
“By?”
Suara Alisha terdengar sendu ketelinga Elvano, ia langsung memutar kepalanya, matanya mendelik dan dengan spontan langsung mendorong tubuh wanita itu agar menjauh darinya.
“Georgi!”
Suara wanita itu berubah jengkel.
“Cos'hai che non va?”
(Ada apa denganmu?)
Tanpa menjawab wanita itu Elvano malah berbalik dan menghampiri Alisa yang masih berdiri di tempatnya.
''Al?''
dan wanita itu malah menyusul elvano lalu menarik lengan elvano
“George, cosa stai facendo? E chi è lui?”
(George Kau ini kenapa? dan siapa dia?)
Tatapan wanita itu sangatlah tajam pada Alisha. menyiratkan sebuah ketidaksukaan pada sosok Alisha yang berada di dekat pria yang dipanggilnya George itu.
“She's my wife, don't look at him like that!”
(Dia istriku, jangan menatapnya seperti itu!)
Elvano menyahut dengan sebuah peringatan di akhir kalimatnya karena tidak menyukai cara tatap wanita itu pada Alisa.
“Your wife?!”
(Istrimu?!)
“Yes, she is my wife.”
(Ya, dia istriku)
“Then, what am I to you, George?”
(Lalu, aku ini apa bagimu, George?)
Elvano hanya diam dengan menatap bingung pada wanita itu karena baginya wanita yang selama ini hadir hanya sebuah objek untuk menenangkan pikiran yang dikala sedang kalut.
“You are nothing to me, our relationship just finished after the transaction was done!”
(Kau bukan apa-apa bagiku, hubungan kita selesai begitu aja setelah transaksi dilakukan!)
__ADS_1
“No!”
Alisa hanya diam dengan terus menatap keduanya secara bergantian, selain bingung dengan bahasa yang mereka ucapkan, Alisha juga tidak mau ikut campur ataupun sekedar bertanya siapa wanita yang saat ini sepertinya sedang bersitegang dengan Elvano, karena Alisha menilai dari ekspresi dan nada bicaranya.
“Pasti karena wanita ini!” ucap wanita bule itu dengan nyalang, dan menatap tajam ke arah Alisha lalu dengan tiba-tiba ia menarik lengan Alisha begitu kencang.
“Clarissa!”
Elvano langsung mendorong tubuh wanita yang bernama Clarissa itu sehingga dia terjatuh di atas pasir pantai.
Elvano menarik lembut tangan Alisha, membawanya kebelakang tubuhnya. Dan kini matanya beralih menatap wanita itu dengan sangat tajam.
“Dia istriku, dan kau hanya wanita panggilan yang seharusnya tidak bersikap kurang ajar! mengerti?!”
Air mata wanita itu tiba-tiba keluar mendengar penuturan Elvano yang terkesan menghinanya, karena memang seharusnya dia bersikap tidak melewati batas profesinya.
Clarissa berdiri lagi dan menghampiri Elvano.
“Aku meninggalkan tunangan ku hanya demi kamu, George!”
“Dan aku tak perduli,” ucap Elvano yang masih memasang badan untuk Alisha
"Kalau aku tak bisa memiliki mu, maka tak seorang pun yang bisa memiliki mu, George!" ucap nya pada Elvano.
"Kau mengancam ku?" Tanya Elvano dengan santainya.
Elvano yang mendengar perkataan Clarissa yang menyumpahi istrinya seketika tersulut emosi.
Dengan sekali gerakan Elvano mencekik leher Clarissa dengan kuat hingga Clarissa hampir kehabisan nafasnya.
"Dengar… aku tidak peduli dengan perkataan bodoh mu itu, tapi satu yang harus kau tau. Bahwa istriku akan bahagia bersama ku, hanya bersama ku, ingat itu!" tutur Elvano yang masih terus mencekik Clarissa yang sudah mulai kehabisan nafas.
Lagi-lagi Elvano menghempaskan Clarissa begitu saja, membunuh Clarissa pun tidak mungkin, karena disana ada Alisha yang Elvano sendiri tidak mungkin melakukan itu, dia tidak ingin membuat trauma Alisha di waktu honeymoon mereka.
“Kau tidak apa-apa, Al?" tanya Elvano dengan lembut dan Alisha hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Elvano meraih lengan Alisha yang meninggalkan bekas tangan Clarissa, yang bisa dibayangkan betapa kuatnya Clarissa meremat lengan Alisha.
“Kita pergi dari sini, oke?” Alisha mengangguk dan Elvano pun membawa Alisha pergi dari pantai itu.
Elvano melajukan mobilnya meninggalkan pesisir pantai dengan wajah yang menahan emosi karena sikap Clarissa tadi pada Alisha.
Alisha hanya diam di tempat duduknya, dengan terus menatap kearah luar jendela. Entah kenapa bayangan wanita itu mencium bibir Elvano terus terlihat di matanya.
Elvano melirik ke arah Alisha, dia sangat tahu kalau kejadian tadi pada saat Clarissa menciumnya membuat Alisha seperti ini, diam seribu bahasa.
“Apa kau marah padaku, Al?” tanya Elvano tapi tidak dijawab oleh Alisha sedikitpun.
__ADS_1
“Al…?”
“Emmm, ya?”
“Kau melamun? apa yang kau pikirkan?”
“Tidak, ada apa?”
“Kau yakin?”
Alisha mengangguk, dan kembali menatap ke arah lain. Sebenarnya tanpa bertanya pun Elvano sangat paham, namun ternyata Alisha tidak ingin mengatakan apa yang tengah ia rasakan, karena memang hatinya masih ngilu mengingat kejadian tadi.
Elvano melajukan mobilnya ke arah hotel tempat dia tinggali untuk beberapa hari kedepannya bersama Alisha.
Ponsel Elvano bergetar, dan secara bersamaan mobilnya pun sudah berhenti di lobby hotel.
Elvano merogoh sakunya, mengambil ponselnya yang ternyata terdapat panggilan dari Erik.
“Ya?”
Disaat Elvano menjawab panggilan, Alisha turun dari mobil begitu saja dan memasuki hotel, untuk kekamar mereka lebih dulu.
Elvano yang masih bertelpon hanya memberikan perintah pada anak buahnya yang berjaga di sekitaran hotel untuk sewaktu-waktu di butuhkan, melalui tatapan matanya ia memerintahkan pengawal itu untuk mengikuti Alisha dan memastikan kalau Alisha selamat dan aman sampai ke kamar.
“Kau dimana?”
“Baik, aku akan masuk!”
Elvano memutuskan sambungan telepon dan segera keluar dari mobil dan masuk kedalam hotel yang ternyata di kursi tunggu sudah ada Erik yang menunggunya.
“El!” tangan Erik melambai memberitahukan kalau dia ada disana.
Elvano berjalan cepat menghampiri Erik.
“El, aku mempunyai kabar yang pasti membuat mu terkejut.”
“Tentang?”
“Aku sudah menemukan orang tua kandung Alisha, dan ternyata dia adalah anak dari keluarga Houten!”
Elvano terkejut bukan main, mendengar nama Houten disebut Erik sebagai keluarga asli dari Alisha.
“Kau bicara yang benar!”
“Aku bicara benar, El. Semula aku ragu, dan aku mulai menyelidiki dengan sangat serius, dan ternyata benar, DNA Alisha sangat cocok dengannya!”
Elvano terdiam dia tidak menyangka dunia sesempit ini, ternyata keluarga Alisha berada di sekelilingnya.
__ADS_1