Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Hati Yang Nyaman


__ADS_3

Pintu pun diketuk yang ternyata Hito yang kembali ke kamar Elvano.


''Maaf Tuan tapi dokter meminta saya untuk menyuruh Anda berjemur setiap pagi,'' ucap Hito dengan kepalanya yang tertunduk.


sarapan sudah selesai piring yang semula terisi kini sudah kosong, Elvano melirik ke arah Alisha yang sedang menatapnya juga.


''Iya, iya! saya mengerti. Kamu boleh pergi!''


Elvano kembali mengusir Hito, tetapi dengan cara yang sedikit lebih halus dari sebelumnya. Walaupun sikap arogan dari Elvano memang tidak bisa diubah dalam waktu singkat.


Elvano beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Alisha yang menatapnya bingung, tapi arfana tetap diam dengan menaikkan satu alisnya dan tetap dengan tangannya yang terulur menunggu Alisha agar menyambutnya.


Tanpa bertanya Alisha pun meraih uluran tangan Elvano, dan ternyata Elvano membawa dia keluar kamar menuju sebuah pintu yang ternyata pintu itu adalah lift yang akan membawanya ke lantai bawah, tepatnya di halaman belakang.


Wajah Alisha berseri melihat pemandangan taman yang sangat indah, masih dengan tangan yang digandeng Alisha berjalan mendahului Elvano dan berdiri di bawah sebuah pohon yang rimbun dengan buah apel yang cukup lebat.


''Ini buah sungguhan?'' kata Alisha dengan mata yang berbinar.


''Palsu! ya sungguhan lah, ini!''


Elvano memetik buah apel yang merah dan memberikannya pada Alisha, ia menerimanya dengan wajah yang bersinar.


Apel yang merah menggoda dahaganya, namun saat ia akan memakannya langsung, tangan Elvano menahannya.


''Mau apa kamu?''


''Memakannya.''


''Ini kotor, aku bersihkan dulu.''


Elvano melangkah menuju sebuah wastafel dan mencuci bersih apel itu lalu kembali dan memberikannya lagi pada Alisha.


''Wah!''


Alisa menerimanya dengan wajah yang bahagia lalu menggigit sedikit apel itu yang ternyata rasanya benar-benar sangat manis.


Pipi Alisa mengembang dengan rona merah di sana, menandakan kepuasan dalam hatinya. Dan pada saat ia akan memakannya lagi Elvano justru merebutnya dan menggigit tepat di bagian bekas gigitannya.

__ADS_1


Alisa ternganga tidak percaya karena Elvano mau memakan bekas gigitannya, dan bahkan tidak merasa jijik sedikitpun.


''Tuan! itu bekas gigitanku,'' kata Alisa dengan hidung yang mengkerut dengan alis yang turun.


''Lalu kenapa?''


''Ti–tidak!''


''Ini hanya sebuah gigitan, belum yang lainnya, aku tidak sama sekali merasa jijik. Karena semua yang bersangkutan dengan anggota tubuh mu, tidak masalah bagiku!''


Elvano meraih tangannya lagi, menarik dengan lembut ke satu pohon yang di sana bunganya sedang berguguran. Bunga berwarna kuning itu sangat harum baunya, bahkan lebih harum dari bunga melati.


Wah!


Alisa berseru lagi, dia benar-benar dibuat kagum dengan pemandangan indah taman ini. Bunga, buah, juga ada kolam ikan di sana. Sangat asri dan menyejukkan mata.


Elvano menarik kencang tangan Alisha sehingga tubuh mereka saling bertubrukan. Kini keduanya sudah tidak ada lagi jarak, Elvano menatap lekat pada kedua iris bola mata coklat milik Alisha.


Tangan Elvano mendekap pinggang ramping Alisha, berdiri di bawah pohon yang bunganya sedang berguguran sehingga pemandangan itu sangatlah indah.


''Batas hari ini aku tidak akan mengekang, mengurung, ataupun memaksamu! tapi ku mohon jagalah kepercayaanku dan percaya padaku, hmm?''


''Kenapa menangis?''


Elvano menyeka air mata Alisa dengan satu jari telunjuknya. Elvano menggelengkan kepalanya, meminta agar Alisha berhenti bersedih.


