
Dion tengah duduk di kursi tamu vvip, di sebuah bangunan Club malam yang terkenal disana selain milik Elvano. Di depannya terdapat tiga orang pria yang tengah berlutut dengan wajah yang ketakutan. Sungguh, Dion sangat ingin tertatawa saat ini, karenan ternyata pengaruh Elvano sangat besar baginya, buktinya saat ini dia sudah di takuti oleh pengusaha dunia bawah juga.
"Maafkan kelalian karyawan kami, Tuan. Kami benar-benar tidak tahu masalah ini. Kami mohon jangan adukan ke Tuan George," ucap salasatu dari tiga pria didepannya. Dion Menyeringai mendengarnya mendengarnya.
"Kalian tau sekarang, yang kalian usir seperti binatang itu siapa?" mereka mengangguk cepat.
"Dia kakak ipar Tuan George, bagaimana jadinya kalau dia mengetahuinya. Mungkin saja tempat kumuh ini akan di ratakan dengan tanah," ucap Dion menak-nakuti mereka yang semakin dibuat ketakutan.
"Saya mohon jangan Tuan, ini tempat kami mencari makan, Tuan bole meminta apapun pada kami asal jangan adukan kami pada tuan George."
Dion terkekeh di dalam hatinya, bahkan kalaupun dia tidak mengadukannya, Elvano akan mengetahuinya sendiri, tapi memang kali ini memang dialah yang memberitahu Elvano.
"Tuan begini saja, kami memiliki daun muda yang masih fresh, Anda bisa memilihnya atau bila perlu Anda bisa mengmabilnya semua." Dion memicing, ia membungkuk dengan tatapan tajam ke arah mereka.
"Apa kau sedang menyuap ku?"
"Tidak, jika Tuan tidak menginginkannya saya bisa memberikan yang lain," ucapnya begitu gugup.
"Cih sama saja." Dion menggedikan kepalanya dan mereka mengerti arti dari gedikan kepala Dion itu, yang kemudian mereka segera beranjak pergi entah kemana.
Yang lain pun memanggil pelayan disana untuk memberikan minuman yang paling mahal disana untuk disuguhkan kepada Dion yang sedang duduk dengan merentangkan tangannya di sandaran sofa.
*
Ditempat lain, tepatnya di global enterprise. Erik masih duduk disana, di ruangan direktur perusahaan itu. Berbeda dari nasib Dion yang sedang di rajakan oleh pemilik Club, justru Erik tengah bersitegang dengan direktur disana.
__ADS_1
"Kau yakin tidak akan menarik berita yang tersebar itu?"
"Sangat yakin, karena berita itu menghasilkan pundi-pundi uang untukku. Bukankah jika aku menarik berita itu akan membuat kerugian bagi perusaan ku?" Erik mendengus kesal mendengarnya. Tapi dia tidak kehabisan akal.
Dengan santainya ia duduk merentangkan tangannya lalu merogoh saku jasnya mengambil sesuatu di sana.
GREKK!!
Mata direktur GE itu terbelalak seakan ingin menggelinding keluar, peluhnya bermunculan dan rona wajahnya pun berubah seketika. "A-apa Anda sedang mengancam ku?"
"HAHAHA! Mengancam? tidak! karena aku tidak pernah berselera untuk mengancam seseorang."
"Ba-baik, akan saya hapus berita itu, dan mulai besok tidak akan ada berita apapun tentang anggota Anda."
Dengan giginya ia melepaskan kain putih yang membalut luka di tangannya, dan sedikit menekennya sehingga membuat darah itu kembali keluar, bibirya kembali tersenyum dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatannya yang tinggi.
Hingga mobilnya pun berhenti tepat di lobby rumah sakit kecil, yang pernah ia datangi saat membawa Alisha. Dengan gaya swagnya ia keluar mobil, berjalan dengan gagahnya. Para pasang mata terus menatap ke arahnya. Siapa yang tidak akan terpanah melihat pria berwajah tampan dengan kaca mata hitam yang bertengger dihidung mancungnya, penampilannya pun membuat semua orang gagal fokus terlebih lagi ia berjalan dengan santai walaupun ditangannya terdapat luka yang cukup parah. Dan itu dapat dilihat karena darah yang mengalir sampai mengotori lantai rumah sakkit.
"Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu," ucap seorang perawat.
"Tangan saya terluka, bisa panggilakn Dokter Lita."
Ucapan Erik membuat perawat itu terheran-heran, "Dokter Lita?"
"Iya! dokter Lita, bisa Anda panggilkan dia," ulang Erik sedikit kesal.
__ADS_1
Perawat itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung dengan permintaan Erik yang meminta Dokter Lita untuk mengobati lukanya, karena yang dia tahu kalau disana Dokter yang bernama Lita adalah Dokter OBGYN bukan Dokter umum.
"Tapi Tuan, dokter Lita bukan Dokter Umum tetapi beliau adalah Dokter kandungan. Kalau Anda mau saya bisa mengantarkan Anda ke dokter umum."
Erik terdiam, sungguh ia saat ini merasa sangat bodoh, kenapa dia bisa seceroboh itu. Wajahnya memerah karena malu, tapi bukanlah Eerik jika cepat menyerah. Dengan rasa mallu yang tersisah iapun tetap keukeuh untuk di pertemukan dengan dokter Lita.
Yang akhirnya perawat itupun menyerah dan segera mengantarkan Erik untuk keruangan Dokter Lita yang bertuliskan disana, DOKTER OBGYN. Malu Erik sudah tidak bisa diukur, pria memasuki ruangan pemeriksaan kandungan? sungguh ironis! tapi ia cukup beruntung karena keadaan rumah sakit sedang sepi tidak sepertii biasanya sehingga membuatnya bisa bernapas sedikit lebih lega.
"Kau bisa pergi, saya bisa sendiri," ucap Erik begitu dingin pada perawat itu.
"Baik Tuan."
Erik membuka puintu ruangan Lita setelah mengetuknya terlebuh dahulu, yang disana Lita tengah berkemas.
"Ya silahkan duduk Nyon-" ucapan Lita tergantung karena ternyata yang datang bukanlah seorang wanita melainkan seorang pria.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Hay teman-teman, mampir juga ke novel teman Nuna ya... Di jamin seru..
Judulnya : Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa
Authornya : Reni t
__ADS_1