Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Bangkit Kembali


__ADS_3

"Apa kau sedang cemburu sayang?" tanya Elvano dengan kegirangan.


"Tidak, kenapa harus cemburu."


"Kau yakin?" goda Elvano dengan raut wajah yang membuat Alisha semakin kesal.


"Hubby kau menyebalkan!" pekik Alihsa dan Elvano malah tertawa terpingkal-pingkal, manarik Alisah kedalam pelukannya dan menjatuhkannya di kasur.


Alisha terus memberontak, tapi Elvano tidak melepaskannya. "Hubby, lepass!"


"Tidak akan sebelum kau mengakui kalau kamu memang sedang cemburu," sahut Elvano yang terus memeluknya juga terus menciumi wajahnya tanpa henti.


"Aku tidak cemburu!" jerit Alisha dengan keukeuh.


"Ya sudah, kalau begitu kau harus terima dengan serangan ku selanjutnya."


Elvano terus menyerang Alisha dengan gemas sampai Alisha pun menyerah. "Eumm.. By ampun."


"Mengaku tidak?"


"Habis kamu genit," cetus Alisha dan Elvano menghentikan aksinya.


Posisi mereka saat ini saling bertindih, Elvano yang di bawah dan Alisha yang berada di atas tubuh Elvano yang memang ia masih memeluk tubuh istrinya itu.


Elvano menatap Alisha cukup lama dan mengecup pipinya yang semakin hari mangkin mengembang itu, dengan gemas ia terus mengecup pipi gembulnya . "Aku mana ada genit, bagiku semua wanita itu buruk rupa terkecuali istriku ini," lanjut Elvano yang membuat pipi gembul itu memerah karena tersipu.

__ADS_1


Tok Tok Tio


Suara ketukan pintu terdegar, Elvano memindahkan tubuh Alisha ke kasur lalu ia beranjak dari sana untuk membukakan pintu yang sudah ia tebak kalau yang datang adalah pelayan yang membawakan mangga muda itu.


"Ini Tuan, sudah saya bersihkan," ucap pelayan itu yang memberikan sepiring mangga muda yang sudah di potong-potong dengan rapih. Elvano menerima itu lalu menutup pintunya kembali, seperti biasanya kata terima kasih itu tidak akan diberikan pada pelayannya.


Elvano berbalik dan berjalan menuju tempat Alisha yang sudah duduk dengan bersila menatap damba pada piring yang berisikan potongan mangga muda itu, bahkan Elvano dapat melihat Alisah berulang kali menahan air liurnya agar tidak terjatuuh.


"Berikan itu, By." Tangan Alisha sudah terulur tapi Elvano lagi-lagi menggodanya dengan menjauhkan piringnya.


"Bayar dulu, disini," ucap Elvano menunjuk pipi kanannya dan tanpa menolaknya lagi Alisha langsung mengecup pipi Elvano yang segera diberikan itu padanya.


Alisha menyangga piringnya dan segera ia lahap satu persatu daging buah berwarna putih itu. Elvano tidak mengalihkan matanya dari mulut Alisha yang memakan buah mentah itu seakan buah itu sangat enak di indra pengecapnya. Elvano dapat menebaknya kalau rasa mangga itu sangatlah masam.


"Hubby mau?" Elvano hanya menggelengkan kepalanya.


Meninggalkan kisah bucinnya seorang ketua mafia, di belahan negara lain seorang pria tampan tengah disibukan dengan pekerjaannya. Dengan penampilan yang sangat formal, dia seperti orang yang berbeda dari sebelumnya.


Beberapa karyawan kerap keluar masuk keruangan hanya untuk mendapatkan tanda tangannya.


"Tuan Dirga, saya sudah mengatur jadwal pertemuan untuk besok dengan Carrol Corp," ucap seorang pemuda yang berprofesi sebagai asistennya.


Pria yang dipanggilnya Tuan Dirga itu mengulurkan tangannya meminta jadwal itu dengan mata yang masih fokus ke layar komputer. "Bagus, dan sekarang kau pergi ke bagian lab, katakan pada Gio kalau aku membutuhkan sample besok pagi," ucapnya dan di angguki asistennya itu.


Jari-jari kekarnya bermain lincah pada keyboard, matanya menatap serius pada layar monitor. Dan setelah selesai dengan pekerjaannya yang sepertinya memang sedang menumpuk, akhirnya ia bisa menghela nafasnya dengan lega.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga." Lirihnya kemudian, kaca mata yang bertengker di hidung mancungnya ia lepaskan dan disimpannya di laci meja kerjanya.


Tapi baru saja ia bisa menyenderkan tubuhnya di sandarn kursi, seseorang masuk kedalam ruangan setelah mengetuk beberapa kali. Dan seorang staff andalannya lah yang datang.


"Ada apa lagi?" tanyanya engan suara yang seperti sedang menahan rasa lelah.


"Maaf Tuan Dirga, Permana Group menolak untuk bekerja sama dengan kita." Alis matanya menyatu dengan sempurna.


"Kenapa?"


"Dengan alasan dia tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan kalau nama perusahaan dan nama pemiliknya tidak terikat satu sama lain," ucapnya yang menjedanya sekejap. "Mereka kira Anda hanya tangan kanannya saja bukan pemilikya," lanjutnya.


"Ya sudah biarkan saja, masih banyak investor yang sangat menginginkan bergabung dengan kita, kau boleh keluar!" perintahnya.


Staff wanita itupun keluar melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Win? bagaimana tanggapan tuan Dirga?" tanya karyawan lain.


"Seperti biasanya," sahut wanita bernama Winda.


"Aku heran kenapa perusaan ini sangat berbeda degan perusahaan lain yang dengan bangga menaruh nama sang pemiliknya di nama perusahaan. Pemilik perusaan ini 'kan, Bima Dirgantara Houten, lalu kenapa perusahannya bernama Alish Corp?" timpal yang lainnya.


Ya! pria tadi adalah Bima, Bima Dirgantara Houten. Dia memutuskan untuk kembali mengurus perusahaan yang ditinggali mendiang ayahnya untuk ia urus namun karena sibuk dengan dunia bawah, ia sampai mengabaikan perusahaan itu. Dengan tekatnya iapun yakin merintis kembali karirnya dengan diubahnya nama perusahaan dengan nama pilihannya.


        \~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~

__ADS_1


Mampir juga ke novel teman ku ya guys...



__ADS_2