Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Sang Singa bertemu Pawang


__ADS_3

"Kalian berkumpul di ruang 4!" suara Elvano menggelegar membuat semuanya terjingkat kaget.


Rupanya kalimat singkat itu mampu membuat semua pelayan merasa terhantui. Kini semua orang pekerja yang ikut berada di rumah kaca bersmaa Alisha tadi terumaksud juga Dion, sudah berkumpul di ruangan yang di sebut Elvano adalah ruangan 4, ruangan yang dikhususkan untuk sidang para pekerja yang bermasalah.


Dion berdiri di barisan paling depan dan pekerja lainnya berdiri dengan barisan yang teratur, kepala yang semua menunduk dengan posisi istirahan di tempat membuat barisan itu seakan sedang mengadakan upacara bendera. Suara sepatu yang melangkah masuk ke ruangan itu menggema mmebuat semua pemilik jantung berdebar tak menentu.


"Ekheemmm!"


Hanya suara deheman saja membuat para mata terpejam dengan erat.


"Dion?!" suara itu menggelegar lagi dan membuat sang empunya nama tersentak.


"Ya?"


"Bisa kau jelaskan?"


Mendengar suara Elvano yang menunrut penjelasan darinya, Dion menghela nafsanya sejenak karena dia tahu kalau dia memang ikut bertanggung jawab akan apa yang terjadi tadi walaupun dia sendiri tidak mengetahui apa-apa.


"Entahlah, aku juga tidak mengerti." Dion menjeda ucapannya dan Elvano memicing tajam kearahnya. "Tapi aku bisa menyimpulkan duudk permasalahannya, El."


Elvano mengangkat satu alisnya yang menandakan bahwa ia meminta Dion untuk melanjutkan ucapannya.


"Mereka tidak salah, tapi Alisha yang memaks-"


"Maksudmu, istriku yang salah?!" potong keras Elvano pada kalimat Dion yang bahkan belum di selesaikan.

__ADS_1


"Bukan, bukan itu maksud ku, tapi memang Alisha yang sepertinya memakasa mereka agar menyetujui kemauannya," ujar Dion dan di angguki sebagian pekerja yang tertangkap mata oleh Elvano dengan lirikan tajamnnya.


"Tapi apa kalian tidak bisa mencegahya, hah!" Elavano masih dengan egonya karena merasa tidak suka Alisha ikut bergabung dengan pekerja kotor, terlebih lagi mengingat wajah cantik dan bersihnya yang terkena noda tanah merah, membuat Elvano berdecih kesal.


"Aku tidak mau tahu, kalian harus bertanggung jawa-"


"By..."


Suara halus manja dari seorang wanita membuat semua mata menoleh secara bersamaan. Ya pemilik suara itu yang tak lain adalah Alisha Purnama, Nyonya dari istana itu.


Elvano mendengus pelan melihat Alisha datang kearahnya tapi berbeda dengan apa yang di rasakan para pekerja itu yang menghela nafasnya lega karena menaruh harap pada nyonyanya itu, agar bisa menarik mereka dari masalah yang memang dibuat olehnya.


"Kenapa kau datang, hmm?" tanya Elavno begitu lembut ditambah dengan sikap hangat yang seakan dipamerkan olehnya untuk semua orang.


"Aku menginginkan mangga muda, apa boleh?" ucap Alisha dengan begitu manjanya.


"Heumm..., tapi aku sangat menginginkannya."


"Maaf El," seru Dion menyela pembicaraan suami istri itu. Elavano dan Alisha menoleh secara bersamaan, "Setahuku itu disebut dengan mengidam, eeemmm..., maksud ku, keinginan yang sangat wajar pada setiap wanita hamil, dan konon katanya jika tidak di turuti, bayi yang akan lahir akan berliur," jelas Dion membuat Elavano meringi jijik.


"Benarkah? kalau begitu carikan itu-"


"Tidak! Aku ingin kamu yang mencari itu dan..., aku ikut!”


Elavano sedikit tersentak mendengarnya tapi mengingat penuturan Dion yang mengatakan bayinya akan berliur membuat dia sedikit terganggu dan pada akhirnya segera mengiyakannya.

__ADS_1


“Baiklah, ayo kita cari itu di supermarket, muda-mudahn ada,” ucap Elvano yang langsung menarik Alisha dengan lembut.


Pasangan suami istri itupun melangkah pergi meninggalkan ruangan dan para pekerja termaksud juga Dion disana yang menatap langkah mereka. Di sela-sela langkah keduanya, Alisha menoleh sedikit ke arah mereka yang tentunya tanpa sepengetahuan Elvano, lalu memberikan kedipan sebelah mata dengan senyuman jahilnya.


Dion ternganga tidak percaya, ia mengerti sekarang apa tujuan Alisha sebenarnya datang kesana. Seorang Alisha mampu mengelabui sang ketua mafia hanya dengan sedikit suara yang mendayu.


“Boleh juga triknya,” gumam Dion dengan terkekeh, “Rupanya sang singa sudah ada pawangnya,” lanjutnya yang kemudian berbalik menghadap para pekerja yang masih harap-harap cemas.


“Kalian boleh bubar!” seru Dion.


“Bubar?”


“Ya, bubar. Dan lanjutkan pekerjaan kalian, kalian bisa sedikit merasa tenang sekarang, tapi kuharap kejadian ini tidak akan terjadi lagi.” Dion pun ikut pergi meninggalkan mereka yang bersorak lega.


“Haaahhh! Akhirnya..., aku bisa bernafas lagi,” ucap salasatu dari mereka.


“Iya, dan itu berarti kerlingan mata Nyonya tadi sebagai kode buat kita ya?”


“Sepertinya iya.”


“Tidak sangka Nyonya Alisha mampu mengendalikan Tuan George.”


Itulah pembicaraan mereka setelah para Tuan dan nyonyanya pergi.


                   \~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


Mampir juga ke Novel teman ku yaaa...



__ADS_2