
Dikamar, Elvano yang sudah diperiksa oleh dokter saat ini tengah beristirahat karena pengaruh bius yang diberikan dokter tersebut.
Alisha yang sejak tadi turut menyaksikan dokter itu memeriksa luka Elvano yang memang sedikit terbuka, merasa iba. Karena ia merasa tidak ada yang mengurus Elvano, ia tidak pernah melihat seorang ibu ataupun ayah juga keluarga lainnya kecuali anak buahnya dan Erik.
Lalu ke mana keluarga Elvano? rumah sebesar itu yang bahkan lebih pantas disebut istana, hanya ia tinggali seorang diri dan yang lainnya dihuni oleh pelayan juga anak buahnya saja.
Mengingat nyawanya yang telah diselamatkan oleh Elvano, Alisha memutuskan untuk mengabdi pada Elvano, kata kabur ataupun melarikan diri ia buang jauh-jauh.
Karena baginya dia telah berhutang nyawa pada Elvano.
Di tengah lamunannya, ia mendengar pintu diketuk oleh seseorang dari luar dan masuklah seorang pelayan yang membawakan sebaskom air dengan handuk di sampingnya.
Yang kemudian memberikan ke tangan Alisha lalu berkata.
''Den Erik menyuruh saya untuk memberikan ini pada Anda Nona. Karena tuan George dari kemarin belum mandi. Saya permisi.''
Alisha ternganga sedari tadi saat mendengar ucapan pelayan wanita itu yang mengatakan kalau George atau Elvano ini belum mandi dari kemarin, dan apa maksudnya dia memberikan baskom berisi air ini kepadanya?
''Apa harus aku yang membersihkan tubuhnya?'' gumamnya.
Menghela nafasnya, memastikan jantungnya baik-baik saja. Alisha pun pasrah yang kemudian berjalan ke arah Elvano dan meletakkan baskom berisi air itu di atas nakas.
''Semoga dia tidak membuka matanya, sebelum aku menyelesaikan mengelap seluruh tubuhnya, hah? seluruh?!''
Pipi Alisha memerah, ia malu dengan apa yang diucapkannya sendiri. Apa benar dia yang akan membersihkan tubuh Elvano seorang diri dan semuanya? termaksud itu kah? mata Alisha tertuju pada bagian tubuh tengah milik Elvano.
Alisha memulainya dari wajah secara perlahan dan turun ke leher berurat elvano, lalu turun ke area dada dan perut yang berbentuk kotak-kotak. Masih tidak ada pergerakan, Alisha dapat bernapas lega.
__ADS_1
Kemudian Alisha menarik tangannya sendiri menjauhkan dari rudal yang masih tertutup celana panjang itu. Namun saat tangannya sedikit menjauh, tangan Elvano justru menahannya.
Alisha seketika menoleh, matanya terbelalak dan pipinya memerah.
Tatapan teduh dari manik mata berwarna biru itu saat ini tengah menatapnya, 'Tampan!' ya itu kalimat yang ia ucapkan dalam hatinya, memuji wajah sang Dewa Yunani yang dimiliki Elvano.
''Apa sudah selesai?'' tanya Elvano yang membuat Alisha seketika mengangguk.
''Yakin tidak ada yang terlewat?'' tanyanya lagi, dan Alisha kembali menggerakkan kepalanya dengan menggeleng kali ini.
''Itu!'' tunjuk Elvano pada 'senjata' miliknya yang masih terbungkus oleh celana jeans.
Pipi Alisa memerah dan tanpa sadar tangannya memukul dada Elvano tetapi bukan dada yang terluka.
Happ.
Ya sedekat itu!
Degup jantungnya seakan berpacu, tapi kenapa bisa begitu? Alisha pun tidak mengerti itu.
''Sekarang dan sampai kapanpun kau adalah milikku, hanya milikku. Paham!''
Seperti tersihir oleh ketampanan Elvano, Alisha mengangguk begitu saja, dan...
Elvano mengangkat kepalanya sedikit lalu menciumnya, mencium bibirnya. Cup!...
Alisha hanya diam dengan raut wajah datar, entah itu sikap shock atau memang menerima kecupan mesra itu. elvano pun berniat untuk mengecupnya sekali lagi. Dan Alisha memang tetap diam saja.
__ADS_1
Tangan Elvano bergerak ke belakang kepala Alisha lalu menekannya sedikit agar lebih dekat dengan wajahnya, mengulang kecupannya lagi yang kemudian memperdalam ciumannya itu.
Tapi Alisha tidak sama sekali menghindar ataupun membalas pergerakan bibir Elvano. Entah karena memang belum terbiasa atau memang pasrah dan menikmati permainan bibir lincah Elvano.
Setelah merasa Alisha sudah tidak bisa mengatur nafasnya, Elvano pun melepaskan pagutannya, namun masih menahan kepala Alisha. Mata mereka bertemu cukup lama, saling menatap dengan diam.
''Ku mohon jangan pergi lagi, hm?'' suara yang hangat yang menggelitik hatinya itu mampu ia terima dengan baik.
Dengan tersenyum lembut Alisha mengangguk dan kemudian elvano pun melepaskan tangannya dari tengkuk Alisha.
Seperti baru saja tersadar dari hipnotis, Alisha baru bisa merasakan kegugupannya dan menghindari kontak langsung oleh Elvano. ''A–aku, taruh ini dulu ke kamar mandi.''
Alisha berlalu pergi dengan pipi yang memerah, Elvano yang melihat itu pun merasa gemas dengan tingkah gadis 18 tahun itu.
''Dia benar-benar gadis polos, dan aku pria yang beruntung mendapatkannya,'' gumam Elvano dengan hati yang penuh sukacita.
''Bibirnya manis juga,'' ucapnya lagi setelah mengulum bibirnya sendiri.
Di dalam kamar mandi sana Alisha melihat dirinya sendiri dari balik cermin besar, berulang kali ia membasuh wajahnya yang masih memerah itu. Merasa bodoh karena tidak sama sekali menolak aksi curi bibir Elvano, bahkan ia seperti menerimanya dengan pasrah dan ikhlas.
Pipinya mengembang sendiri yang kemudian dia sadari, kalau dia tengah tersenyum tanpa sadar.
Apa ini yang namanya rasa suka? Alisa pun tidak mengerti sebab dia baru mengenal seorang pria, ya… si Elvano ini. Karena sebelumnya dia hanya mengenal bumbu dapur juga deterjen saat di kampung.
Ya seorang teman pun dia tidak memilikinya, karena orang tuanya melarang dia untuk bersosialisasi seperti anak seusianya kebanyakan.
Pendidikan pun ia hanya tamatan sekolah dasar, dan tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya karena terbatas oleh biaya.
__ADS_1