
BUGH!! BUGH!! BUGH!!
Elvano menghajar Bima dengan membabi buta, sehingga keributan itu pun tidak terhalangi, bahkan Erik pun tidak ada niatan sama sekali untuk mencegah apa yang dilakukan Elvano pada Bima yang seperti biasanya, Erik yang akan selalu menjadi penengah, tapi tidak untuk saat ini. Karena bagi Erik apa yang di lakukan Bima kali ini sudah sangat keterlaluan dan patut mendapatkan pelajaran kecil dari ketua mereka.
Lusi yang bahkan tidak bisa berbuat apa-apa melihat anaknya yang sudah babak belur di tangan adik iparnya sendiri, karena dia pun menyalahkan tindakan Bima yang membahayakan nyawa sebuah janin yang bahkan belum terbentuk sempurna itu.
“Kau benar-benar brengsek, Bim! Jika kau membenci ku cukup bisa membenci ku saja, tidak dengan calon anakku!” ucap Elvano dengan menggertakan gigi-giginya.
“Sung-guh, aku tidak mengetahui kalau Alisha tengah mengandung. Jika ini meringankan dosa ku habisi aku sekarng juga El, aku bersalah,” ucapnya dengan terbata-bata karena sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
Ya, Bima sangat merasa bersalah pada keadaan Alisha saat ini, karena memang sesungguhnya dia benar-benar tidak mengatahui itu. Wajahnya pun sudah banyak lebam di beberapa bagian terutama di mata dan rahang yang sudah membiru karena hantaman tangan herkules Elvano.
Emosi Elavano masih belum normal, dan kini tangannya sedang mencengkram kuat kerah baju Bima, rasa-rasanya jika saja ia tidak memikirkan Alisha mungkin saja Bima akan mati dibuatnya saat itu juga. Namun tiba-tiba suara lembut namun tegas menyela begitu saja.
“Maaf tuan-tuan, jika kalian masih ingin meluapkan emosi, silahkan kalian pergi ka tempat ring tinju karena disini bukanlah tempat untuk bertarung, pasien saya butuh ketenangan.”
“Kau tidak perlu menasehatiku, aku bahkan bisa membuat mu kehilangan seragam kebesaranmu itu sekarang juga!” ucap Elavno tanpa menoleh ke arah doker Lita.
“Dan Anda tiak perlu mengancam saya, ingat didalam sana ada wanita yang memerlukan perhatian kalian semua bukan malah bertengkar disini,” sahut Lita tanpa rasa sungkan.
Seorang perawat keluar dan langsung menghampiri Dokter Lita, membisikan sesuatu ketelinganya dan membuat dokter cantik itu menganguk mengerti.
“Keadaan pasien juga janinnya sudah aman, dan dia sudah mulai sadar,” seru doter Lita yang membuat Elvano melepaskan cengraman tangannya pada kerah baju Bima.
“Lalu siapa yang bernama hubby disini?” lanjut Dokter Lita bertanya.
“Pasien terus memanggil nama itu,” ucapnya lagi yang mengerti maksud dari tatapan semua orang padanya.
Tanpa megatakan apapun lagi, Elvano menerabas masuk kedalam setelah mendorong tubuh Bima yang langsung terhuyung ke bawah lantai. Lita yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena seumur hidupnya baru kali ini dia menghadapi orang seperti Elvano.
__ADS_1
“Saya permisi,” ucap dokter itu pada Lusi dan Erik, ia sedikit menganggukan kepalanya dan berlalu pergi dari sana.
Lusi terduduk di kursi panjang dengan tangannya mengusap kasar wajahnya sendiri, ia sedikit merasa lega karena anak perempuannya telah dan baik-baik saja. Ada rasa bahagia karena ternyata dia bukan hanya mendapatkan anak nya kembali, justru dia juga mendaptkan calon cucu sebagai bonusnya.
