
Meletakkan tubuh Alisha di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Elvano pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Alisa.
Menatap lekat wajah manis Alisha. Dia benar-benar senang karena perlahan Alisha dapat menerimanya. Elvano telah mempelajari sifat dan karakter Alisha yang tidak suka paksaan, sebab kalau ia terus memaksa, Alisha akan terus memberontak dan dia tidak mau hal itu.
Menangani gadis di bawah usia 20 tahun memang sedikit repot tapi Elvano menyanggupi itu. Dia yakin perlahan bisa meluluhkan hati Alisha yang sebenarnya sudah sedikit luluh, walaupun terkadang Alisha masih memberi batasan untuknya.
.
Begitu indah ciptaan Tuhan yang saat ini Elvano pandang, wajah yang mulus tanpa noda sedikitpun, hidung yang mancung, bibir yang tebal dan seksih yang pastinya akan membuat pria manapun sangat ingin merasakan bibir itu. Bibir yang sudah ia cicipi tanpa harus memaksa karena sang punya membiarkan itu.
Jari Elvano terus bergerak mengelilingi wajah Alisha, rasanya dia sangat ingin menciumnya lagi, tapi dia tidak mau menciumnya dalam keadaan yang Alisha tertidur.
Dia akan mencium Alisha dalam keadaan sadar dan seizinnya.
Merasa ada yang menyentuh wajahnya Alisa pun mengerjapkan mata. Yang pertama kali ia lihat adalah wajah seorang pria yang begitu dekat, tersenyum ke arahnya yang mampu menyihir kebisuan pada diri Alisha.
''Apa aku mengganggumu?'' tanya orang itu yang tak lain adalah Elvano.
Pertanyaan yang seharusnya dia sendiri bisa menjawabnya, karena memang nyatanya, dia telah mengganggu waktu tidur Alisha tapi malah mempertanyakan itu lagi.
Alisha menggeleng lalu bicara dengan suara sengau.
''Dari kapan aku tidur?''
Elvano mengangkat pergelangan tangannya melihat jarum jam di sana. ''Sekitar tiga jam, ya tiga jam lima belas menit.'' Sarkas Elvano.
Mata Alisha terbelalak, selama itu ia tidur dan kalau bukan Elvano yang mengganggu nya, mungkin saja dia akan tidur seharian penuh.
karena terkejut Alisha bangun tanpa perkiraan yang menyebabkan kepalanya dengan kepala Elvano saling bertabrakan.
Aaaawwww
Jerit Alisha, Elvano yang juga merasakan sakit hanya meringis tapi malah mengusap kening Alisha yang nampak memerah.
''Hati-hati, kau ini sangat ceroboh sekali,'' dengan lembut Elvano mengusap dan meniup kening Alisha. Alisha terpaku matanya tidak berpaling dari wajah tampan Elvano.
Ini kesekian kalinya ia mendapatkan perlakuan lembut Elvano, dan kesekian kalinya juga ia terhanyut dalam kelembutan sikap Elvano.
__ADS_1
Bayangkan, seorang gadis yang sedari kecil tidak pernah merasakan kelembutan dari seorang ayah, tiba-tiba seorang pria melebarkan tangannya dan memperlakukan nya dengan sangat lembut. Gadis manapun akan terhanyut jika mendapatkan perlakuan seperti itu, begitu pula dengan Alisha.
Seperti haus akan kasih sayang, Alisha merasa dahaganya itu terbayarkan oleh sosok pria modelan Elvano, yang berwajah dingin namun bersikap sangat lembut padanya.
Lalu apakah salah, jika Alisha menaruh harap juga akan bergantung pada Elvano.
''Tuan…''
''Ya?''
''Apa Tuan tidak memiliki kekasih?''
Alis Elvano mengernyit merasa heran atas pertanyaan Alisha untuknya. ''Hem? kenapa kamu bertanya itu?''
''Entahlah, hanya ingin tahu saja,'' sahut Alisha.
''Aku pria lajang, tidak memiliki keterikatan dengan siapapun, tapi ada satu gadis yang terus menganggu ku, dan entah, rasanya ingin sekali aku memiliki seutuhnya.'' Papar Elvano.
