
''Silahkan Tuan, ini semua berkas-berkas ya g perlu di tandatangani, Jeni berikan itu pada tuan ini. Saya tinggal dulu.''
Lita akan berlalu pergi tapi, tangannya di tahan oleh Erik secara spontan. Lita menoleh dengan wajah yang masam. Merasa tidak suka dengan sikap Erik yang menurutnya tidak sopan itu.
''Oh maaf.'' Erik segera menarik tangannya.
''Ada apa Tuan?''
''Bolehkan saya meminta anda saja yang menjelaskan berkas yang mana, ya g harus saya tandatangani?''
''Maaf Tuan, ada nona Jeni disini, beliau yang akan menjelaskannya, benar 'kan Jeni?'' dokter Lita menatap Jeni yang kala itu merasa bingung, karena Erik pun sedang menatapnya namun dengan tatapan yang berbeda.
''M—maaf Dok, saya harus mengantarkan ini ke bangsal kencana,'' ucapnya, yang menyambar sebuah berkas yang entah benar atau memang hanya sebuah alasan.
Ya, karena memang ia sedang dibuat gugup oleh Erik yang menatap tajam kearahnya, mengisyaratkan agar dia pergi dari sana.
''Lho! kok—''
''Anda harus memakluminya, Dok. Ini rumah sakit kecil mungkin saja sedang kekurangan pegawai yang mengharuskan dia untuk mengantarkan berkas itu sendiri,'' timpal Erik yang sedang menyenderkan tubuhnya di dinding pembatas ruang administrasi.
Dokter Lita memicing lalu menghela nafasnya dengan panjang.
''Baiklah, biar saya jelaskan.''
__ADS_1
Dokter cantik itu berbicara panjang lebar, menjelaskan titik-titik mana yang harus Erik tandatangani, dan obat apa yang harus di beli di apotik rumah sakit, juga apa saja yang harus di bayarkan selama pasien berada di sana. Namun ternyata Erik tidak sama sekali mendengarkan penjelasan Dokter Lita, ia justru menyangga dagunya dengan mata yang terkunci di wajah cantik Dokter Lita.
Semula Lita tidak menyadari itu, tapi beberapa saat kemudian ia merasa ada yang aneh karena Erik tidak sama sekali bergeming dari tempatnya selama ia menjelaskan. Pandangannya terangkat, memergoki Erik yang sejak tadi ternyata melamun dengan menatapnya.
Lita mendengus kesal, karena penjelasannya tidak sama sekali Erik perhatikan, Lita merasa waktunya sudah tersita banyak karena ulah pria yang menyebalkan itu.
''Maaf Tuan! apa anda sudah mengerti bagian mana yang harus ditandatangani?'' tanya Lita dengan ketus.
''Hah? iya, kau memang manis,'' celetuk Erik tanpa sadar.
''Apa?? apa sejak tadi saya jelaskan, Anda tidak mendengarkan?''
''Dengar kok, dengar! Jadi yang mana yang saya harus isi?'' Erik menarik berkas itu dengan jarinya, dengan sikap yang salah tingkah dia mencari-cari tulisan tanda tangan, tapi seakan mendadak tulisan di kertas itu buram sehingga membuat Erik tidak dapat membaca dengan jelas.
Lita mendengus dengan kesal lagi, ia tidak mengerti kenapa sikap pria itu sangat aneh. Dengan terpaksa dia pun harus menjelaskan lagi walaupun sebenarnya itu bukanlah tugasnya.
''Sudah, saya isi dulu.'' Kali ini Erik benar-benar mendengarkan dan mengisi berkas kepulangan Alisha karena dia tahu saat ini kita sudah mulai kesal padanya.
Lita menunggu Erik selesai mentanda-tangani dan mengisi beberapa kolom yang harus tertera nama pasien. Berulang Ki ia melirik jam tangannya, karena memang ada satu pasien lagi yang harus ia kunjungi lalu dia harus pergi karena sebuah urusan.
''Ini,'' ucap Erik memberikan berkas itu.
''Baik, nanti ada pasien yang mengantarkan nota dan salinan ini. Saya permisi dulu, ada pasien yang sejak tadi menunggu.'' Lita pun berlalu pergi tanpa menunggu Erik menjawabnya.
__ADS_1
Erik terus menatapnya, menatap punggung wanita berjas putih itu yang semakin menjauh. rambutnya yang terurai dan bergoyang sesuai ritme langkah menambah kesan anggun pada diri dokter muda itu. Terlebih lagi saat ini dia berjalan dengan tangan yang sedang berusaha mengikat rambutnya. Seketika mata Erik terpejam erat, entahlah baginya aura seorang wanita akan terlihat seksi saat ketika memamerkan leher jenjangnya.
''Semoga kita bisa bertemu lagi ya, Cantik.'' Erik pun berlalu setelah lita menghilang di balik pintu yang sepertinya ruangan lain pasien yang dia katakan tadi.
Alisha dan Elvano juga Lusi sudah bersiap untuk pergi meninggalkan rumah sakit, dan Erik lah yang lagi-lagi berada di balik kemudi. Dan kali ini, Alisha tidak pulang kerumah Lusi, melainkan kerumah Elvano. Rumah yang awal Alisha tempati.
''Welcome back to home, honey,'' seru Elvano yang sedang membukakan pintu mobil untuk Alisha.
''Terima kasih, Hubby.''
Lusi yang memperhatikan sikap hangat Elvano pada putrinya tentu merasa senang, dia tenang karena memang Elvano adalah pria yang tepat untuk putrinya. Dia pun heran pada Bima, putra sulungnya. Yang seakan terus berusaha untuk memisahkan mereka.
Lusi tertunduk, mengingat Bima yang sudah beberapa hari ini tidak sama sekali mengabari dirinya. Anaknya ada dimana pun dia tidak tahu.
Berbeda dengan Erik, Lusi yang menatap senang melihat sikap hangat Elvano, justru Erik merasa jengah karena melihat keromantisan yang di tunjukkan mereka didepannya.
''Hadeehh…, berlebihan sekali.''
...----------------...
Mampir juga ke novel teman othor ya 🥰🙏 tidak kalah serunya lho 😘 sambil menunggu Babang Elvano Up 💃
Judulnya : Tawanan Presdir Kejam
__ADS_1
Author nya : Asri Faris