
Benda yang sebelumnya belum pernah dia pegang, saat ini tengah ia gunakan dan menunggu seseorang yang sedang ia hubungi menjawabnya. Namun hanya suara deringan yang ia dengar sejak tadi.
Alisha mendengus kesal karena Elvano tidak kunjung menjawab teleponnya, dengan sedikit kasar ia menaruh ponsel milik pelayan itu di atas nakas. Dan beberapa saat kemudian ia ambil lagi dengan bergumam.
''Astaga. Aku terlalu keras menaruhnya, kalau rusak bagaimana, pasti ini mahal harganya.''
Dengan hati-hati ia mengusap bagian belakang ponsel, memastikan kalau tidak ada kerusakan ataupun baretan di sana, yang kemudian ponsel itu pun berdering keras yang membuat dia terkejut hingga hampir saja melempar ponsel itu.
''Astaga! apa ini? Tuan George, bagaimana caranya ini?''
Kampungan bukan? ya itu karena sangat wajar Alisha tidak mengerti menggunakan sebuah ponsel, karena kesehariannya hanya tahu. Bumbu dapur, wajan dan tungku, membaca pun dia bisa dari bibinya karena saat dia meminta di sekolahkan, kedua orang tua asuhnya melarangnya karena keterbatasan biaya.
Karena ketidaktahuan menggunakan ponsel, bukannya ia menggeser icon hijau untuk menjawab panggilan itu, dia malah menekan icon merah yang mengartikan dia telah memutus sambungan telepon tanpa menjawabnya.
''Lho kok mati?'' Alisha kebingungan sendiri.
Tring!
Sebuah pesan singkat masuk dengan berbarengan suara itu. Alisha dengan asal dia menekan layar dan muncul sebuah kalimat.
'Ada apa? apa terjadi sesuatu pada istriku? atau ada yang sedang dia butuhkan?'
Alisha membacanya sepenggal pesan itu dengan perlahan, alisnya mengernyit heran, tapi setelah ia membaca pengirim nya, hatinya berdebar, pipinya memerah dengan bibir yang dikullum.
Ya pengirim pesan itu adalah Elvano, yang dia baca di berikan nama 'Tuan George' nama yang sama tadi yang dia hubungi.
''Istriku? apaan sih dia,'' gumamannya.
Pintu di ketuk lagi, dan pelayan yang tadi jugalah yang masuk. Dengan cekat Alisha mengembalikan raut wajahnya, walaupun sulit.
''Maaf Nyonya, apa ada kesulitan?''
''Emmm, cara mengangkat panggilan itu—''
__ADS_1
Alisha menggantung kalimatnya karena dia benar-benar merasa malu.
Tapi dengan baiknya, pelayan itu segera menjawabnya, karena dia juga tahu kalau istri dari Tuan nya itu tidak mengerti menggunakan Ponsel.
''Kalau ada yang menelepon, Nyonya hanya perlu menggeser keatas pada icon berwarna hijau.''
''Oh, bukan merah ya?''
Ekspresi Alisha yang begitu polos membuat pelayan wanita itu merasa gemas, terlebih lagi usia Kiran seusia adiknya. Memang sangat menggemaskan.
''Kalau merah, itu berarti nyonya telah mematikan sambungan telepon, alias meng-reject panggilan. Memangnya siapa yang menghubungi?'' tanya pelayan itu.
''Nama yang tertera, Tuan George.''
Jawaban polos Alisha membuat pelayan itu membelalakkan matanya, memutus sambungan telepon dari George, terlebih lagi menggunakan Ponsel miliknya.
''Maaf Nyonya!'' Dengan cepat dia merebut ponsel miliknya dari tangan Alisha, melihat riwayat panggilan. Dan seketika ia terduduk lemas.
''Tidak Nya, tidak. Jika ponsel ku rusak, aku akan lebih bersyukur, tapi menolak panggilan Tuan, kepala ku yang akan diputus.'' Lirih pelayan itu dengan mendramatisir.
''Eh? maksud mu bagaimana, Kak?''
''Selly, panggil aku Selly saja Nyonya, jangan Kakak.''
''Ba–baik. Maksud kamu apa Sel-ly?'' tanya Alisha lagi Deny canggung karena panggil seseorang yang lebih tua darinya dengan nama.
''Nyonya tidak akan mengerti,'' sahut Selly yang bangkit dan berlalu pergi.
Alisha terpaku ditempatnya, dia tidak mengerti apa yang di maksud Selly tadi. Sambungan diputus, kepala yang diputus? Alisha menggaruk tengkuk-nya yang tidak gatal.