Perkataan Elvano sangat menganggu hatinya, hati Alisha terasa perih mendengarnya. Siapa gadis itu? kenapa Alisha sangat ingin tahu keberadaannya.
''Sepertinya tidak, dia tidak akan marah. Emmm tunggu! apa kamu merasa kita begitu dekat?''
Wajah Alisha sudah berubah sendu, benar saja! apa yang dia pikirkan kalau seharusnya dia tidak menaruh harapan yang berlebihan pada Elvano yang ternyata memiliki wanita yang sangat ia sukai itu.
Hei Tuan! tau kah Anda, saat ini Anda telah mengoyak hati seorang gadis 18 tahun, yang perasaan nya masih sangat labil namun menyimpan sebuah rasa padamu, juga menaruh harapan penuh terhadap mu!
Alisha mendorong pelan tubuh Elvano dan beranjak dari sana, dia hanya memperhatikan sikap Alisha yang tiba-tiba berubah, tidak lagi bertanya dan malah pergi begitu saja.
Di kamar mandi, Alisha termenung didepan cermin. Entah rasanya hatinya begitu sakit saat mendengar penuturan Elvano. Yang seharusnya dia bisa menerima itu.
''Lalu apa arti dari ciuman itu?'' gumam Alisha begitu lirih.
''Kenapa juga aku harus menangis?''
Alisha membasuh wajahnya, berharap air matanya yang keluar akan kalah dengan air keran itu, tapi kenapa seolah-olah air matanya tidak ingin mengalah malah keluar lebih deras lagi.
Ya begitulah perasaan seorang gadis yang masih muda, di usia yang belum juga genap 18 tahun, kini sedang dilanda hati yang belum terbalaskan.
__ADS_1
Apa ini yang dinamakan cinta pertama seorang gadis yang tidak pernah merasakan cinta dari seorang Ayah. Dan begitu merasakan cinta dari seorang pria, ia justru harus terpuruk karena pria yang disukainya memiliki gadis lain.
Setelah lima belas menit berada di kamar mandi, Alisha pun keluar. Elvano melihat mata Alisha yang sembab, dan sudah dipastikan kalau Alisha habis menangis didalam sana.
Alisha melewatinya menuju balkon, dan Elvano menyusulnya. Memeluknya dari belakang lalu menciumi puncak kepala Alisha yang tidak sama sekali bergerak sedikitpun.
''Kamu kenapa? aku sudah katakan, jangan pernah mengeluarkan air matamu lagi, hmm?''
''Kenapa?'' suara Alisha terdengar gemetar.
Elvano yang masih menciumi rambut Alisha seketika menghentikan aksinya. Lalu membalikkan tubuh Alisha agar menghadap kearahnya.
''Karena aku tidak suka itu.'' Elvano berkata dengan lugas.
''Tapi jika ternyata aku menangis karena Anda, bagaimana?''
''Berarti aku yang brengsek!'' ucapnya begitu jelas. Alisha melihat mata Elvano secara bergantian, kenapa lagi-lagi dia harus terhipnotis oleh pesona Elvano yang memukau itu. Hatinya benar-benar lemah saat ini.
''Jangan membuat aku berharap, Tuan!'' suara Alisha semakin bergetar
''Jangan…'' ucapnya lagi dengan gelengan kepala.
''Hei! kau kenapa?'' wajah Alisha saat ini tengah di tangkup oleh kedua tangan Elvano, dengan sibuk ia menyeka air mata Alisha, lalu membawanya kedalam pelukannya.
''Tuan jangan seperti ini…''
''Maksud mu?''
''Aku tidak mau menyakiti gadis yang kau maksud itu, jika dia tahu kau bersikap begitu lembut padaku, pastilah dia akan bersedih,'' lirih Alisha.
Ya! Elvano baru mengerti kenapa Alisha menangis, itu karena pembicaraan mereka tadi. Mengkhawatirkan perasaan seorang gadis yang ternyata gadis itu adalah dirinya.
''Hei! dengarkan aku! yang ku maksud gadis itu adalah, kamu sendiri.''
Alisha terdiam, mencerna kalimat yang Elvano ucapkan. Hidungnya yang merah mendapatkan ciuman mesra dari Elvano.
''Benarkah?'' Elvano mengangguk dan kembali memeluknya.
__ADS_1