
Dengan kaki dan tangan yang sudah gemetar, Alisha memberanikan dirinya masuk lebih dalam lagi. Dan disana beberapa orang sedang mengelilingi brangkar dengan pakaian sama yang ia kenakan, berwarna biru dan putih ciri khas rumah sakit standar OK.
Seluruh tubuhnya menjadi dingin, dan semua mata tertuju padanya, gugup! sudah pasti. Tapi Alisha sudah sangat pasrah kalau memang dirinya sekarang juga akan di suntik mati, dan diambil jantungnya untuk menggantikan jantung Elvano yang tertembak karena dirinya.
''Dok, saya siap!'' ucap Alisha setelah menghela nafasnya dengan panjang.
''Siap apa kamu?''
'Hah? suara itu?'
Alisha melihat satu persatu wajah di balik masker, siapa yang memanggilnya? dan saat matanya melihat ke atas ranjang, dan ternyata Elvano tengah menatap kearahnya dengan tangannya yang memintanya untuk datang padanya.
"Tuan kau tidak mati kan?"
Pertanyaan Alisha membuat beberapa dokter dan perawat disana membelalak. Pertanyaan itu tentu akan membuat siapapun marah terlebih lagi itu adalah Elvano yang mereka tahu kalau Elvano adalah orang yang berkuasa dan disegani.
Bahkan ada perawat wanita yang sudah menutup matanya karena membayangkan kalau Elvano akan mengamuk, yang semestinya mereka juga tidak berpikir seperti itu karena kondisi Elvano yang tidaklah mungkin untuk mengamuk.
''Jangan banyak tanya! aku mau kau tetap disini. Dan saksikan prosesnya!''
Elvano mengeluarkan sebuah borgol dari laci meja yang ada di sebelah ranjangnya lalu mengikatkan borgol tersebut pada pergelangan tangan kanan Alisha dan satunya ia kaitkan ke ranjang itu.
__ADS_1
Alisha hanya diam terus memperhatikan apa yang Elvano lakukan dengan posisi terlentang yang seharusnya tidak berdaya untuk melakukan apapun, tapi ini beda! ini adalah George Elvano Abraham.
Di kondisi nafasnya yang sudah berat ia masih aktif bergerak walau terkadang rasa nyeri pun melanda tapi para dokter sudah sangat mengenal Elvano karena bukan pertama kalinya ini dia memasuki ruang operasi.
Elvano memberikan kode pada satu dokter yang berdiri di belakang Alisa, untuk memulai tindakan operasi pengangkatan amunisi yang bersarang di luar jantungnya.
Alisha sebenarnya merasa mual karena dia melihat banyaknya darah, juga gunting dan pisau yang di letakkan di atas meja dan setelah memastikan Elvano sudah tertidur karena sebuah suntikan bius. Para dokter memberikan cubitan kecil untuk menguji kekebalan bius yang diberikan mereka.
Dan setelah memastikan sudah benar-benar aman dokter pun meraih pisau bedah dan langsung mengiris bagian ari, mata Alisha tertutup dengan benar-benar dia melihat itu semua dari mulai mengiris kulit Elvano dan menjepitnya dengan sebuah jepitan berwarna silver.
Lima jam lamanya operasi itu berlangsung, dan lima jam pula Alisha tidak beranjak dari duduknya bahkan ia tidak merasa lelah karena duduk di kursi samping berangkar.
Operasi pun telah selesai dengan diakhiri seorang dokter yang menjahit dada sebelah kirinya. Semua berjalan lancar tidak ada hambatan ataupun insiden yang tidak diinginkan.
''Tuan, kenapa dia belum juga membuka matanya?'' tanya Alisha pada Erik.
''Dan nyawa mu akan menjadi gantinya!!''
Alisha terdiam lagi, kepalanya ia tundukan karena merasa malu.
Elvano mengerjapkan matanya, tangannya bergerak yang sudah dipastikan kalau Elvano memang sudah waktunya siuman.
__ADS_1
Dan pertama kali yang mereka dengar, adalah! suara lemah Elvano yang bergumam.
''Aku haus!''
Alisha yang akan bergerak untuk mengambilkan minum Elvano justru malah didahului oleh Erik.
''Kau diam disini. Paham!'' Alisha mengangguk dengan yakin.
Alisha berjalan kearahnya, lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang.
''Tuan...''
''Ada apa?''
''Aku ingin berterima kasih padamu.''
''Tidak peduli!''
''Tuan, aku tidak akan pergi lagi, tapi dengan syarat.''
''Apa itu?''
__ADS_1
''Aku ingin tahu kabar bibiku yang entah berada dimana setelah pertemuan terakhir kami malam itu.''
''Dia bukan bibi mu, dia diperintahkan oleh Deva. Bibi mu ada di panti, dan orang tuamu juga masih hidup, jadi jangan pernah percaya pada ucapannya! paham!''