Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Terkejut!


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Elvano tiada hentinya terus memangil nama Alisha, agar istrinya itu tesadar tapi Alisha tetap dalam mimpi indahnya. Gurat rasa khawatir pada diri Elvano juga sangat tergambar jelas, dan itu dapat di lihat oleh mata elang Erik.


Ada rasa tidak menyangka seorang Elvano yang dia kenal sangat dingin bisa sekhawatir itu pada seseorang, yang itu berarti kalau Alisha memang benar-benar orang yang sangat spesial dalam hidupnya.


Dan... dia juga tidak menyangka kalau Bima, yang teman paling ia andalkan karena sifat  solidaritasnya juga kepeduliannya bisa berbuat


seperti itu, yang bahkan pada penolongnya sendiri.  Erik merasa kalau dia telah salah menilai


para sahabatnya.


Sesampainya mereka di sebuah rumah sakit yang terdekat dari daerah dimana mereka menemukan Bima, Lusi dan Alisha. Tanpa menunggu para perawat Elvano segera membawa Alisha ke dalam sebuah unit gawat darurat.


“Cepat tangani dia!” perintah Elvano dengan sedikit meninggikan suaranya karena dalam keadaan panik.


“Maaf tuan, boleh saya tahu nama pasien?” tanya seorang suster dengan sebuah papan yang terdaftar lembaran pendataan pasien.


“Ck, sial! Ku bilang cepat tangani istriku!” bentak Elvano dengan suara yang sangat keras.


Erik yang melihat Elvano tengah memaki seorang perawat langsung menghampirinya, memberikan kode pada perawat itu agar menuruti Elvano terlebih dahulu biar dia yang mengurus administrasinya.


Tapi ada seorang dokter yang kebetulan melintas dan langsung menghampiri mereka, melihat kalau ada dua orang yang dia sangat kenal yaitu Erik dan Elvano ada disana, ia pun segera mengambil tindakan karena dia sangat mengenal kedua pria itu.


“Tuan Elvano, Tuan Erik? Mari ikut saya,” ucapnya yang langsung menuntun mereka untuk keruang tindakan.


Elvano meletakan tubuh Alisha dengan sangat  hati-hati. Dan dokter muda itu segera memeriksakan keadaan Alisha yang masih juga setia dengan mata yang terpejam di tambah rona wajahnya yang semakin memucat.


Yang biasanya pemeriksaan akan di lakukan hanya ada seorang dokter dan beberapa tim tapi tidak untuk kali ini. Dokter itu membiarkan Elvano berdiri disana. Dengan rasa cemas ia menunggu hasil pemeriksaan Alisha dan barulah ia akan bertanya.


Elvano terus memperhatikan dan menyimak pembicaraan yang bahkan dia sendiri tidak mengerti bahasa medis yang di gunakan oleh dokter dan tim-nya.


Dia hanya tahu kalau dokter itu bertanya pada perawat tentang keberadaan dokter SpOG.


Kenapa harus memangil dokter lain? Apa keadaannya parah? Batin Elvano yang semakin tidak menentu, dan padahal dia sendiri tidak mengerti apa itu dokter SpOG.


Elvano berdiri di samping ranjang Alisha, seperti orang bodoh, kepala Elvano mengikuti arah kemanapun para perawat keluar masuk ruangan itu.


Dan ketika seorang dokter lain masuk kedalam,  berbarengan pula sebuah alat yang di bawa oleh beberapa perawat menyita perhatian Elvano,


benda seperti komputer diletakan di samping ranjang Alisha. Dan ketika salasatu seorang perawat akan menutup lembaran tirai Elvano sontak mencegahnnya.

__ADS_1


“Tunggu! Kenapa harus di tutup?” tanya Elvano dengan sedikit marah.


“Maaf Tuan karena Dokter Lita akan melakukan serangkaian pemeriksaan.”


“Ya, saya mengerti tapi kenapa harus di tutup? Saya ini suaminya, apa saya juga tidak boleh


memantaunya!”


“Maaf Tuan saya hanya menjalankan tugas saya,” jawab perawat itu dengan kepala yang tertunduk.


Mendengar keributan di balik tirai, seseorang pun membukanya dengan kesal.


“Maaf Tuan yang terhormat! Jika anda mau menerima pemeriksaan dengan hasil bagus, anda harus mengikuti prosedur dari kami, silahkan anda keluar. Kalau tidak kami pun tidak akan memulai pemeriksaan lanjutan istri anda,” ujar dokter wanita itu yang tanpa secara langsung telah mengusir Elvano.


