
Disinilah mereka berada diruangan dingin dengan bersuhu sekitar 22ºC - 27ºC. Terdapat orang-orang yang memakai pakaian sanitasi dengan satu orang yang berada di ranjang kesakitan. Ya dia adalah Alisha yang sudah bersiap untuk melakukan oprasi cesar.
Sebelum melakukan tindakan, Alisha sudah lebih dulu diberikan suntikan injeksi epidural pada tulang belakangnya. Elvano juga ada disana, ia memaksa ikut bergabung walaupun sebelumnya Alisha tidak mengijinkannya. Ia ingin menemani istrinya disana, melihat perjuangan sang istri untuk melahirkan anaknnya, keturunannya.
Sebelum tindakan, para dokter dan perawat juga Elvano melakukan doa bersama untuk meminta kepada sang pencipta agar diberikan kelancaran dan keselamatan dalam tindakan operasi.
Setelah memastikan Alisha sudah siap dioperasi, merekapun memulainya. Proses demi proses Elvano turut menyaksikan itu semua, pisau kecil yang pastinya tajam terus menyeset lapisan-lapisan perut Alisha untuk mencapai dimana manusia kecil itu berada.
Elvano sudah tidak bisa membendung air matanya yang sejak tadi ia tahan, walaupun ia tahu saat ini Alisha tidak merasakan apa-apa, tapi pasti nantinya rasa sakit itu akan dirasakannya.
Uuueeekk Uuueeekkk !!
Suara tangis makhluk kecil itu membuat Elvano mengangkat pandangannya dari wajah sang istri. Senyum itu terbit begitu indah dari wajah sang ketua mafia. Yang sebelumnya siapapun tidak pernah melihat garis senyuman Elvano terkecuali istrinya.
Elvano kian menatap Alisha lagi yang sudah meneteskan air matanya juga. Ia menghujami Alisha dengan kecupan-kecupan sayang diwajahnya. 'Terima kasih' hanya itu yang dapat Elvano katakan, selebihnya ia terus menciumi kening Alisha.
Setelah tubuh mungil George junior itu diangkat dari rahim Alisha, dan dibersihkan sisah-sisah darah, juga dilakukan pemotongan tali pusar. Dokter pun menyerahkan bayi itu kepelukan Alisha untuk segera melaukanInisiasi Menyusu Dini, dimana sibayi akan menyusu segera setelah dilahirkan.
"Lihatlah By..., dia sangat mirip denganmu 'kan?" ucap Alisha dengan suara yang parau.
__ADS_1
Elvano mengangguk mengiya'kan. Karena memang sangat mirip dengannya, dari hidung, bibir, mata semua Elvano punya. Ya bayi tersebut berjenis kelamin laki-laki.
"By, akan duberikan nama apa untuknya?"
"Alvino Abraham, laki-laki pemberani yang berhati bersih."
Alisha mengangguk menyetujui nama yang diberikan ayah sang bayi. "Aku suka nama itu, Alvin juga menyukainya 'kan?" kata Alisha yang bicara pada anaknya.
Diruangan Rawat Inap. Alisha sudah berpindah ruangan, dia juga sudah mulai belajar berjalan walupun tekadang dia harus menahan rasa sakit luka paska operasi itu, tapi dia tidak mau hanya merebahkan tubuhnya diranjang.
Lusi yang baru saja dikabari bahwa cucunya telah lahir tentu marah pada Elvano, tapi setelah mellihat wajah lucu nan menggemaskan cucunya, marah nya pun seketika sirna berganti rasa haru bahagia. "ini cucu Mama?" suara Lusi bergetar, dan Alisha mengangguk.
"Ka Bima dimana, Mah?" tanya Alisha dengan tiba-tiba, karena memang sampai saat ini, ia tidak mengetahui apa yang pernah dilakukan Bima padanya, atas permintaan Elvano, entah apa alasan Elvano merahasiakan itu semua, hanya dia yang tahu alsannya.
"Kakakmu berada di London, dia sedang sibuk nak', tapi Mama sudah megabarinya." Alisha mengangguk, sebenarnya dia pun menyimpan banyak pertanyaan pada semua orang yang dia rasa seperti menyimpan sebuah rahasia yang dia tidak tahu, tapi ia berusaha tidak ingin mencari tahu.
Erik, Dion dan Hito masuk keruangan dengan beberapa hadiah yang bahkan mereka membawa mainan yang ukuran besar. Alisha dan Elvano terbelalak melihatnya.
"Congrats!" seru ketiga orang itu.
__ADS_1
"Hei! kalian ini bawa apa? untuk siapa ini semua?!" tanya Elvano dengan raut wajah yang kesal.
"Untuk keponakan pertama kita lah, masa untuk mu!" jawab Dion yang sejak tadi matanya terus melihat Bayi mungil yang sedang di gendongan Lusi, omanya.
"Apa anakku akan memainkan mobil, senjata dan ini? astaga!"
Ya bagaimana Elvano tidak kesal, karena mereka membawa segala jenis mainan yang bukan diperuntuhkan untuk seorang bayi, terlebih lagi mereka membawa mainan mobil dengan ukuran besar, juga sebuah pistol mainan dan parahnya lagi, mereka membawa juga sebuah mainan yang sangat mirip dengan granat, untuk apa?
Melihat raut wajah Elvano yang marah, semua orang tertawa, termaksud Alisha dan Lusi.
Hidup dari seorang Elvano memang tidak pernah ia anggap berkesan, sedari kecil ia hanya bisa memikirkan bagimana dirinya bisa terlihat kuat, bagaimana dirinya bisa menguasai dunia, bagimana dia bisa menikmati apa yang dia dapatkan. Bahkan ia pernah berkata kepada para sahabatnya, "Kalau aku berkata sudah bosan dengan hidup ku, kalian boleh tembak aku, dan gantikanlah posisiku."
Tapi sekarang moto nya telah berubah ketika memiliki istri dan anak yang sangat ia cintai, dan bertekad akan hidup lebih lama untuk memenuhi kebahgiaan mereka berdua.
END
Hay para readers ku yang kusayang, terima kasih sudah mengikuti cerita ini.
Oh ya aku akan mengumumkan kalalu aku memiliki cerita baru, jangan lupa untuk mampir ke novel baruku ya... bye bye... dan sampai ketemu di Cerita baru ku..
__ADS_1