
Hari yang sudah di atur dengan sedemikian rupa akhirnya tiba.
Elvano mengerahkan semua orang yang dia bayar untuk ikut andil dalam tugas-tugas dimasing-masing bagian.
Alisha melihat dirinya di pantulan cermin, menggunakan pakaian pengantin yang sangat indah, juga riasan, yang membuat Alisha tidak mengenali dirinya sendiri. Bibirnya tersenyum kecut, sesungguhnya ia bingung. Dia harus bahagia atau sedih.
Pasalnya, dia pernah memimpikan akan menjadi seorang pengantin dengan pria pilihannya, pria yang mencintainya. Dan berharap bisa meminta restu dengan sejuta haru pada kedua orang tuanya, yang waktu itu dia belum tahu kalau Dirman dan Susi bukanlah orang tua kandungnya.
Air matanya nyaris saja luruh, sebelum ia mendongak keatas bertujuan untuk mencegah tetesan air dari matanya yang akan merusak riasan wajahnya, yang sudah di buat oleh MUA terkenal yang di panggil langsung oleh Elvano.
Pintu diketuk oleh seseorang, dan ternyata dia adalah Erik. Erik yang sekejap terkesiap melihat penampilan Alisha yang begitu anggun dengan gaun pengantin berwarna putih dan mahkota kecil di atas kepalanya.
''A-acara akan dimulai, kita keluar sekarang?'' Alisha mengangguk, dan berjalan ke arah Erik dengan dibantu oleh dua pelayan yang sudah berpakaian Bridesmaids.
Erik di tunjuk langsung oleh Elvano untuk mewakili dari keluarga pengantin wanita. Alisha melingkarkan tangannya di lengan Erik yang sudah diregangkan. Berjalan di red karpet dengan begitu anggunnya.
Elvano yang sudah menunggu nya di altar pernikahan dengan tersenyum lembut, tapi sorot matanya turun ke arah tangan Alisha yang melingkar di lengan Erik.
Kalau bukan dia sendiri yang menunjuk Erik, mungkin saja ia lebih memilih menghajar Erik habis-habisan karena sudah menyentuh calon pengantinnya, tapi tidak! Elvano berusaha menahan dirinya walaupun dia sangat ingin mematahkan lengan Erik sekarang juga.
Elvano tidak berkedip ataupun bergeming, matanya seakan terkunci pada keindahan yang tuhan ciptakan pada salasatu hambanya, wajah yang begitu cantik di tambah riasan yang tipis. Bibirnya yang diberikan sentuhan pewarna bibir, membuat Elvano menelan saliva-nya dengan susah payah.
''El! ini pengantin mu, apa kau sudah berubah pikiran, jika begitu biar aku yang menggantikan mu!''
Elvano terperanjat, dan langsung merebut tangan Alisha dari lengan Erik, sehingga tamu undangan dibuat menahan tawa.
Janji suci mereka terucap, dengan sangat hikmat. Akan menemani pasangan dengan keadaan sehat maupun sakit, miskin ataupun kaya, dan muda ataupun tua. Semua mereka ucapkan.
Selesai berucap janji suci itu, kini giliran bertukar cincin. Cincin permata biru dengan bentuk hati, Elvano pasangkan dengan perlahan di jari manis Alisha, dan Alisha pun sama memasangkan cincin untuk Elvano.
Hiruk pikuk tepukan tangan terdengar menggema. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya lolos juga, tapi dengan cepat Elvano menyekanya dengan lembut.
''Jangan menangis, ku mohon,'' lirih Elvano dengan wajah teduhnya.
__ADS_1
Entah ini air mata sedih atau bahagia, yang Alisha tahu dia sangat ingin menangis dan memeluk Elvano.
Di kursi tamu VVIP. Bima, Dion dengan Genk Herkules lainnya turut menjadi saksi pernikahan antara sang ketua dengan gadis tawanannya.
Semua tersenyum bahagia, terkecuali Bima. Hatinya seakan menangis, dadanya terasa sebah. Dia juga tidak tahu kenapa perasaannya tidak rela melihat Alisha menikah dengan Elvano, pria yang paling kejam yang dia kenal.
''Hei! kau kenapa? lihat mereka, walaupun usianya terpaut jauh, mereka tetap terlihat cocok ya!'' seru Dion yang menyenggol lengan Bima.
Bima tersenyum dengan terpaksa, bahkan untuk menjawabnya pun dia sangat enggan.
Andai saja dia mempunyai keberanian yang sama dengan Elvano. Dia akan berlari ke altar sebelum janji suci itu mereka ucapkan dan membawa pergi Alisha dari Elvano.