Tapi hati kecilnya menyimpan sebuah kekecewaan yang teramat dalam pada anak laki-lakinya. Karena penyebab Bima lah nyawa Alisha dan janinnya hampir saja berada dalam bahaya.
Bima menatap nanar ibunya yang menunduk lesu di kursi sana. Perlahan ia mendekat dan bersimpuh di kaki Lusi, ibunya. Dia tahu kalau saat ini sang ibu tengah kecewa terhadapnya, karena dia juga sadar kesalahannya sangat sulit di maafkan. Entah sanggup kah dia menunjukan wajahnya di depan Alisha nantinya.
“Maa... maafkan aku,” lirih Bima dengan rasa bersalah.
Tapi bukannya menjawab permintaan maaf Bima, Lusi justru mengalihkan pandangan ke arah lain, raut kecewa pada diri seorang ibu sangat terpampang nyata disana dan itu dapat disadari oleh Bima sendiri.
Bima menjauh, ia bangkit dari simpuhnya. Berdiri didepan sang ibu yang bahkan seperti tidak sudi menatapnya.
“Bima sadar kalau perbuatan Bima pada adik Bima adalah kesalan besar, yang bahkan Bima berpikir tidak
lagi sanggup menunjukan wajah Bima pada adik Bima sendiri. Kalau begitu, Bima pamit ya Maa, jaga diri baik-baik, aku titip dia pada Mama.” Bima menunduk mengecup lembut kening ibunya. Yang tanpa disadari oleh Bima, Lusi telah meneteskan air matanya.
“Hemm... renungilah kesalahan mu. Lambat laun mereka pasti akan melupakan hal ini.”
“Terima kasih, aku pamit.”
Bima berlalu pergi dengan rasa bersalahnya, sesekali ia menoleh kembali pada ibunya berharap sang ibu menatapnya, tapi tidak! Karena dengan rasa kecewa yang sudah hinggap pada diri Lusi sehingga membuatnya harus berpura-pura tidak peduli, walaupun sebenarnya didalam lubuk hatinya dia juga merasa sedih karena harus berpisah dengan anak laki-lakinya setelah ia berkumpul kembali dengan anak perempuannya.
Di dalam sana, Elvano yang sedang duduk di kursi samping berangkar masih menunggu Alisha yang belum sepenuhnya sadar, seakan obat tidur yang di sebutkan oleh dokter Lita tadi masih menyisahkan efeknya.
Rasa kantuk pada diri Alisha tidak bisa tertahan walaupun dia juga sudah sangat ingin membuka matanya. Seorang perawat sedang memeriksa selang infus, dan terjingkat kaget karena mendapatkan pertanyaan dari Elvano secara tiba-tiba.
“Apa kalian yakin, istri saya sudah baik-baik saja?”
__ADS_1
“Yakin Tuan, tiga puluh menit kedepan, nyonya pasti tersadar, itu hanya sisah efeknya saja.”
Elvano mengangguk mengerti seraya berkata lagi, “Anda boleh pergi, aku ingin berdua saja dengan istriku,” seru Elvano sesuka hatinya.
“Ba-baik Tuan, saya permisi...”
Elvano menghela nafasnya, ia masih merasa khawatir dengan keadaan istri kecilnya itu padahal jelas-jelas dokter dan perawat mengatakan kalau keadaan Alishs sudah membaik.
“Hubby...” panggil Alisha dengan lirih.
“Iya sayang, kau sudah bangun?”
“Aku masi ngantuk...” ucapnya lagi dengan nada menyeret.
Elvano tersenyum dan mengecup punggung tangan Alisha.
“Jika kau masih mengantuk, tidurlah lagi, aku akan menunggu hingga kau bangun.”
Tidak ada lagi jawaban dari Alisha karena memang Alisha sudah kembali tertidur begitu pulas.
Haiii mampir juga yuk ke novel teman Nuna.
JUDULNYA; Tirai Kehidupan Sang CEO
NAPENNYA; El Banjari
__ADS_1