Dia terduduk di ranjang dengan kepala yang mengadah menatap indahnya rembulan. Ya, sudah menjadi kebiasaan Alisha tidak menutup jendela saat malam, karena baginya langit malam itu sangatlah indah.
Dia ingat betul waktu di desa dulu, setelah semuanya sibuk dengan mimpinya masing-masing, dia malah sibuk mencari kayu bakar di hutan belakang rumah. Dan baginya, lolongan serigala dan suara becitan kelelawar-lah sebagai musik pengobat sepi dan terangnya rembulan sebagai penerangan jalannya.
__ADS_1
Tapi situasi itu sudah ia anggap sebagai pelajaran untuk menata kehidupan, yang saat ini dia sudah berada di dekapan Elvano yang aman dan nyaman. Tidak lagi harus bersusah-susah mencari kayu bakar untuk membuat masakan dan juga tidak perlu bersusah-susah bersembunyi untuk makan malam di kala perutnya terasa lapar.
Dia ingin makan ini dan itu selalu tersedia, dan bahkan setiap malam dengan rutin pelayan yang ditunjuk untuk menjaganya dan mengurusnya, selalu mengantarkan segelas susu juga makanan untuk Alisha.
Bak dunia dongeng, Upik abu yang menjadi permaisuri seorang Raja. Alisha tersenyum pada rembulan. Dia sangat berterima kasih akan ke perubahan kehidupannya.
Tapi sungguh, malam ini dia sangat merindukan Elvano. Pria yang membuatnya aman dan nyaman, Pria yang tiba-tiba menculiknya saat pertama kali mereka bertemu di jalan itu.
Dan Pria yang mengorbankan dirinya tertembak hanya demi melindungi dia.
Malam itu berlalu begitu saja hingga pagi hampir menjelang. Alisha yang tidak sadar sudah tertidur di atas ranjang dengan posisi kaki yang masih terjuntai ke bawah, merasa terusik karena ada tangan besar yang menyentuh kakinya dan memindahkannya ke atas lalu menyelimuti nya.
Dengan mata yang berat dia berusaha membukanya, dan yang dia lihat adalah wajah yang tadi malam sebelum tidur sangat ia rindukan kehadirannya, yang tidak lain adalah Elvano.
Tanpa ia sadar bibirnya tersenyum dan menarik tangan Elvano dan menjadikannya sebagai bantalan tidur.
''Aku merindukanmu,'' gumam Alisha dalam tidurnya.
Elvano yang mendengar gumaman itu tentu mengulumkan senyuman, dia merasa berbunga-bunga mendengar kalimat yang sangat manis itu keluar dari bibir Alisha langsung.
''Benarkah, kau merindukanku?''
masih menahan tawanya elvano malah balik bertanya dan dengan polosnya Alisha menganggukan kepalanya. Elvano tersenyum dengan menggigit bibir bawahnya sendiri, dia merasa gemas pada Alisha. Jika saja mungkin dia ingin sekali memaksa Alisha untuk menuntaskan kewajibannya. Tapi tidak! dia tidak akan memaksa, karena dia tahu perbuatan sebelumnya pun membuat Alisha sedikit terguncang.
Elvano membuka sepatunya dan ikut merebahkan tubuhnya, masih dengan tangan yang menjadi bantalan Alisha, dia mendekap Alisha dari belakang dan tertidur di bawah selimut yang sama hingga pagi pun menjelang.
Alisa mengerjakan mata, merasa ada yang aneh, ya ada yang menindih perutnya. dengan perlahan dia menurunkan pandangan dan benar saja ada tangan besar yang memeluknya dari belakang.
Matanya terbelalak dan dia pun menoleh ke belakang ingin melihat wajah orang yang tengah memeluknya. Yang ternyata si pemilik wajah tampan itu adalah Elvano. Alisha sedikit tersipu dan dia berusaha melepaskan tangan Elvano yang melingkar di perutnya dan menggeser perlahan untuk terlepas dari dekapan Elvano. Tapi bukannya terlepas Elvano malah lebih mengeratkan pelukannya.
''Jangan bergerak! Kalau tidak mau kupaksa untuk menunaikan malam pertama kita, sekarang juga!'' Alisha terperanjat dia seketika berubah seperti manekin, tidak bergerak dan tidak menjawab.
Ya sebenarnya Elvano sudah bangun lebih dulu daripada Alisha. Tapi dia sengaja berpura-pura tidur karena melihat mata Alisha yang bergerak terbuka.
__ADS_1