
Alisha perlahan melangkah masuk ke dalam ruangan yang sangat minim cahaya, bahkan matanya hanya melihat kilauan cahaya yang berasal dari celah jendela. Telinganya yang mendengar jelas suara cambukan dari sisi ruangan mendesis ngeri, dia mencari sendiri dengan menggunakan indra pendengarannya yang mengikuti di mana asal suara itu.
Alangkah terkejutnya dia melihat seseorang yang membelakanginya dengan luka cambukan yang ada di belakang tubuhnya. Air matanya menetes begitu saja. Luka cambukan itu terlihat begitu dalam dan pastinya akan sangat terasa sakit
Alisha tidak menyangka kalau ternyata orang itu benar-benar Elvano, mulutnya ternganga dengan tangan yang berada di depan bibir. Dan di sinilah Alisha berada, tepat di depan orang itu yang tengah tertunduk dengan tangan yang terikat di atas. Cambukan dari robot itu pun masih mendera tubuhnya berulang-ulang.
''Stop, Tuan! Kumohon hentikan!''
Alisha berteriak, melangkah maju dan tangannya ingin menyentuh dengan ragu. Perlahan Elvano mengangkat kepalanya, matanya terlihat memerah karena menahan rasa sakit itu.
Bibirnya tersenyum lemah, sungguh raut wajahnya menyiratkan sebuah rasa bersalah yang amat dalam pada Alisha. Dan Alisha sendiri menyadari itu.
''Tuan Erik! kemarilah!'' Alisa berteriak begitu kencangnya. Dan tanpa menunggu lama Erik pun, membuka pintu masuk dan berlari ke arahnya.
Terdengar Erik meringis melihat luka cambukan yang ada di tubuh Elvano. ''Tuan! tolong hentikan robot setan ini!'' rengek Alisha dengan tangisnya.
Elvano menggeleng lirih, ''Tidak Alisha, ini tidak seberapa dengan apa yang aku lakukan padamu, aku pantas mendapatkannya.''
''Tidak, tidak. Cepat Tuan! hentikan itu!''
Entah keberanian dari mana Alisha terus berteriak pada Erik.
Erik pun segera menekan tombol yang ada di belakang bagian robot itu, dan seketika robot yang disebut oleh Alisha adalah robot setan itu pun berhenti mencambuki tubuh Elvano.
__ADS_1
Dengan tangan gemetar, Alisha mencoba melepaskan ikatan yang mengikat erat pergelangan tangan Elvano, dengan dibantu Erik juga.
Setelah terlepas semua, Alisha memeluk erat tubuh Elvano yang sedikit meringis, karena merasakan perih saat Alisha menyentuh luka cambukan itu.
''Ma–Maaf. Kau bodoh atau apa! Tuan, kenapa kau menyiksa dirimu sendiri sampai seperti ini?!''
''Sudah kukatakan, ini tidak seberapa dengan apa yang kulakukan padamu kemarin. Maafkan aku Alisha.''
Alisa mengangguk dengan cepat, dan kembali memeluk tubuh Elvano yang kali ini dengan sangat hati-hati. Erik yang melihatnya memutuskan untuk meninggalkan Alisha dan Elvano di sana.
Alisha terus menangis di dalam dekapan Elvano.
Elvano menangkup wajah Alisha dan menyeka air mata yang terus luruh ke pipi mulusnya. ''Maafkan Aku… karena telah membuatmu menangis.''
''Maafkan karena aku, kau pasti merasa sakit.''
''Maafkan aku karena telah meragukan kesucian mu.''
''Dan dengan cara inilah aku menghukum diriku sendiri. Walaupun memang tidak ada apa-apanya dengan kesalahan ku padamu.''
''Ya, ya! Aku sudah memaafkanmu, Tuan. Kita obati lukamu ya.''
Alisha menarik pelan lengan Elvano ke sebuah kursi panjang, dan beberapa saat kemudian, Erik kembali dengan kotak obat di tangannya.
__ADS_1
''Biar aku saja.''
Alisha mengambil kotak obat itu dari tangan Erik yang kemudian berlalu pergi dengan bergumam, ''Ya pasti dirimu lah yang mengobatinya, tidak mungkin juga Elvano mau aku yang menyentuhnya.''
Alisa mengobati luka elvano dengan sangat hati-hati dan saat terdengar ringisan Alisa akan menghentikan gerakan tangannya dan meniupnya dengan lembut.
Sikap Alisha yang seperti itu membuat Elvano semakin merasa bersalah. Betapa kurang ajarnya, dia tidak mempercayai Alisha yang begitu polos. Betapa brengseknya dia! meragukan tentang kesucian dari Alisha.
Elvano berbalik menghadap Alisha, meraih tangannya yang sedang memegang kapas dan sebuah alkohol khusus luka Mengambil alih kapas dan botol berwarna kuning itu dari tangan Alisha. Lalu meletakkannya di meja. Matanya menatap lembut pada bola mata coklat milik Alisha.
Begitu teganya dia, malam itu memaksa merenggut kesucian gadis yang tidak berdosa ini.
''Maafkan aku, Alisha.''
Menatap lembut mata Alisha, dan Alisha pun dapat melihat penyesalan dari bola mata biru milik Elvano.
''Aku akan bertanggung jawab, menikahlah dengan si brengsek ini.''
Alisha hanya diam, ia bingung untuk menjawab apa, karena dia juga tidak mengerti apa yang saat ini tengah ia rasakan, perasaannya masih sangat labil.
Sedangkan, Elvano pria dewasa, yang pastilah sangat berpengalaman. Dia juga tidak mengetahui latar belakang pria ini, apakah dia harus menerima lamaran Elvano.
Elvano beralih menangkup wajahnya, menunggu jawaban Alisha dengan begitu sabar, perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir manis milik Alisha yang sudah pernah ia rasakan itu.
__ADS_1
Tidak ada penolakan dari Alisha, yang kemudian Elvano mendaratkan bibirnya lagi pada bibir seksi Alisha.