Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Purnama Kita


__ADS_3

Di depan sebuah mansion yang megah, Elvano menghentikan laju kendaraannya, matanya menatap nanar pada gerbang ya g masih tertutup rapat disana, bahkan ada beberapa penjaga yang berdiri didepannya.


Matanya melirik ke arah sampingnya yang terdapat Alisha yang tengah tertidur pulas di kursi penumpang.


Ya mereka baru saja sampai di tanah air, dan Elvano langsung membawa Alisha ke rumah yang nampak asing walaupun dia juga pernah singgah.


Hatinya merasa cemas, cemas akan sesuatu yang terus ia khawatirkan.


"Perlu kau ketahui, Al. Seumur hidupku ini yang pertama kalinya aku merasakan ketakutan, bukan takut pada mereka, tapi takut jauh darimu.'' Elvano memejamkan matanya sejenak, untuk meyakinkan dirinya melewati gerbang tinggi itu.


Setelah menghela nafas, diapun segera menginjak pedal gas untuk masuk ke dalam pekarangan mansion tersebut. Dari di tahan oleh dua penjaga untuk di pertanyakan kedatangannya, tapi lolos begitu saja karena dia juga dikenal dan di hormati.


Saat ia menghentikan roda mobil tepat yg di depan pintu raksasa, berbarengan pintu itupun terbuka, seseorang keluar dari sana seolah-olah menyambut kedatangan Elvano dan Alisha. Dan di susul oleh seorang wanita paru baya yang membawakan sebuah jaket dan dipakaikan kepada seseorang yang berdiri di depannya.


Elvano masih memperhatikan kedua orang itu yang memang mereka adalah anak dan ibu.


''Nak' kau mau pergi lagi, pakai ini. Diluar sangat dingin,'' ucap wanita paru baya itu begitu perhatian, dan itupun tak luput dari mata Elvano yang menatap merek teduh. Mereka adalah Bima Houten dan Lusi Houten.


Hatinya merasa perih, sebenarnya dia sangat iri pada seseorang yang masih memiliki orang tua, tapi apa mau dikata, orang tuanya telah pergi untuk selamanya karena peperangan antar mafia. Ya wanita yang tengah ia lihat itu juga ternyata ibu mertuanya, akankah ia bisa meminta restu dari ibu yang melahirkan wanita yang dicintainya itu.Atau malah sebaliknya?


Matanya beralih pada sosok wanita yang masih tertidur pulas di sampingnya, ya dia adalah Alisha.


''Al, lihatlah… mereka adalah keluarga mu, aku sudah menepati janjiku bukan?'' Elvano tersenyum getir. Dan pada saat ia menoleh pada orang yang masih berdiri di depan pintu, orang itu juga yang tak lain adalah Bima, tengah melihat kearahnya.

__ADS_1


Elvano keluar dari mobil dan memutar untuk membuka pintu ya g terdapat Alisha disana. Kepalanya memutar ke arah Bima dan Lusi yang tengah melihat kearahnya, Bima dengan tatapan datar dan Lusi yang menatap Elvano dan Bima dengan heran.


Bima akan melangkah, tapi tangan Elvano memberikan sebuah kode agar Bima tetap di tempat. Sejauh ini Bima belum melakukan apa-apa dan hanya menuruti apa yang dikehendaki Elvano, entah nantinya.


Tatapan Bima berubah ketika melihat Alisha yang di gendong Elvano, matanya menatap binar pada wanita yang saat pertama kali ia jumpai hatinya sudah merasa tidak asing dengan sosok itu, hatinya merasa akrab dengan gadis itu, hatinya sangat ingin menyapa dan mendekat pada sosok Alisha tapi karena dia juga belum mengetahui siapa Alisha sebenarnya, diapun hanya bisa memperhatikan Alisha dari jarak jauh.


Tapi sekarang, dia sudah mengetahui siapa Alisha, ya dia adalah adik kecilnya yang hilang, yang bertahun-tahun telah ia cari namun tidak pernah berhasil ia jumpai. Yang saat ini adik kecilnya itu tengah di gendong oleh sahabatnya, yaitu suami dari adiknya sendiri, pria yang sangat dia kenal sifatnya, dan kesehariannya.


Hatinya tidak merasa ikhlas karena adiknya jatuh ke tangan sang Casanova, sang mafia, pria yang bahkan tidak pernah mengenal kasih dan sayang, orang yang paling kejam yang dia kenal.


''Berikan!'' ucap Bima pada Elvano tapi dengan tegas Elvano menolak untuk memberikannya.


''Nak' siapa wanita itu?'' tanya Lusi pada Bima namun Bima masih diam, dan mata Lusi berlatih pada Elvano lalu melontarkan sebuah pertanyaan, ''Anda Tuan Elvano 'kan?'' dan Elvano hanya menyahutinya dengan anggukan kepala.


''Apa Mama masih mengharapkan anak perempuan Mama kembali?''


Lusi mengernyitkan dahinya. ''Tentu saja! ada apa memangnya kau bertanya begitu?''


''El, kau bawalah dia kekamar lantai dua tepatnya depan lift, aku akan menyusul,'' ucap Bima.


''Tidak perlu memerintah ku!'' ketus Elvano yang berlalu pergi ke arah lift berada.


Lusi masih bingung dengan apa yang anaknya lakukan, menyuruh Elvano yang Lusi tau, Elvano adalah orang yang paling disegani Bima, dan lantas kenapa kali ini Bima seakan yang sedang memegang kendali Elvano.

__ADS_1


''Ada apa ini, Bima?'' tanya Luis sekali lagi dengan kesal karena Bima belum juga menjelaskan apa yang ingin dia katakan.


''Siapa gadis itu? kenapa dia datang bersama tuan Elvano?''


''Mah kemarilah, aku ingin mengatakan sesuatu,'' kata Bima dengan sangat lembut.


''Apa nak', ada apa? jangan buat Mama khawatir?''


''Ma… gadis itu Purnama kita.''


Bagai waktu dunia berhenti seketika, kalimat yang di gaungkan anak lelakinya bagai sebuah sihir, bak terhipnotis, tangannya melemas juga dengan kakinya, Lusi seperti kehilangan keseimbangannya.


''Mah!'' Bima menangkap tubuh ibunya yang hampir saja tumbang.


''Mama tidak apa-apa?'' tanya Bima khawatir.


''Nak' a–apa yang k–kau katakan barus–san itu nyata?'' tanya Lusi dengan air mata yang sudah luruh begitu saja membasah pipinya yang sudah tidak kencang lagi.


''Benar Mah, dia Purnama kita.''


''Kalau begitu apa boleh Mama menemuinya?''


''Tentu saja,'' Bima tersenyum senang, rasa bahagianya mengalahkan apapun, karena menyaksikan senyum perempuan yang sangat ia sayangi itu kembali, dari sekian lamanya menghilang.

__ADS_1


__ADS_2