''Jangan pernah meneteskan air mata lagi kecuali air mata itu adalah air mata bahagia. Aku tidak tahu kehidupanmu sebelumnya seperti apa tapi ingatlah, ada aku di sini yang tidak ingin melihatmu bersedih.''


Hati Alisha bergetar lagi, sungguh! Elvano adalah pria pertama yang bersikap lembut kepadanya. Dan setiap kali berada di dekatnya Alisha merasa sangat nyaman dan aman.


Tapi apa boleh gadis 18 tahun menyukai pria yang usianya jauh di atas nya, bahkan Elvano lebih pantas dipanggil paman ketimbang dipanggil sayang.


Namun Alisha tidak dapat menolak perasaannya sendiri kalau saat ini dia telah menyukai Elvano. ''Apa boleh aku berharap pada Anda?''


''Tentu saja boleh!''


''Apa boleh aku bergantung padamu?''

__ADS_1


''Pasti!''


''Sungguh?''


''Hemm... maka dari itu jangan pernah berpikir untuk pergi lagi dariku.'' Elvano mencolek hidung Alisa.


Dibalik sikap dingin Elvano, Alisha justru merasa hangat jika berada di dekatnya. terbukti saat ini dia sudah lebih berani melingkarkan tangannya di pinggang Elvano.


Cup


Elvano mengecup singkat kening Alisha. Membuat Alisha sejenak memejamkan matanya karena terhanyut dengan kecupan mesra Elvano.


Sebenarnya Alisha sangat ingin menanyakan keberadaan orang tuanya pada Elvano, yang mengatakan kalau sebenarnya orang tuanya masih hidup. Tapi entah kenapa dia tidak ingin membahas itu dulu karena hatinya sedang menikmati kehangatan juga kebersamaan mereka saat ini.


''Oh ya! sudah waktunya mengganti perban Anda. Biar ku bantu!'' Alisha yang akan melepaskan tangannya dari pinggang Elvano harus tertahan lagi karena Elvano yang belum juga mau melepaskan dekapannya itu.


''Biarkan begini dulu sebentar saja,'' ucap Elvano masih dengan raut wajah datarnya.


Alisha mengangguk, dan tanpa Elvano duga dia justru meletakkan kepalanya di dada Elvano. Yang sekarang pemandangan itu sudah cukup membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iri.


Tangan kanan Alisha bergerak naik ke atas menyentuh perban Elvano dengan jari-jarinya. Ingatannya kembali ke waktu dimana dia melihat Elvano yang sudah terkapar dengan luka tembakan ini.


Yang berawal dari rasa bersalahnya lalu merasa iba, dan sekarang dia justru menyimpan sebuah rasa untuk Elvano, yang bahkan dia sendiri tidak berani untuk mengatakannya langsung.


Karena dia takut rasa itu hanya dimiliki olehnya, tidak dengan Elvano.


Lama mereka saling berpelukan, dengan kepala Alisha yang sudah bersandar di dadanya. Dan saat elvano merasa nafas Alisha yang semakin teratur, ia melongok wajah Alisha yang ada di dadanya, yang ternyata Gadis nakal itu saat ini sudah tertidur di dekapannya dengan kepala yang bersandar nyaman di sana.


Elvano tersenyum tipis melihat nya. Hito dan beberapa anak buahnya yang berdiri di depan pintu segera menghampiri Elvano.


Karena Hito dan anak buah lainnya merasa kalau kamu Elvano tidak akan bisa membawa Alisha dengan kondisinya seperti ini.


''Mau apa kamu?!'' tanya Elvano dengan sarkas.


''Membantu Tuan membawa Nona Alisha,'' jawab Hito.


''Berani kamu menyentuhnya akan kupastikan tanganmu berpindah ke kaki!''

__ADS_1


Mendengar ancaman itu Hito meringsut mundur begitu juga yang lainnya. Dengan susah payah Elvano berusaha menggendong Alisha, walaupun dadanya masih terasa sangat sakit. Tapi Elvano benar-benar tidak rela jika tubuh Alisha disentuh oleh lelaki lain kecuali dirinya.


__ADS_2