Mata Elvano memicing tajam menatap dokter wanita itu, “Apa anda mengusir saya?”


“Jika memang anda merasa seperti itu, silahkan.”


Seakan tidak mengenal takut apa memang tidak mengenal siapa Elvano, dokter itu menjawab semua ucapan Elvano dengan begitu lantangnya dan bahkan berani mengusirnya dengan terang-terangan. Selagi Dokter muda itu tengah berdebat dengan Elvano, dokter lainnya justru terdiam


dengan wajah pias.


“Semoga El tidak berbuat ulah,” gumam Erik dengan harapan.


Begitu Erik membuka pintu ia melihat Elvano yang sedang berdebat dengan seorang dokter wanita, heran dan bingung itulah yang di rasakan Erik karena ada yang berani menatap Elvano dengan begitu tajamnya.


Erik terkekeh dalam diam, merasa lucu dan kagum dengan orang yang sedang berhadapan dengan Elvano, “Wanita unik,” cetus erik tanpa sadar yang kemudian dia segera menarik Elvano untuk keluar


dari sana.


“Maafkan teman saya, dia memang seperti ini, silahkan anda memeriksanya, kami akan mengunggu diluar,” ucap Erik yang hampir saja keluar ruangan dan di angguki oleh dokter itu.


“Ck, kenapa kau menyeret ku keluar, aku ingin menemani istriku didalam!”


“Come On El, mereka tidak akan bisa menyelesaikan tugasnya jika kau membuat keributan seperti itu.”


Elvano hanya bisa mendengus kesal tapi apa yang dikatakan Erik memang benar adanya, dan saat ini bukanlah waktunya dia egois.


Beberapa saat kemudian Lusi dan Bima pun tiba, ya mereka tertinggal jauh ketika ada sebuah rambu lalu lintas berubah menjadi warna merah. Elvano dan Erik seketika menoleh bersamaan ketika mendengar deru tapak kaki yang menuju ke mereka.

__ADS_1


“Bagaimana keadaannya?” tanya Lusi pada Elvano, namun pria yang sudah menjadi menantunya itu tidak menjawabnya karena tengah menatap tajam ke arah Bima. Dan menyadari itu Erik yang mengambil alih untuk menjawabnya.


“Alisha masih sedang dalam pemeriksaan nyonya,” jawab Erik.


Terlihat mata Lusi yang sudah tergenangi air mata, dia sedih karena anaknya yang baru saja kembali padanya malah terbaring di ranjang kesakitan itu.


“Sebenarnya dia sakit apa. Astaga... , semoga hasilnya baik,” gumam Lusi.


Tidak berselang lama dokter yang tadi menangani Alisha pun keluar, yang langsung di hampiri Elvano, Bima dan Lusi.


“Anda suaminya?” tanya dokter itu.


“Ya. Cepat katakan! Apa yang terjadi dengan istriku?!”


Bima dan Lusi menoleh pada Elvano dengan tatapan yang berbeda, Bima yang menatapnya sinis dan Lusi yang menatap Elvano dengan alis yang turun.


‘Dia begitu khawatir...’ batin Lusi.


“Sampai saat ini, istri Anda belum juga tersadar tapi kami sudah memberikan tindakan. Dan sekarang saya akan bertanya pada Anda, alasan apa yang membuat istri Anda harus mengkonsumsi Estazolam,” beber dokter bernama Lita.


Elvano dan Erik saling menatap yang kemudian mereka menyadari sesuatu dan kemudian bersamaan menatap Bima dengan tajam.


“Saya tidak mau ikut campur permasalahan keluarga Anda, karena pertengkaran suami istri itu memang sudah biasa terjadi, hanya saja sangat di sayangkan kenapa harus Estazolam, karena kandungan dari obat itu akan membuat janin gugur.”


Semua pemilik mata terutama Elvano terbelalak kaget. “Janin??!”


Dokter Lita mengernyit heran karena baru menyadari kalau ternyata memang kabar pasiennya hamil belum satu anggota keluarga pun mengetahuinya.


“Brengsek kau Bim!!”


tbc...


...~~~~~~~~...


Mampir juga ke novel teman Nuna ya, tidak kalah serunya lhoo...


Judulnya ;  Wanita Satu Malam


Authornya;  Nana Shin

__ADS_1



__ADS_2