Tapi dia adalah Elvano, ketua mafia dari geng mereka, pria yang paling kejam di antara mereka, yang tidak mengenal takut, ataupun mati.
Bahkan Elvano tidak memandang siapapun itu, mau itu teman, sahabat ataupun rekan bisnisnya. Jika membuat dia kecewa dan marah semua akan dilibas dengan habis, tanpa ampun.
'Apakah Alisha akan bahagia, ataupun malah sebaliknya?'
Pertanyaan itu lolos dalam lubuk hati Bima.
''Kau ini sebenarnya kenapa, Bima?''
''Hah? oh tidak hanya saja Aku sedang merindukan ibuku,'' kilah Bima.
''Cih, anak mami! kau sudah besar, belajarnya hidup tanpa orang tua!'' celetuk Dion tanpa tersaring.
Bima menoleh dengan cepat, matanya melirik tajam pada Dion yang matanya melihat ke depan.
''Apa maksudmu bicara seperti itu?!''
''Ya?''
Dion mengernyit heran, tidak mengerti kenapa tiba-tiba Bima berbicara sinis padanya. Yang tanpa dia sadari ucapannya tadi telah menyinggung perasaan Bima, yang sedang tidak nyaman berada di sana apalagi melihat Alisha dan Elvano ada di alter pernikahan.
__ADS_1
''Siapa kau! mengatur hubungan ku dengan ibuku!''
Kini semua tamu undangan bukan terfokus pada kedua mempelai tetapi pada dua pria yang ada di kursi VVIP sana.
Elvano juga ikut menoleh, rahangnya menegang. Kesal karena acara pentingnya di ganggu oleh keributan yang tidak penting.
''Dua brengsek ini, apa yang sebenarnya mereka ributkan!'' ucap Elvano dengan garis wajah yang tegas dan berniat untuk menghampiri mereka, tapi sebelum Elvano melangkah, Alisha sudah lebih dulu menahan lengannya dan menggelengkan kepalanya dengan samar.
Elvano seperti terhipnotis dan menurut, mata bundar Alisha benar-benar membuat dia Hilang kesadaran.
''Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri,'' suara manis itu membuat kepala Elvano mengangguk sendiri tanpa ia kendalikan.
Elvano menoleh dan menatap Erik, memberikan perintah melalui sorot mata agar, menyingkirkan dua temannya dulu, dari kursi tamu, karena pastinya akan membuat kegaduhan jika tidak buru-buru ditangani.
''Kalian berdua! ikut aku!'' ucap Erik begitu tegas dan penuh penekanan.
Bima dan Dion pun mengekor dari belakang, yah Erik orang kedua selain Elvano yang mereka takuti. karena bagi mereka elvano dan Erik perbandingannya seperti angka 11 dan 12. Tidak jauh berbeda sama kejamnya, hanya saja Erik masih menggunakan logika ketimbang Elvano yang lebih mendahulukan emosi dari segalanya, dan terbukti, inilah hasilnya karena menggunakan emosi tanpa berpikir panjang, Elvano telah berhasil menikahi Alisha.
Di halaman belakang gedung, Erik membawa Dion dan Bima ke sana. duduk di kursi dengan kaki di atas kaki lainnya. menatap tajam kedua temannya, Bima dan Dion.
''Apa yang sebenarnya kalian debatkan?'' tanya Erik dengan suara yang dingin mengalahkan dinginnya kutub Utara.
''Entah lah, Rik. Aku juga tidak mengerti, tiba-tiba saja Bima membentakku,'' sahut Dion tanpa merasa bersalah.
''Lagi-lagi dia bicara dengan mulut besarnya,'' ucap Bima dengan kesal.
Erik sangat tahu perangai kedua temannya ini. Bima yang tidak akan marah jika tidak ada yang menyinggung perasaannya, dan Dion yang sering sekali berkata tanpa berpikir terlebih dahulu.
''Kalian tahu betul, ini acara penting bagi ketua geng kita. Dan apakah kalian akan mengikuti ego kalian masing-masing sehingga menghancurkan momen bahagia kedua mempelai?''
''Apa kau yakin mereka bahagia?'' celetuk Bima.
Dion yang mendengarnya merasa aneh, tapi berbeda dengan Erik yang sudah tahu apa yang di maksud temannya ini.
__ADS_1
''Bim. Kita sudah bicarakan ini, oke?''
''Ck, baiklah. Aku pamit, ada urusan lain.'' Bima pun berlalu pergi meninggalkan Dion dan Erik yang masih duduk di halaman belakang gedung.