk memilihkan menu yang paling best seller disana, walaupun sebenarnya ia tidak perlu melakukan itu. Sebagai wanita justru Lita merasa malu melihat kelakuan wanita lalin yang sangat sengaja berniat menggoda seorang pria dengan pakaiannya, dengan kancing kemaja yang bagian atasnya sengaja ia buka, ia  bahkan memajukan buah melonnya agar di lihat targetnya.


"Nona? kami pesen ini saja, dua dengan red velvet-nya." Pelayan waniita itu seketika menoleh, dengan wajah yang menggambarkan bahwa ia terkejut seolah-olah sejak tadi ia tidak menyadari adanya Lita disana.


"O-oh, oke," sahut wanita itu dengan sedikit gugup.


Lita melirik ke arah Erik yang juga sedang menatapnya, "Benarkan sayang, pilihan ku tidak salah?"


Mata Erik mendelik mendengar panggilan itu, yang keluar dari mulut ketus seorang dokter, "Aaah, i-iya, itu saja," timpal Erik.


Dengan raut wajah yang ditekuk, pelayan wanita itu berlalu begitu saja setelah mengambil menu dari tangan Erik.


Erik melayangkan tatapan penuh menggoda pada Lita yang mendengus kesal setelah pelayan itu pergi.


"Sejak kapan kita meresmikan hubungan?" tanya Erik yang masih dengan gaya cool-nya.


"Maksudmu?"


"Tadi kau memanggil ku 'sayang', iitu berarti?''


"Ck, jangan percaya diri dulu, aku mengatakan seperti itu karena kesal melihat dia yang sengaja menggoda mu!"


"Kau cemburu?!"


Lita melebarkan matanya mendengar dugaan Erik padanya, "Hei! cemburu apanya, aku bahkan tidak mengenal namamu!"


"Tapi kau merasa kesal karena aku di goda dia, itu berarti kau cemburu."

__ADS_1


"Terserah!" ketus Lita.


*


Di mansion, Elvano yang masih saja bersikap posesif terhadap Alisha membuat wanita hamil itu merasa kesal, pasalnya sejak tadi Elvano terus melayangkan pertanyaan yang membuat Alisha jengah, "Kau yakin honey tidak mau kekamar mandi?"


"Astaga hubby... sudah delapan kali kau bertanya prihal itu, aku tidak mau kekamar mandi, puas?"


"Bukan begitu, aku takut di saat aku keluar kamar kau malah kekamar mandi sendirian, kamar mandi adalah tempat yang paling rawan bagi wanita hami, kau tau?"


Alasan yang sangat tidak logis menurut Alisha, ia hanya mendengus pelan dan menyenderkan tubuhnya di headboard, melajutkan menonton kartun favoritnya. Elvano ikut menyender dan ikut menonton film kartun yang Alisha tonton. Alisnya mengernyit disaat melihat tokoh kartun saudara kembar dengan kepala pelontos dan satu di antar mereka memiliki sedikit rambut yang berdiri ke atas dengan sedikit melingkar.


"Sayang, kau suka kartun itu?"


"Iya, kenapa?"


"Aku pernah mendengar, apa yang dilihat dan disukai ibu hamil dngan sesering mungkin terlebih lagi itu bentuk manusia, anaknya kelak akan mirip yang ibu hamil itu sukai. Aku tidak mau anakku mirip mereka!" Alisha ternganga mendengarnya, bahkan Elvano lebih parno dari dia.


"Hubby. Ini anakmu bukan anak mereka, yang pasti nantinya kalau tidak mirip aku, ya pasti mirip kamu, By.."


"Benarkah?" Alisah mengangguk.


Dia tidak menyangka seorang Elvano bisa seposesif itu. Ya sebenarnya dalam benaknya pun ia merasa bahagia karena di perhatikan suaminya, ya walaupun memang sedikit menyebalkan.


Alisha menghentikan mulutnya yang tengah mengunyah buah, ia seperti teringat sesuatu yang sangat ingin ia pertanyakan dari kemarin pada suaminya.


"Hubby?"


"Emmm, ya?"


"Sejak aku berada di rumah sakit, aku tidak pernah melihat kak Bima. Hubby tau ka Bima kemana?"

__ADS_1


Mendapatkan pertanyaan itu, seketika Elvano membisu, ia bingung haru menjawab apa, bahkan saat ini ia masih kesal pada pemilik nama itu.


__ADS_2