Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Ujian Seorang Suami


__ADS_3

'Hahahahah!'


Suara tawa yang menggelegar itu berasal dari sebuah ruangan yang ada di bangunan gedung tua namun terasa sangatlah nyaman. Terdapat 2 orang pria yang duduk dengan beberapa wanita yang menemani mereka menenggak beberapa jenis minuman yang ada di atas meja.


Ya mereka adalah Dion dan Erik, yang tengah tertawa bersama,  tapi apa yang membuat mereka tertawa?


"Aku sedikit tidak percaya, sungguh!" seru Erik dengan sisah tawanya.


"Aku juga terkejut, apalagi ya mengingat raut wajah Elvano yang merasa jijik dengan apa yang aku katakan, sungguh lucu!" timpal Dion lagi.


"Haah..., Alisha juga, belajar dari mana dia trik itu," cetus Erik dengan gelengan kepalanya lalu menenggak segelas wine yang di tuangkan oleh wanita yang duduk disampingnya.


"Tapi perlu kau ketahui Rik, mulai sekarang sepertinya Alisha yang akan menang dari Elvano. Dia sudah mulai pintar mengendalikan ketua mafia kita itu," sahut Dion.


"Dan munculah sebuah judul cerita, 'Bucinnya sang Ketua Mafia' hahahah! andai aku berbakat menjadi penulis, aku akan membuat cerita dengan judul itu." Erik terus tertawa.


Seakan tidak ada puasnya tertawa, merereka terus mentertawakan Elvano yang entah saat ini sedang berada dimana. Yang mungkin saja ia akan tersedak jika sedang minum dan akan bersin lalu mengusap hidung mancungnya atau bisa jadi, telinganya akan terasa panas karena kedua sahabatnya kali ini sedang bergosip tentangnya.


"Mau minum yang lain, Tuan?" tanya wanita berpakain seksi itu begitu tiba-tiba pada Erik dengan nada yang penuh godaan, namun tanggapan Erik tidak seperti biasanya. Erik memberikan sebuah isyarat dengan menggunakan tangannya yang artinya sebuah penolakan dengan tegas.


Dion agak terkejut dengan penolakan Erik pada wanita yang berpenampilan seksih dan menggoda itu.


"Kau bisa pergi, aku bisa menuangkan minuman ku sendiri," kata Erik dengan begitu jelas.

__ADS_1


Dengan wajah yang murung wanita itu pergi dari sana. Entah apa kesalahan dia kali ini sehingga pria yang sudah biasanya menggunakan jasanya bersikap dingin seperti itu.


"Kau kenapa, Rik?" tanya Dion setelah wanita panggilan itu pergi.


"Maksudmu?"


"Ya, bukankah wanita itu seleramu?"


"Oh," decih Erik yang sedang memutar gelas di tangannya, "Aku harus sedikit menjaga jarak pada para wanita panggilan, mulai sekarang," lanjutnya.


"Kenapa?"


"Karena ada hati yang harus ku jaga," ucap Erik dengan dramatis yang membuat Dion tertawa lalu menyemburkan minumannya kedepan dan hampir mengenai wajah Erik.


'Buahahahhahahah!'


Dion tidak bisa menjawab pertanyaan frontal Erik, karena ia terus tertawa hingga memegangi perut dan meneteskan air matanya. Sungguh ucapan sahabatnya itu ia rasa sangat lucu dan menggelikan di telinga.


*


Sedang di tempat lain, tepatnya didepan rumah besar. Elvano tengah berpikir keras bagaimana caranya masuk kesana sedangkan di sebrang gerbang sudah ada tiga ekor pit bull yang terus menggonggong kearahnya. Ya bukannya mereka ke supermarket tapi Alisha malah meminta mangga muda yang pohonnya ada di dalam pagar rumah besar itu.


“Honey..., kita beli di supermarket saja ya,” ucap Elvano yang berusaha membujuk Alisha yang sejak tadi berada dalam mobil karena dia sendiri pun takut dengan gonggongan tiga pit bull itu.

__ADS_1


“Tapi aku sangat ingin yang itu, lihatlah buahnya rimbun sekali.” Alisha menatap damba pada buah yang bergelantungan di pohon besar itu, bahkan liddahnya sudah menjjilati bibirnya sendiri karena merasa sangat ingin


mencicipi buah yag terasa segar itu.


Ya memang awalnya dia hanya membual dengan keinginannya itu, tapi setelah matanya melihat buah hijau bergelantungan bebas disebuah pohon yang ada di dalam pekarangan rumah besar yang dilalui mereka, membuat air liurnya serasa ingin tumpah.


Elvano mengacak rambutnya frustasi, ia sangat ingin marah tapi mengingat ucapan Dion yang mengatakan kalau itu adalah hal yang wajar bagi wanita hamil membuat ia berpikir kembali untuk menolak keinginan Alisha.


Kepalanya menoleh kekanan dan kiri, memperhatikan keadann setempat, mencari cara untuk ia mendapatkan satu saja buah itu. Mata berbinar ketika melihat beberapa buah yang menjuntai keluar pembatas dinding dan dia hanya tinggal memikirkan caranya untuk mengambil itu.


“Kau tunggu disini, jangan kemana-kemana!” ucap Elavano tegas pada Alisha yang mengangguk patuh.


Elvano berlalu entah kemana, Alisha mengeluarkan sebagian kepalanya turut memperhatikan kemana suaminya pergi dan ternyata Elvano menghampiri kumpulan anak kecil yang sedang bermain permianan tradisonal yaitu egrang, permainan yang terbuat dari bambu panjnag dengan pijakan kecil untuk kaki. Entah Elvano berniat meminjam itu untuk apa.


“Heh bocah! Paman pinjam itu!” ucap Elvano dengan suara yang membuat para bocah itu memundurkan langkahnya karena takut.


“Hei! Berikan itu, paman hanya ingin pinjam,” ucapnya lagi namun bukannya mendapatkan egrang yang dia inginkan, Elvano justru membuat anak kecil  itu menjerit ketakutan dan menangis dengan keras.


‘Huaaaaa!!!’ tangis bocah itu dengan keras sehingga membuat Elvano kebingungan dan panik.


"Lah! kenapa kamu nangis, apa aku salah bicara?"


    \~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


Mampir juga ke novel teman ku yaa...



__ADS_2